“Sejarah adalah ratu ilmu Pengetahuan” (Thompson) 

SUMPAH PEMUDA INDONESIA

Kami Putra Putri Indonesia Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia

Kami Putra Putri Indenesia Bertanah air Satu, Tanah Air Indonesia

Kami Putra Putra Indonesia Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia 

riopurboyo.com

Macarita – Posisi geografis Indonesia yang sangat strategis yang di apit oleh dua benua dan dua samudra dengan kekayaan alam yang melimpah: Tambang, Minyak, Rotan, Rempah-rempah dan hasil alam lainnya, ini menjadi ketertarikan tersensendiri dari bangsa-bangsa barat melakukan penjelajahan dunia dengan tujuan mencari negeri jajahan baru dan kejayaan baru. Dari berbagai Negara barat dengan strategi penjajahan membuat Indonesia takluk di bawah hegemoninya. Setelah sekian lama Indonesia terkungkung di bawah imprealis bangsa asing, masyarakat yang sekian lama tercengkram, dengan berbagai strategi politik penjajahan asing. Kecendurungan itu melahirgan gerakan-gerakan baru yang terlahir dari elemen pemuda pemudi Indonesia melalui ngerakan praktis maupun gerakan-gerakan yang tersembunyi.

Baca Juga; Sejarah Mahasiswa Gondrong; Spirit Perlawanan Masa Orde Baru

Dalam catatan sejarah telah terangkum berbagai cerita dan kisah perjuangan pemuda, memperebutkan kemerdekaan yang menjadi harga mati suatu bangsa dan Negara. Perjuangan yang di mulai dari pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan tak lain adalah sebuah bentuk pembebasan masyarakat dari penjahan bangsa asing. Jenjang waktu yang begitu lama gerakan pemuda tak pernah terhenti di tengah jalan, suatu peristiwa pada tanggal 20 mei tahun 1908 di STOVIA Belanda yang kita kenal dengan peristiwa berdirinya organisasi kepemudaan yaitu Budi Utomo yang di motori oleh tokoh-tokoh pemuda (Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman) sebagai bentuk sikap kritis pemuda terhadap sistem kolonialisme Belanda atas penguasaan terhadap Sumber Daya Alam yang ada di Indonesia. Kemudian pada tahun 1926, terbentuklah organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang merupakan organisasi yang berusaha untuk menghimpun seluruh pemuda di Indonesia dan lebih menyuarakan yang namanya wawasan kebangsaan dalam diri Kepemudaan. Hal tersebutlah yang kemudian mereka realisasikan dengan menyelenggarakan sebuah kongres paling bersejarah dalam dunia kepemudaan di tanah air ini, yaitu Kongres Pemuda II yang berlangsung di Jakarta pada tanggal 26-28 Oktober 1928 yang kemudian menghasilkan sumpah pemuda yang sangat bersejarah. Sehingga puncak perjuangan citacitanya tercapai dalam suatu gerakan yang telah di lakukan oleh pemuda-pemuda Indonesia pada tahun 1945 yang di tandai sebagai peristiwa Rengasdengklok yang melahirkan tokoh tokoh yang berpengaruh dalam peristiwa ini (Soekarni dan Chairul Saleh) yang nantinya bakal menjadi motor penggerak penting munculnya kemerdekaan bangsa Indonesia. Tokoh-tokoh tersebut secara radikal dan melalui pergerakan bawah tanah melakukan desakan kepada Soekarno dan Mohammad Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan setelah mereka mendengar bahwa telah terjadi insiden bom atom di ke dua kota besar di Jepang, dan dengan itu merekapun berpikir bahwa inilah saat yang tepat untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Begitupun di tahun 1998 setelah pasca kemerdekaan, gerakan pemmuda kembali mencuat dengan tumbangnya Orde Baru ditandai dengan lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan, tepatnya pada tanggal 12 mei 1998 yang diawali dengan terjadi krisis moneter di pertengahan tahun 1997 yang mengakibatkan hargaharga kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakatpun berkurang. Pemuda mulai gerah dengan penguasa ORBA, tuntutan REFORMASI dengan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional gerakan pemuda mendapat simpati dan dukungan yang luar biasa dari halayak umum.

Baca juga; Wajah Mahasiswa di Era-Reformasi

Sekarang kita berada di era Modernisasi yang telah mendorong transformasi diri lembaga akademik. Sehingga Kapitalisme sebagai jiwa pokok yang mengglobal memaksa lembaga akademik menjadi kapitalisme akademis. ketika Max Weber mengatakan kehidupan modernisasi bagai kerangkeng besi yang tidak memiliki pintu keluar. Hal ini semakin sulit kita melepaskan diri dalam pusaran kapitalisme dan korporasi global. Yang telah menyebabkan jati diri pemuda mulai hilang, ruang serak pemuda mulai sempit, jiwa Nasionalisme mulai redup terkubur zaman, Lembaran-lembaran sejarah menjadi kusam, pemuda mulai berkompetisi dalam perang budaya, hegemoni dan saling mendominasi. Untuk itulah dengan menjawab tantangan yang di hadapi pemuda, menurut konsepsi penulis, bahwa sesungguhnya gerakan social itu terlahir bukan dari kaum mayoritas tetapi gerakan social itu terlahir dari kaum minoritas, sebagaimana mengutip pernyataan Arnold Toynbe (dalam Universal: 155) bahwa golongan minoritas merupakan pencipta peradaban, sementara golongan mayoritas hanyalah meniru dan mengikut saja. Tanpa golongan minoritas, suatu peradaban tak akan berkembang. Jika golongan minoritas gagal atau menyerah dalam menjawab tantangan alam dan tantangan social, maka peradaban akan stagnan. Puncak dari stagnasi itu berujung pada runtuhnya peradaban. Dan semoga golongan minoritas berhasil membangun peradaban baru untuk menciptakan generasi penerus baru yang militan serta masyarakat yang berperadaban. Wasalam! [Gorontalo, 27/10/2015]

Baca Juga; Dari Literasi Kita Membangun Peradaban

Iklan