Jika anda menjadi singa, anda dapat menaklukan dunia dan anda akan mendapatkan apa yang anda inginkan. Tetapi jika anda hanya bisa menjadi kambing anda akan terjajah dan tertindas oleh kerasnya jaman seiring berjalannya waktu.

Macarita – Sejarah sebagai cerminan gerakan mahasiswa hari ini, dimana tuntutan reformasi di tahun 1998 yang di tandai sebagai tumbangnya rezim orde baru, tidak terlepas dari peran seorang mahasiswa. Persatuan mahasiswa dari berbagai elemen gerakan berhasil mengantarkan mereka sampai pada puncaknya. Dalam kehidupan kampus pada saat itu, aktivitas diskusi, dialog, demonstrasi mewarnai sudut-sudut kampus. Yel-yel, lagu pergerakan, sumpah mahasiswa dan tridarma perguruan tinggi menjadi sebuah slogan yang berhasil membakar semangat perjuangan mereka pada saat itu. Bahkan pernah di culik, dibunuh serta darah dan nyawapun rela dipertaruhkan. Peristiwa trisakti, malari itu merupakan saksi tentang jejak-jejak nyata pengorbanan para mahasiswa dikala itu. Dan masih banyak sejarah gerakan mahasiswa yang sebelumnya termasuk pada tahun 1928 yang melahirkan sebuah label yang di namakan sebagai sumpah pemuda sebagai bentuk penyatuan seluruh pemuda dari belahan bumi nusantara untuk mengusir penjajahan kolonialis sebagai tujuan utamannya.

Baca juga; GUdikan DANGkar GARApan Mahasiswa

Namun pada akhirnya mahasiswa kini telah lupa mana kawan dan mana lawannya. Mahasiswa tidak lagi mejadi seorang advokasi untuk menggerakkan massa (masyarakat) dalam bentuk sosialisasi wacana, penyadaran, pemberdayaan ataupun pendampingan sebagai bagian dari terwujudnya civil society. Ia tidak lagi menyadari bahwa fungsi dasar sebagai seorang mahasiswa adalah bergelut dengan ilmu pengetahuan dan memberikan perubahan yang lebih baik dengan intelektualitasnya yang dimiliki selama menjalani pendidikan. Benar di ramal oleh seorang Luis Altuser, bahwasanya sekarang mahasiswa menjadi hedonis, apatis dan pragmatis.

Ini akibat dari sebuah jaman baru dimana kesadaran dan kecerdasan di runtuhkan oleh perkembangan teknologi yang menimbulkan sikap kritis individu mahasiswa mulai hilang di telan zaman. Tak tersadar, seakan individu ingin kembali ke masa nomaden yang naif dan meninggalkan sikap kritisnya terhadap kesadaran. Seorang Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya tentang Tetralogi Buruh: Anak semua bangsa pernah mengulas hal penting ini:

Baca juga;  Kritik Atas Mahasiswa Aktivis

Dulu suatu bangsa bisa hidup aman di tengah-tengah padang pasir atau hutan. Sekarang tidak. Ilmu pengetahuan modern mengusik siapa saja dari keamanan & kedamaiannya. Juga manusia sebagai mahluk sosial dan individu tidak lagi bisa merasa aman. Dia dikejar-kejar selalu, karena ilmu pengetahuan modern memberikan inspirasi dan nafsu untutk menguasai alam dan manusia sekaligus. Tak ada kekuatan lain yang bisa menghentikan nafsu berkuasa ini kecuali ilmu pengetahuan itu sendiri yang lebih unggul, di tangan manusia yang lebih berbudi…

Kampus yang sekarang telah berhasil mengubur dalam-dalam arwah intelektual mahasiswa dengan cara tekanan mental. Begitu ketatnya sistem kampus yang mencekik dari berbagai lini, membuat semakin sempit ruang gerak dalam berekspresi untuk bebas berpikir dan bertindak kritis. Bahkan organisasi kemahasiswaanpun mengalami kefakuman dan kekakuan dalam berwacana, maupun bertindak tidak lagi terlihat. Dengan pengekangan sistem kampus terhadap ruang gerak mahasiswa, menyebabkan mahasiswa kehilangan kiblat gerakannya. Dan bahkan menghilangkan hakikat kemanusiaannya sebagai mahluk sosial yang bertanggung jawab sebagai agen of change sebagaimana cita-cita dari sejarah pergerakan. Kematian organisasi kemahasiswaan sebagai akibat dari matinya daya kritis anggota yang tak sanggup menghadang gelombang modernisasi yang sengaja mencengkram mahasiswa dari sisi kehidupan sosialnya.

Baca juga; LUDO (LUapan Doktrin Oncer)

Kampus kini menjadikan individu mahasiswa menjadi petarung stail, materi dan bukan petarung intelektual. Namun ada juga sebagian kecil mahasiswa di setiap universitas yang jumlahnya dapat di hitung dengan jari, masih memiliki kesadaran akan problem realitas yang di hadapi, ini yang di sebut Arnold Toynbe sebagai minoritas kreatif di kalangan mahasiswa. Minoritas mahasiswa yang peka terhadap realitas, berusaha menyadarkan dan mempengaruhi kalangan mayoritas untuk menerobos masuk di dunia kampus dengan gerakan bawah tanahnya demi memperjuangkan kewajiban kemahasiswaannya, melalui tulisan-tulisan, demonstrasi, lempar wacana dan diskusi-diskusi tersembunyi. Tetapi masih saja di perhadapkan dengan ancaman nilai, jika tulisan-tulisan atau lontaran kritiknya dapat melukai hati seorang dosen.  Perbudakan akan terjadi ketika pemberlakuan aturan kampus bukan untuk membentuk kedisiplinan mahasiswa tapi mengekang ruang gerak mahasiswa. Aturan kampus yang ketat menciptakan mentalitas mahasiswa menjadi mental penakut dan penurut. Memaksakan semangat mahasiswa lebih rajin kuliah dan rela mendengarkan dongeng seorang dosen yang omong kosong dan membosankan tanpa ada pesan-pesan moral yang di sampaikan.

Baca juga; Warung Kopi, Wifi, dan Percakapan Singkat Mahasiswa

Dalam ruang lingkup kehidupan kampus, ada sebagian organisasi yang masih memertahankan sikap kritisnya dengan menggunakan area kampus sebagai ladang untuk kegiatan diskusi, sebagian lagi ada gerombolan kelompok mahasiswa yang menggunakan area kampus sebagai tempat bernyanyi dan karaoke, ada juga menjadikan kampus sebagai pasar pameran produk-produk baru. Jarang terlihat aktifitas mahasiswa yang bergerak dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan intelektual, dan bahkan ada kebijakan dari birokrat kampus tentang batasan aktifitas mahasiswa di malam hari. Sekuriti sebagai keamanan kampus yang di tugaskan untuk menjalankan/menegakkan peraturan tersebut. Akibatnya mahasiswa di usir keluar jika beraktifitas di malam hari telah melewati batas waktu yang di tentukan. (baca di sini)

Sebagaimana sebuah cerita pengalaman penulis sewaktu sedang nongkrong sambil chating Google di kampus UNG di malam bulan mei 2016 waktu itu. Seketika  ada sebuah cahaya Lapu motor terpantul dan menerangi area sekitar, terkaget ketika bunyi sepatu seakan menuju ke arah penulis.  Penulis di sapa tanpa salam dengan (logat Gorontalo), ucapnya:

Baca juga;  Mahasiswa yang di rantau?

Skrt     : bung so bole jo aa, so jam 10 ini..!

Dns     : saya minta waktu 15 menit ya pak! Soalnya ada cari materi saya pak.

Skrt     : so batas waktu ini, ini olo som lewat setengah jam.

Dns    : iya pak, ini som pulang saya pak, nanti de pe donload ini selesai dulu ya pak.  Napa ini jaringan som loding olo.

Skrt     : “orang mana ngana so?”        

Dns     : “orang ……….. saya pak”.

Sekrt   : “pantasan. Jang kuat balawang ngana aaaa!”

Dns     : “iya pak. Tapi pak, kenapa bisa ada aturan batasan waktu bagi mahasiswa yang beraktifitas malam? Saya di sini hanya duduk diam deng barmaeng leptop nyanda basuara, tapi saya di usir dengan alasan lewat batas waktu. Coba liat disana pak! (penulis menunjukan arah pandangan sekuriti ke arah sekelompok mahasiswa yang sedang asik dengan karokeannya). Di sana ada sebagian mahasiswa deng shound, toa, dorang bakaroke akan sampe pagi tapi nda ada yang mo barani ba tegor apalagi bausir. Pak, ini kampus pak! Bukan diskotik atau studio mo bakaroke akan”.

Skrt     : “maaf uty aaa! Torang di sini Cuma mo jalankan perintah. So bagini ini torang pe tugas. Iko kasana jo dulu uty aaaa!” (tandasnya, dengan ekspresi seakan tak lagi mampu menyanggah bicara penulis).

Dns     : “oke pak.. som pulang saya”

Kampus sebagai tempat pelatihan fisik para klompotan Menwa dan para kelompok pencaksilat, kampus sebagai tempat para artis pemula dikalangan mahasiswa dengan suaranya membosankan di dengar. Ini menandakan bahwa kampus tidak lagi memiliki daya tarik untuk berpetualang mengembangkan intelektualitas mahasiswa. Julia banda dalam bukunya Eko Prosetio “Bangkitlah Gerakan Mahasiswa” (2015:270) pernah mengatakan seorang intelektual…. harus menemukan kepuasan dalam mempraktekkan seni atau ilmu pengetahuan. Jika individu mahasiswa tidak mampu memposisikan diri, maka dengan mudah tergusur oleh perkembangan yang ada. Ia akan menjadi budak, dan  mudah di perbudak.

Baca juga; Membuka Jendela Dunia

Terima kasih, kesan terakhir dari penulis:

Mari kita bangkit, di kala semua orang masih tertidur nyenyak..

Kita akan menulis di kala sejarah tak lagi dikenal…

Kita akan membaca di kala semua orang telah menutup lembaran bukunya..

Dan kita akan bersuara di kala semua orang telah mengalami kefakuman…  

Gorontalo, 06 Juni 2016

 

Iklan