Riwayat Hidup

comteMacarita – Pernahkah anda mendengar tokoh yang satu ini? Siapa yang tidak mengenalnya bagi pencinta ilmu filsafat positivis, apa lagi anda yang telah banyak bergelut dalam ilmu sosiologi, seorang pribadi berkelahiran Montpellier, di sebuah kota kecil di bagian barat daya prancis[1] pada tanggal 19 januari 1798, yang di klaim sebagai bapak sosiologi yang merupakan orang pertama kali menggunakan istilah sosiologi dalam dunia ilmu pengetahuan dan berhasil menspesifikasi ilmu sosiologi dari disiplin ilmu lainnya. Sesosok Seorang Aguste Comte yang memiliki nama aslinya sebagai Isidore Marie Auguste François Xavier Comte yang terlahir dari keluarga yang bersal dari kelas menengah, dan telah mengakhiri hidupnya di paris, prancis pada tanggal 5 september 1857 setelah menjalani hidupnya selama 59 tahun dalam dunia pendidikan.

Pendidikan awalnya ia tempuh di kota kelahirannya. Kemudian di usia 25 tahun, ia melanjutkan studinya di politeknik Ecole, Paris. Pada tahun 1818, ia kembali ke kota kelahirannya dan mengambil sekolah kedokteran. Di masa hidupnya, caroline masssih seorang bekas pelacur yang kemudian dijadikan istrinya, dan memiliki peran besar dalam menstabilkan kondisi fisiknya yang divonis telah menderita penyakit jiwa sehingga ia sempat di larikan ke rumah sakit jiwa pada tahun 1826. Tetapi sangat di sayangkan karena pada tahun 1824 ia berceraih dengan masssih karna dengan alasan ia di fonis sakit jiwa dan sehingga ia dikenal pemarah, arogan, dan kejam. Sekitar setahun lebih masa penceraiannya, tepat pada tahun 1844 ia kembali menjalani hubungan asmara dengan Clotilde de Vaux.[2]

Comte adalah seorang mahasiswa yang cerdas, namun tidak pernah mendapatkan izasah sarjananya. Ia dan seluruh mahasiswa seangkatannya dikeluarkan dari Ecole Polytechnique karena gagasan politik dan pembangkangan mereka. Pemberhentian ini berdampak karir akademis comte. Pada tahun 1817 ia menjadi sekretaris dan anak angkat Hendri Saint-Simon, seorang filsuf yang empat puluh tahun lebih tua dari comte. Mereka bekerja sama selama beberapa tahun dan comte mengakui besarnya utang pada Saint-Simon: “aku benar-benar berhutang secara intelektual pasa Saint-Simon… ia banyak berperan dalam mengenalkan aku ke wilayah filsafat yang kini aku ciptakan untuk diriku sendiri dan yang tanpa ragu, aku jalani seumur hidupku”. Namun pada tahun 1824, mereka bertengkar karena comte yakin bahwa saint-simon ingin menghapuskan nama comte dari daftar ucapan terimakasihnya. Kemudian comte menulis bahwa hubungannya dengan Saint-Simon “Mengerikan” dan menggambarkannya sebagai “penipu hina”. Pada tahun 1852 comte berkata tentang saint-simon, “aku tidak berhutang apa pun pada orang ini”.[3] Pemisahan diri dengan Saint  Simon terjadi manakala Comte kemudian ai menerbitkan buku “Sistem Politik Positif” tahun 1824. Pada tahun 1830 seri “Filsafat Positif” yang ia susun diterbitkan, dan kemudian menyusul seri-seri berikutnya sampai dengan tahun 1842.[4]

Comte sangat terusik oleh anarki yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat prancis dan bersikap kritis terhadap pemikir yang menumbuhkembangkan pencerahan atau revolisi. Ia mengembangkan pandangan ilmiahnya positivisme, atau filsafat positif, untuk menyerang apa yang di pandangnya sebagai filsafat negatif dan dekonstruktif dari pencerahan.[5] Selain itu, pemikiran Comte membawa pengaruh besar pada beberapa teoritisi sosiologi khususnya Herbert Spencer, dan Emile Durkheim. Ia percaya bahwa studi sosiologi harus ilmiah, sebagaimana di rintis teoritisi klasik dan sosiologi-sosiologi kontemporer.[6] Sehingganya dengan itu, menurutnya sosiologi atau ilmu sosial lainya untuk dapat dikatakan sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang ilmiah harus menggunakan metode-metode ilmu alam. Dalam pandangan positivismenya Comte kemudian berpendapat bahwa manusia itu mengalamai evolusi atau mengalami tahap kemajuan dalam berfikir. Nah comte itu kemudian merumuskan perkembangan manusia menjadi 3 tahap atau jenjang.[7]

Tentang Hukum Tiga Tahap

  1. Tahap teologis

Tahap ini merupakan periode terlama dalam sejarah. Karena awal mula pekembangan akal budi manusia memakai gagasan keagamaan yang belum adanya penguasaan atas makhluk lain.[8] Pada tahap pertama ini, muncul sebelum era 1300 bahwa keyakinan masyarakat tentang segala sesuatu masih di kendalikan oleh kekuatan supranatural yang demikian di yakini oleh masyarakat tentang dewa, roh dan tuhan. Ada tiga periode kepercayaan yang di anut oleh masyarakat pada tahap ini masih bersifat irasional tentang hal-hal mutlak dalam meyakini gejala alam yang terjadi di sekitar kehidupan masyarakat di antaranya:

  • Periode Fetisisme dandinamisme

Pada periode ini masyarakat manusia meyakini bahwa alam semesta mempunyai jiwa-jiwa tersendiri yang mampu mengendalikannya. Kecenderungan kepercayaan masyarakat tentang animisme, bahwa dunia merupakan tempat hidup para bangsa roh-roh halus yang turut hidup bersama masyarakat, yang sering kali terlihat di mana masyarakat pada periode ini selalu mengadakan upacara penyembahan kepada roh-roh halus untuk meminta bantuan atau perlindungan dari marabahaya yang menimpa mereka.

  • Periode politeisme

Pada periode ini, kepercayaan masyarakat mengalami perkembangan tentang gejala alam semesta memiliki spesifikasi keberagaman masing-masing, sebagai contoh di setiap benda baik itu batu, pohon, gunung, memiliki dewa-dewa masing-masing yang terus mengontrol dan mengendalikan semua gejala alam tersebut.

  • Periode monotoisme

Peiode ini mengalami perkembangan di abab pertengahan dan masyarakat lebih cenderung menganggapnya bahwa segala alam semesta hanya memiliki satu tuhan yang mengendalikan semua benda dan alam sekitar.

Walaupun tahap teologis ini memiliki tahap perkembangan pemahaman, namun comte masih tetap saja menganggapnya sebagai pemahaman yang keanak-anakan.[9]

        2. Tahap Metafisik

Tahap ini telah mengalami perkembangan akal budi manusia di mana, tahap ini adalah masa tahap transisi antara tahap teologis dan tahap positivis. Pada tahap metafisik, berkembang sekitar  antara tahun 1300-1800. Pada tahap ini juga, mayarakat dalam menafsirkan segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan sosialnya termasuk hukum-hukum alam telah dapat  di kendalikan oleh akal budi, termasuk pada setiap benda-benda yang di yakini oleh masyarakat.

Masyarakat pada tahap ini berkeyakinan bahwa kekuatan abstrak dan bukan personikasi Tuhan adalah sumber kekuatan fisik maupun sosial. Dengan kata lain, dalam mencoba menjelaskan berbagai peristiwa dan fenomena alam, manusia mencoba melakukan abstraksi dengan kekuatan akal-budinya, sehingga diperoleh pengertian-pengertian metafisis. Prinsip-prinsip penjelasan tentang realitas, fenomena dan berbagai peristiwa dicari dari alam itu sendiri. Namun, oleh karena penjelasan yang dilakukan belum bersifat empirik, maka cara menjelaskan berbagai realm, kemudian itu tidak berhasil membuahkan ilmu pengetahuan baru, dan belum dapat menjelaskan hukum alam, kodrat manusia, keharusan mutlak dan berbagai pengertian lainnya. Sehingga, menurut Comte, cara berfikir metafisik ini sebenarnya adalah pengertian nama saja dari cara berfikir teologis. Baginya, cara berfikir manusia harus keluar dari tradisi teologis maupun metafisik untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat dijadikan sebagai sarana mencari kebenaran.[10]

        3. Tahap Positif

Manusia tumbuh menjadi kekuatan yang mampu menggunakan akal budinya untuk menemukan pengetahuan baru. Dalam tahap inilah pemikiran positivistik, empirik dan naturalistik menggantikan otoritas pengetahuan teologis, serta pengetahuan metafisis.[11] Pada tahap ini, terjadi perkembangan pemikiran akal budi manusia tentang gejala alam yang terjadi di sekitar kehidupan manusia berdasarkan bukti empiris yang di dasari dengan observasi atau penelitian ilmiah untuk menemukan keteraturan dunia fisik maupun sosial harus dapat dibuktikan secara faktual. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di segala bidang menjadikan pemikiran masyarakat tentang sebab mutlak yang terjadi untuk menemukan hukum yang mengatur alam semesta melalui penelitian empiris.

Sekilas Tentang Sosiologi Comte

Masyarakat merupakan sekelompok individu manusia yang hidup selalu berhubungan diantara yang satu dengan yang lainnya atas dasar sebuah cita-cita ataupun kepentingan bersama. Di dalam masyarakat yang hidup berkelompok, memiliki budaya, kebiasaan, dan tradisi-tradisi yang mengatur seluruh nilai-niai dan norma sosial serta perilaku sosial masyarakat secara fungsional dalam kehidupan sosial. Itulah yang dipelajari dalam ilmu sosiologi. Sesiologi sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang menurut aguste Comte (dalam bukunya Masykur Arif Rahman2013 “Buku Pintar Belajar Sejarah  Filsafat Barat”) manganggap ilmu sosiologi sebagai puncak dari perkembangan pengetahuan manusia. Menurutnya hal ini terjadi karena sosiologi lahir pada masa positif yang bersih dari pemahaman teologis dan metafisis. Istilah sosiologi ini berasal dari comte sendiri, yaitu ilmu yang mengkaji perilaku dan hubungan masyarakat demi kemajuan umat manusia.[12]

Sebuah ulasan yang di tulis Alan Sica (dalam: Ritzer, 2012) mengatakan bahwa secara historis, asal usul sosiologi secara resmi bermula pada hari sabtu tanggal 27 april 1839 ketika pada saat itu Aguste Comte menemukan kata sosiologi, di mana sejarah sosiologi bisa di sajikan dengan beberapa cara, masing-masing fersi menampilkan bukti kuat untuk menopang klaim kebenarannya. Karena itu, asal-usul sosiologi yang bergantung pada cara menginterpretasikan kata tersebut, tumbuh dari dari pemikiran-pemikiran paling sistematis paling awal tentang perilaku sosial yang masih kita miliki catatannya.[13] Comte membagi sosiologi menjadi dua jenis yaitu statistika sosial dan dinamika sosial. Statistika sosial yang mempelajari tatanan sosial dan hukum-hukum yang mengaturnya. Sedangkandinamika sosial mempelajari tentang perubahan dan kemajuan sosial. Antara statistika sosial dan dinamika sosial tidak bisa di lapaskan. Sebab perubahan sosial tanpa tatanan sosial akan melahirkan anarki. Dalam hal ini, ilmu sosiologi menurut comte, memiliki peranan yang praktis. Dengan mempelajari tatanan sosial,ilmu sosiologi dapat mengarahkan perubahan masyarakat ke dalam tatanan yang lebih baik. Jadi sosiologi comte tidak hanya mengamati perilaku masyarakat dalam sebuah tatanan sosial, melainkan juga ikut membentuk tatanan masyarakat menjadi lebih baik.[14]


Baca Juga: SAINT SIMON

Daftar Bacaan:

Iklan