Macarita– Mahasiswa aktivis dan organisasi tak pernah bisa di pisahkan. Organisasi bagi saya adalah tempat pengembangan potensi serta pembentukan pemikiran dan karakter individu. Organisasi membawa keuntungan yang besar bagi mahasiswa. Ada berbagai macam organisasi dalam dunia kemahasiswaan, baik organisasi paguyuban, organisasi intra kampus, organisasi ekstra kampus. Dalam berorganisasi begitu banyak pengalaman dan pembelajaran yang di dapat, dan juga dapat menambah khasanah ilmu dan pengetahuan yang merupakan hal yang lumrah yang di temukan dalam setiap organisasi. Dengan berorganisasi kita belajar mengenal Tuhan, Alam dan Manusia yang saling berkolaborasi. Manusia tidak lepas dari kehidupan alam semesta yang menjadi tanggung jawab untuk menjaga serta memelihara. Manusia dengan manusia yang saling berhubungan antar sesama yang merupakan citra diri sebagai mahluk sosial (rahmatan lilalamin). Ini semua tidak lepas dari hubungan kita dengan tuhan. Kalau Murtada muthari pernah menyebutnya sebagai manusia yang sempurnah memiliki tiga hal penting yakni, intelektual,  spritual dan tanggung jawab sosial.

Baca juga: GUdikan DANGkar GARApan Mahasiswa

Tak jarang mahasiswa dalam lingkungan kampus yang berkecimpung dalam dunia organisasi, namun tak jarang juga idealisme mahasiswa yang tak terbentuk dengan matang dalam organisasi. Bahkan idealisme mahasiswa masih di pertanyakan, dan seringkali idealisme mahasiswa masih dapat di perjual belikan dengan nilai rupiah. Maklum mahasiswa kost, dikit-dikit nyari moment kalo dilanda krisis, karena kiriman pun menipis.  Begitu kata mereka yang tak peduli, hanya kepentingan indivudu yang di utamakan. Bahkan orang lain di jadikan umpan untuk meraup keuntungan yang tinggi. Dinamika mahasiswa seperti ini seringkali di temukan di setiap lembaga kampus di manapun. Mungkin di kampus anda pun demikian.

Baca juga: Refleksi Sejarah Gerakan Pemuda

Banyak mahasiswa yang berorganisasi, telah banyak belajar tentang tehnik berbicara, orasi, mobilisasi masa dan lain sebagainya. Namun dengan itu, mereka gunakan sebagai senjata untuk mendayagunakan orang lain demi memperoleh keuntungan pribadi, kelompok maupun golongan. Mahasiswa seperti ini secara psikologis kita dapat mengklaim mereka adalah orang yang memiliki ambisi besar untuk mendominasi dan menguasai masyarakat. Sangat banyak mahasiswa yang berkoar-koar menuntut keadilan di negaranya, bahkan harga diri dan darahpun di pertaruhkan. Namun ketika telah di panggil menjadi orang yang memiliki kapasitas dan otoritas dalam suatu lembaga pemerintahan, idealisme mereka kini harus di gadaikan. Begitu banyak orang-orang yang duduk di tampuk kekuasaan adalah orang-orang yang memiiki bekraundnya adalah dulunya mereka mahasiswa aktivis yang handal. Bilamana mereka telah di tugaskan dalam lembaga pemerintahan yang bertugas untuk melayani dan mengayomi kepentingan masyarakat, itu semata-mata hanya sebuah mimpi yang tak pernah menjadi nyata.

Baca juga: LUDO (LUapan Doktrin Oncer)

Siapa lagi yang akan kita gantungkan harapan negeri ini kalau bukan kepada mahasiswa. soekarno pernah mengatakan kalau ingin hancurkan negara, hancurkan saja mahasiswanya. Ini menjadi masalah yang paling urgen dalam dunia kampus sekarang ini, cukup banyak mahasiwa yang apatis dengan segala persoalan yang menimpa masyarakat. Padahal fungsi sosial seorang mahasiswa sangat fundamental dalam merubah tatanan masyarakat. Mahasiswa sebagai civil society dan control sosial terhadap suatu sistem ketatanegaraan.

[Gorontalo, 19/11/2016]

Iklan