Macarita – Maluku Utara adalah negeri para raja-raja pada sekian ratusan tahun yang silam dan bahkan dikenal di kanca dunia, nasional dan internasional. Maluku Utara mempunyai berbagai Suku, Etnis, Ras, dan bahkan bahasa yang berbeda. Kemudian falsafa hidup kebinekan yang sangat fariatif dan menjadi tolak ukur kehidupan masyarakat Maluku Utara itu sendiri, yang hidup berdampingan. Tidak lain hidup di satu rumpun Kie raha pada jaman itu, kemudian mulai berkembang sejak islam masuk di Nusantara lewat jalur perdagangan. Lambat laun status kerajaan sangat berpengaruh dengan proses islamnisai maka status kerajaan yang dulunya dikenal dengan sistem demokrasi ala (momole) dengan kepalai Bab Mansur Malamo, kemudin lambat laun berkembang ke arah demokrasi ala islam tapi islam tidak meruba struktur yang ada pada kerajaan namun haya melengkapi dengan adat, sareat, kemudian dengan aqidah islam itu dalam struktur kerajaan sampai sekarang ini dan pemisahan dari Ambon Manise dan seiring dengan berjalannya waktu, Maluku Utara di akui menjadi daerah Otonomi khusus pada tahun 1999 yakni ibukotanya ditempatkan di Kota Ternate secara Admistaratif dan pengakuan Wilayah Toritorial. Dari asumsi penulis sendiri “Rusli Musa” Maluku Utara adalah bagian dari negara kepulawan yang terkecil yang hidup di daratan Nusantara. Namun seiring dengan berjalannya waktu yang cukup lama dan terjadi pergulatan mainset pola pikir alias mentalitas irlander ala kompeni marcoess, masa Penjajahan Portugis, Spanyol, Belanda yang masih tumbuh subur, dikalangan suku dan etnis maupun ras. Yang mendiami di Maluku Utara  kemudian membangun sebuah gebrakan baru atau menjadi gerakan di atas perlawanan. Sungguh sakingnya ketika kita menata dan mengulas tentang sejarah dibalik kemegahan  di masa raja-raja, maka akan semakin meyakinkan kita untuk menarik masa lalu itu agar diam di tempat, atau merubahnya (George Hebermas) megatakan bahwa kita menciptakan sejarah maka kitalah menjalaniya.

Baca juga: Tantangan Pembagunan Maluku Utara Kedepan dan Solusi Membagun Gerakan Politik Education (Balas Budi) di Aras Lokal

      Bahasa potret bagian tidak lajim untuk dipakai akan tetapi patut di sukuri, kenapa demikian karena menujang kalimat memprihatinkan, dimana dan kapan saja. Ketika kita menjumpai suatu realitas sosial/masalah sosial yang harus di jawab tantangannya. Mengulas dominasi berati meniti kehidupan baru dan ajang perlawanan untuk menata masa depan yang tidak lain hanya orang-orang yang berkuasalah yang dia mampu meniti kehidupan. Ini menjadi hal tidak mungkin seakan-akan menjadi mungkin, Bukan lagi kalau tidak dengan kata kun faya kun maka jadilah. inilah Kekusaan baru yang kita hadapi, yang tidak lain adalah masalah dominasi kekuasaan. Kita punya masyarakat manusia Maluku Utara yang begitu bayak dengan potensi yang dimiliki dan tidak bisa di kalahkan. Aktivis yang tangguh dan para jargon-jargon superhero alias elit penguasa yang begitu mashyur, akan tetapi masih gagal dalam menata Pembangunan Maluku Utara itu. Inilah hal seharusya kita menjawab bersama. Tetapi disisi lain seakan-akan tidak mampu menjawabnya di sinilah letak kelebihan dan kelemahan kita kenapa penuslis berani berasumsi demikian karena semua orang tau bahwa masyarakat  Maluku Utara itu kepuyaan ketanguhan yang agung pertama adalah orang yang berani menghadapi tantangan walau seberat apapun dan kedua pola pikir suda dibentu oleh alamnya, jagan heran ketika orang yang keras, dan kuat kepribadiannya yakni dalam emosinal gagah berani ini suda di bentuk oleh alamnya. ini tidak bisa di pungkiri lagi. Akan tetapi hal itu tidak menjamin untuk menjawap keberanian kita maka ini lah titi kesalahan besar kita, dan kemudian kita dihadapkan dengan kesalahan terbesar lagi adalah mengurug-gurug dengan waktu untuk masalah kepentingan. Dimana sebagi ajang peperangan kata bapak proklamator (Ir Sokarno), mengatakan bahwa saya lebih muda mengusir penjajah akan tetapi lebih sulit ketika kalian menjajah bangsa sendiri, Konsep ini sudah menjawab kegagalan kita baik dalam masalah pembagunan masyarakat manusia di Maluku Utara itu sendiri yakni masalah tidak lain adalah kekuasaan segelintir elit atas nama kekuasan dalam kekuatan embargoya dengan dalil suku dan etnis jangan heran kalau ini tidak ditaktisi dan ditapisi maka akan menjadi bom besar dan kemudian siap meledak sewaktu-waktu.

Baca juga: Ekonomi Politik Maluku Utara

          Kemudian muncul lagi istilah konyolnya kosep konektifitas/koneksi kata yang sedikit ini memiliki makna dan arti yang begitu besar dan jelas ketika diberhadapkan dengan masalah yang tidak lain adalah masalah kekuasaan yang sempat penulis uraikan diatas. Atau mungkin dengan kata ini kita bisa berkadilan sosial untuk menciptakan masyarakat Maluku Utara yang santun, arif, dan memiliki jiwa yang moral. Atau sebaliknya menghancurkan kita semua, atau hanya orang-orang yang punya kepentigan, yang selalu ingin menang dalam pertarungan. Semua pernyataan dalam realitas kita untuk masyarakat Maluku Utara itu tidak terjawab, hal tersebut malah terpecah-belah di antara kita. Terutama masalah politik lokal yang aktif. Dan berperan di berbagai lini dan menjadi ajang perlawanan saling menjatuhkan satu dengan yang lain, sehingga hal ini mengikis potensi Manusia maluku Utara itu sendiri. Sunggu naif ketika individu kataya bagian dari potensi daerah bagian dari aset daerah atau ajang haya retorika belaka untuk memproklamerkan dan sunguh sejatinya manusia mengagung-agungkannya. Jangan sekali-kali berkata revolusi mental, kalau hal sekecil ini tidak mampu ditapisi dan dihilangkan. Karena revolusi mental hanya ada pada tubuh individu itu sendiri bukan berada pada sekelompok orang, yang ingin menguasai hati nurani orang lain. kata koneksi adalah sebuah paham sekelompok bukan pada individu sehinga kita diberhadapkan dengan satu pekerjaan saja sanggat sulit seperti mencari jarum yang jatu di kegelapan malam, kita musti butuh orang orang yang penting, ketika mereka berada dijabatan singga sana dan butuh, diberikan sembah laksana Raja dan Rahwana. Kemudina ini  tidak di indahkan maka satu-satunya jalan, hanya duit (money) lah yang berbicara dengan sekian nilai nominal yang bercerita lama. Apa ini tidak cukup  berlaku pada masa penjajahan?. Hal ini kita semua tidak membatasi maka menjadi Budaya kita bersama, nah kemudian dari pada itu menyulitkan ketika potensi individu-individu yang akan dikembangkan. Pada masyarakat Maluku Utara itu sendiri. Dan tidak berkembang potensinya dan tidak bisa di aktualisasikan, kemudian tidak bisa berlomba-lomba untuk membangun daerah kita Maluku Utara. Jangan mimpi dengan adanya perubahan tanpa kesiapan kita hari ini saling bersatu padu.

      Kemudian masalah pembagunan baik fisik dan non fisik itu bukan diciptakan oleh manusia elien, tapi makhluk manusia yang mempuyai akal sehat, tapi konon cerita suda melebihi akal, dan semakin menjadi-jadi semua orang hidup dalam satu negara manapun mempunyai aturan, dan setiap aturan pasti tidak lain hanya melekat pada setiap individu. Dan kelompoknya, akan tetapi diberhadap dengan maraknya politik lokal yang mendorog individu dan kelompok untuk berperan aktif, sehingga lupa nama identitas sebagai makhluk yang arif, malahan menjadi setan yang siap memburu. Itu suda terbuki di daratan Maluku Utara sejak pilkada tahun kemarin dan ini menghambat sebuah proses Pembagunan baik di tataran birokrasi, pendidikan, dan ekonomi aneh bin ajaib kenapa penulis berani melontarkan kata seperti ini karena masalah utama yang seharusnya masyarakat  Maluku Utara hadapi pada masah sekarang ini, contoh ketika anda tidak memilih saya maka anda dibenarkan PNS dan keluarga anda tinggal di dareah yang paling pelosok, kata dibenarkan dan terbukti beberapa orang PNS. Di daratan Maluku Utara disingkirkan tanpa sepegetahun (Mendikbut) timbul pertayaan sederhana pada peenulis sendiri apakah ini sistem demokrasi kita yang jujur dan seadilnya, oleh rakyat dan untuk rakyat yang di kemukakan oleh (Jjroseou, dalam buku the kontrak sosial). Namun ini tidak lagi suda  mengikis jauh, dan meraja lela di setiap lini kehidupan masyarakat yang ada di Maluku Utara ini.

    Sehingganya timbul krisis identitas kemanusian yang akan menimbulkan cerai berai dan mau menang sendiri ini lebih para lagi, akan muncul lagi aktivis, dan jargon-jargon baru lagi yang ingin mengguasai lagi, seharusya kita satukan tekat pikiran kita untuk membagun Maluku Utara ini apa lagi Provinsi Baru kita ini dengan letak Ibu Kotanya berada di Sofifi Halmahera ini bukalah kedok keidentitas yang meyimpan sekian lama itu yakni suku, ras, dan etnis kita dengan jujur bahwa kita hidup dalam satu rumpun bumi pertiwi yaitu Maluku Utara buang rasa egosentris keidentitas kita ini mari kita merapat kalau memang terlahir dalam satu rahim ibu pertiwi di bumi Maluku Utara ini.

 (Mampukah anda mengartikan kata aku maka akan muda untuk kita semua dalam menanamkan satu untayan cerita kita yng mempuyai arti)  ,,,CHE GOFA BALIBA KIE SE ALAM MAKOLANO,,,LIKH3EN,,,,,!!!

Salam hormat kepada pembaca apabila ada kata yang salah dan masih kurang dalam penulisan ini penulis berharap anda jangan sungkan-sungkan untuk meberikan keritikan dan saran kepad penulis agar kedepan nanti bisa lebih baik lagi. Penulis sadari bahwa mausia saling membutukan dan itu adalah hukum sosial yang terjadi tanpa ada keterpaksaan…!!!

Wacana : Menata Hari ini dan Menjawab Tantangan Hari Esok

Gorontalo, kamis 5 januari 2017

Penulis Rusli Mus (Mahasiswa Sosiologi Universitas Negeri Gorontalo)

Email ruslimusa91@gmail.com

 

Iklan