100_5847
Perkampungan Tomadou

Macarita – Apa itu politik dan pemilu? Kita sebagai masyarakat awam tentu akan memandang hal demikian sebagai ajang bagi-bagi duit. Ini tentu semua masyarakat akan mengambil kesempatan dalam momen ini. Bahkan pemuda dan mahasiswa turut berpartisipasi dalam politik praktis, menjadi seorang tim sukses, relawan, dan tim pemenang memperjuangkan figur favorite mereka. Pemuda berlagak laksana seorang pecabat yang sedang asik dengan kesibukannya, dengan harapan memperoleh honor dari kerja mereka. Ini adalah momen, dimana mereka sibuk menyebar pamflet calon favorite mereka kepada semua kalangan masyarakat yang tidak mengenal siang dan malam. Orang tua yang mungkin tak lagi berdaya dan hanya bisa menikmati hidupnya di atas ranjang menjadi target sasaran mereka.

Baca juga; Jelajah di Kampung Tomadou

Semua kalangan, saling mendominasi satu sama lain, saling pengaruh-mempengaruhi, demi tujuan yang akan di capai. Dan bahkan saking lucunya seakan kampung ini pada saat jelang pemilu, dipenuhi dengan satu topik hangat yang setiap saat di perdebatkan di semua tempat dan di mana saja mereka berada. Terjadi perdebatan hangat masyarakat tentang figur-figur ideal mereka kian nampak di setiap sudut-sudut kampung. Di tampa dudu, leger, di teras rumah menjadi panggung perdebatan panas mereka. Saling tunding-menunding, menjatuhkan satu sama lain yang berbeda pilihan. 

Baca juga; Dinamika Pemuda Tomadou

Pada akhirnya dengan semua apa yang di lakukkan, pemuda dan tokoh masyarakat kembali mencuat konflik pada saat pemilu tiba. Momentum ini selalu menimbulkan perbedaan dalam memilih seorang figur yang akan mewakili masyarakat dan sebagai penyambung aspirasi di lembaga pemerintahan. Namun ketika tibanya momentum pemilihan calon legislatif pada saat itu, sekitar tahun 2014 lalu, terjadinya konflik di tataran internal masyarakat tomadou. Padahal pada hakikatnya demokrasi menjunjung tinggih perbedaan dalam berbangsa dan bernegara, baik pilihan, pendapat, cara pandang, atau dari sisi lain antara suku, ras dan agama pada umumnya. Hingga pernah terjadi, hanya setingkat bendera yang di pasang di bibir jalan raya, karena corak warna-warni bendera partai yang berjejeran itu, menimbulkan satu sudut pandang yang berbeda tentang figur dari partai mana yang di pilih dari masing-masing kalangan. Ketika penulis mengamati konflik yang terjadi pada saat itu, karena ada perbedaan warna bendera yang berjejeran berdekatan, yang pada akhirnya entah siapa yang sengaja memindahkan salah satu bendera yang berbeda tersebut ke lain tempat, sehingga menyebabkan para kalangan masyarakat yang mendukung warna bendera tersebut membuat marah dan terjadi adu perdebatan yang sejenak berlangsung. Pada akhirnya fenomena yang langka terjadi ketika pasca pemilu, mereka yang bertetangga pun akan renggan saling menyapa, tokoh masyarakat dan pemuda saling menyimpan dendam. Maka hancurlah bangunan solidaritas sosial kita yang selama ini di junjung tinggi.

Baca juga; Bakti Sosial: Menjaring Pemuda Tomadou

Harapan penulis, di tahun berikutnya kita akan kembali menyambut momentun pemilihan calon gubernur di tahun 2018. Ini tentu kekhawatiran hal yang sama akan kembali terjadi. Tokoh masyarakat, pemuda, ibu-ibu PKK dan terutama punggawa-punggawa besar kampung Tomadou (RT/RW) mampu mengantisipasi hal demikan, agar tidak tercipta kubuh-kubuh dan sekat-sekat di dalam tubuh masyarakat yang akan menyebabkan kerenggangan antara satu sama lain, dan meruntuhkan bangunan solidaritas sosial masyarakat tomadou.

Gorontalo, Jumat 13 Januari 2017 (02:01 WITA)


Baca Juga:  Tanjung Mafu Muru: Air Panas dan Kawasan Penghubung Antar Warga

Iklan