fb_img_14899916684050256.jpg
Photoser: Pedos RMF

Macarita – Tidak hanya harus mendatangi rumah dan menjalin silaturrahim, namun di tempat lainpun bisa dan bahkan tanpa kita sadar. Banyak orang melakukan pertemuan dengan kawan-kawan, kerabat kerjanya melalui perjanjian terlebih dahulu, di warung kopi, restoran, taman, Bioskop atau bahkan di kediamannya. Sambil bercakap-cakap, bercanda, atau berdiskusi. Sebagai masyarakat sosial, saling mengenal dan berbuat kebaikan itu perlu, agar dapat tercipta keharmonisan dalam hidup bermasyarakat. Islampun mengajarkan umat manusia untuk saling mengenal, mengasihi, tak harus saling memusuhi walau berbeda suku, etnis, maupun kepercayaan. Saking lucunya negeri ini, sering terjadi pertumpahan darah di mana-mana, pembunuhan silih berganti, seakan nyawa tak lagi ada harganya. Agama di jadikan sebagai legitimasi kekerasan, membuat pembantaiaan masaal demi memperjuangkan kebenaran yang di anut setiap individu, kelompok maupun golongan. Seolah-olah kebenaran yang di yakini dirinya itu berasal dari kebenaran absolute, hingga kebenaran lainpun di sesatkan.

  ***

fb_img_14899916609800392.jpg
Photoser: Pedos RMF

MAFU MURU, istilah dari bahasa Tidore Mafu (Batu) dan Muru (Cahaya) artinya Batu yang bercahaya. Kebetulan di tempat ini banyak batunya yang berjejeran. Letak kawasan ini sangat strategis sebagai penghubung ketiga Kampung di kelurahan TOSA yakni TOMADOU, SURUMALAO dan AKE SAHU. Letak tempat ini berada di bibir pantai diantara kedua Kampung Tomadou dan Surumalao. Namun karna tempat ini juga terdapat Mata Air Panas, sehingga mengundang warga di Ake Sahu juga turut mendatanginya. Mata air panas yang di jadikan sebagai tempat bermandian, juga menurut kepercayaan warga setempat, Air panas ini mengandung kandungan energi Penyembuh penyakit. Tak jarang masyarakat sering menyembuhkan penyakit mereka dengan merendam tubuh mereka di dalam air.

fb_img_14899916569939008.jpg
Photoser: Pedos RMF

Di waktu sore, keramaian terus menyelimuti kawasan ini, apa lagi saat musim hujan, sepulang dari kerja, mereka meramaikan tempat ini, menghangatkan tubuh mereka yang sedang menggigil kedinginan. Selain mandi sebagai tujuan utamannya, setidaknya mereka-pun sambil berinteraksi, berkomunikasi satu sama lain. Bagaimana agar dapat menghubungkan tali silaturahim antar warga tanpa di sadari.

Baca Juga; Jelajah di Kampung Tomadou

Tidak hanya orang dewasa, remaja, bahkan anak-anakpun turut mendatangi tempat ini. Air Laut yang membiru dan jernih, dengan terumbu karang di dasar laut itu yang menghasut diri untuk mengunjungi menikmati indah nan pesonanya pemandangan. Selain pemandangannya yang indah, juga tempat mereka menghibur diri dengan memancing, dan bakar-bakar ikan, atau bisa juga menjadi tempat meditasi, merenungi diri saat di landa Galau. Bisa juga menjadi tempat berpacaran bagi anak muda, tapi hati-hati sebab anak-anak di kampung itu sering nakal.

Baca Juga; Yuk ke Mafumuru! Wisata Baru di Kelurahan TOSA

Masyarakat setempat terbiasa dengan kawasan ini, memancing bagi anak-anak menjadi aktifitas hiburan mereka. Ikan Tato, Ikan Ngomi, Ikan Gucia, Ikan Cinguci, jadi pancingan mereka. Tidak hanya itu, pisang dan buah kelapa yang tumbuh di tepian pantai di habiskan walau tanpa memikirkan siapa pemiliknya. “Aku tanggung Barito, kamu tanggung saja loyang dan mangkuk, sementara kamu tugasnya nyari kayu bakar, pisang dan kelapa muda“. Kiranya seperti itu awal dari perencanaan mereka berembuk jika mengagendakan acara-acara serimoni (bakar ikan dan makan-makan bersama di tepi pantai). Setidaknya itu merupakan suatu ketanpasadaran kita, kalau sebenarnya suatu tempat hiburan menjadi penghubung masyarakat, yang dapat mencipta hubungan komunikasi, kesolidan dan kebersamaan di dalam tubuh masyarakat(*)

Gorontalo: 21 Maret 2017

Iklan