index.jpg

Sebelum Indonesia merdeka, seluruh aspek kehidupan dalam tatanan masyarakat Indonesia kala itu mengalami penindasan yang sangat dahsyat dan tidak berperikemanusiaan. Seluruh elemen masyarakat berada dalam garis kemiskinan, hari demi hari sedikit demi sedikit warga meninggal dunia disebabkan penghidupan yang jauh dari kelayakan.

Perempuan-perempuan pada masa itu selalu menjadi bulan-bulanan bagi para tentara penjajah, selalu menjadi pemuas nafsu belaka bagi para penjajah, perempuan-perempuan pada masa itu tidak dihargai secara baik bagi para kaum penjajah seakan-akan tidak bernilai harganya. Hal ini tentu bertentangan dengan Al-Qur’an yang selalu mengagung-agungkan sosok perempuan sehingga diabadikan dalam surah An-nissa.

Pada zaman itu hanya beberapa kaum wanita yang berani melawan para rezim yang zalim dan memperjuangkan emansipasi wanita, Raden Adjeng Kartini yang merupakan seorang tokoh suku Jawa, lahir di Jepara, Jawa Tengah 21 April 1879. Sosok R.A Kartini selalu diagung-agungkan oleh beberapa orang kala itu karena berbagai tulisannya di surat kabar yang mengangkat harkat dan derajat perempuan.

Raden Adjeng Kartini merupakan sosok perempuan yang memperjuangkan “Emansipasi Wanita” menjunjung tinggi harkat dan martabat seorang perempuan. Dalam catatan sejarah R.A Kartini juga sempat mempelajari ilmu agama Islam dan mengamalkannya dengan harapan bahwa agar Islam disukai oleh banyak orang dikala itu. Berikut merupakan surat yang di kirim R.A Kartini kepada Ny. Van pada 21 Juli 1902.

Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya (door duisternis Tot Licht). Namun cahaya itu belum purna menyinari secara terang menderang. Karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya, moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain mendukung agama Islam dan patut disukai.

Sosok R.A Kartini selalu dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk menyuarakan emansipasi wanita dengan dalih menyamaratakan antara perempan dengan laki-laki, tentu saja hal ini meyalahi fitrahnya seorang wanita, padahal pada kodratnya pria dan wanita berbeda, demikian pula peran dan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi ini.

Pada era sekarang wanita-wanita Indonesia lebih cenderung menggunakan budaya-budaya Barat yang katanya mampu menarik simpati khalayak, wanita sekarang lebih cenderung menggunakan gaya hidup yang hedonis, hanya suka menghabiskan uang di mall dan pusat perbelanjaan lainnya ketimbang memanfaatkan uang untuk keperluan yang lebih mendasar.

Raden Adjeng Kartini merupakan tokoh yang patut diteladani oleh semua orang, dimana perjuangan beliau dalam memperjuangkan emansipasi wanita, menyamaratakan antara perempuan dengan laki-laki merupakan satu tindakan yang sangat dibanggakan setiap wanita dikala itu.

Sebelum Indonesia merdeka, seluruh aspek kehidupan dalam tatanan masyarakat Indonesia kala itu mengalami penindasan yang sangat dahsyat dan tidak berperikemanusiaan. Seluruh elemen masyarakat berada dalam garis kemiskinan, hari demi hari sedikit demi sedikit warga meninggal dunia disebabkan penghidupan yang jauh dari kelayakan.

Perempuan-perempuan pada masa itu selalu menjadi bulan-bulanan bagi para tentara penjajah, selalu menjadi pemuas nafsu belaka bagi para penjajah, perempuan-perempuan pada masa itu tidak dihargai secara baik bagi para kaum penjajah seakan-akan tidak bernilai harganya. Hal ini tentu bertentangan dengan Al-Qur’an yang selalu mengagung-agungkan sosok perempuan sehingga diabadikan dalam surah An-nissa.

Pada zaman itu hanya beberapa kaum wanita yang berani melawan para rezim yang zalim dan memperjuangkan emansipasi wanita, Raden Adjeng Kartini yang merupakan seorang tokoh suku Jawa, lahir di Jepara, Jawa Tengah 21 April 1879. Sosok R.A Kartini selalu diagung-agungkan oleh beberapa orang kala itu karena berbagai tulisannya di surat kabar yang mengangkat harkat dan derajat perempuan.

Raden Adjeng Kartini merupakan sosok perempuan yang memperjuangkan “Emansipasi Wanita” menjunjung tinggi harkat dan martabat seorang perempuan. Dalam catatan sejarah R.A Kartini juga sempat mempelajari ilmu agama Islam dan mengamalkannya dengan harapan bahwa agar Islam disukai oleh banyak orang dikala itu. Berikut merupakan surat yang di kirim R.A Kartini kepada Ny. Van pada 21 Juli 1902.

“Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya (door duisternis Tot Licht). Namun cahaya itu belum purna menyinari secara terang menderang. Karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya, moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain mendukung agama Islam dan patut disukai.

Sosok R.A Kartini selalu dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk menyuarakan emansipasi wanita dengan dalih menyamaratakan antara perempan dengan laki-laki, tentu saja hal ini meyalahi fitrahnya seorang wanita, padahal pada kodratnya pria dan wanita berbeda, demikian pula peran dan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi ini.

Pada era sekarang wanita-wanita Indonesia lebih cenderung menggunakan budaya-budaya Barat yang katanya mampu menarik simpati khalayak, wanita sekarang lebih cenderung menggunakan gaya hidup yang hedonis, hanya suka menghabiskan uang di mall dan pusat perbelanjaan lainnya ketimbang memanfaatkan uang untuk keperluan yang lebih mendasar.

Raden Adjeng Kartini merupakan tokoh yang patut diteladani oleh semua orang, dimana perjuangan beliau dalam memperjuangkan emansipasi wanita, menyamaratakan antara perempuan dengan laki-laki merupakan satu tindakan yang sangat dibanggakan setiap wanita dikala itu.

Semoga dihari Kartini ini (21 April 2017), membuat kita mengenang sosok pahlawan bangsa yang luar biasa mengangkat derajat kaum wanita dan membuat wanita lebih muulia di mata kam adam.

Gorontalo, 21 April 2017

Iklan