Ada  berbagai macam peristiwa kehidupan yang terus-menerus menimpa kita, selaku mahluk yang bernapas. Dan kita tidak akan mampu menghindar dari masalah-masalah yang memang selalu menjadi pendamping hidup kita, karena memang kita tidak bisa melarikan diri.  semakin kita menghindar maka kita akan semakin dekat dengan hal itu.  Kini kita tentunya berharap bahwa kita suatu saat nanti akan hidup lebih baik dalam menapak masa depan yang penuh dengan berbagai persoalan pada hari ini”

Mengenal Sang Pejuang

Macarita– Kelahiran seorang manusia memiliki beberapa kategori. Yaitu sebagai mahluk individu dan sebagai mahluk sosial. Dari kedua hal ini kemudian, akan timbul afirmatif action yaitu  keterkaitan satu sama lain  yang nantinya kita dapatkan berbagai Problematika wacana sosial, tetapi sebenarnya hal itu dapat memudahkan kita, dan mengurangi beban kita dalam menanggapi perubahan sebagai agenda dalam mengarungi kehidupan masa yang akan datang.

Dalam kategori yang pertama akan kita temukan satu hal yang nampaknya menghegemoni kehidupan masing-masing individu, dan akan kita temukan masalah-masalah besar ketika salah menginterpretasi persoalan tersebut.

1. Individu/ Individualisme.

Banyak dikalangan kita sering keliru  dalam memahami individu-alisme. Individualisme sering dipahami sebagai orang yang Egois,Egosentris, bahkan orang yang individualistik sering dianggap mementingkan dirinya  sendiri. padahal sebenarnya makna dari individualisme sangatlah sederhana, paham ini sebenarnya mengakui fakta alamiah bahwa dalam menanggapi persoalan hari ini, dengan kacamata dirinya sendiri. Tidak mungkin dalam menilai fakta sosial hari ini dari kacamata orang lain. Ada sebuah contoh sederhana yang pernah diberikan oleh Adam Smith, pemikir ekonomi yang dianggap sebagai ”Bapak Kapitalisme”. Coba lihat, kata Smith, kalau misalnya ada seribu orang mati di Cina, Anda yang di Inggris mungkin malam itu bisa tidur lelap. Tapi coba jika pada saat yang sama jari kelingking Anda tergores sedikit dan kemudian memar atau bernanah, Maka rasa sakit itu mungkin akan membuat Anda semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan jari kelingking Anda itu.

Karena bagaimanapun manusia harus berpikir, dia harus melalui bangunan dirinya. Individualisme sebagai sebuah paham sebenarnya mulai dari fakta sederhana itu. Dia tidak ingin mengingkarinya dengan berkata bahwa, “Lupakan dirimu atau jangan pikirkan dirimu, tapi pikirkan masyarakat atau kelompok yang lebih besar.” Memikirkan diri sendiri itu jangan disamakan dengan egoisme. Jadi yang bisa dilakukan bahwa dalam melihat masalah dan dilema-dilema masyarakat, jangan ingkari kepentingan individu; jangan ingkari cara berpikir masing-masing individu dalam melihat persoalan dan kepentingannya. Bukan malah menjadi masalah bagi suatu kelompok masyarakat tetapi kelompok tersebut seharusnya beruntung karena banyak individu-individu yang memiliki karakter dan spesifikasi ilmu pengetahuan masing-mansing yang mapan serta peka terhadap Realita sosial.

Manusia ketika dilahirkan ke dunia memiliki kehendak bebas, dan juga hak yang tidak bisa diganggu oleh siapapun. Misalnya hak untuk makan dan minum, hak untuk bicara,memilih pasangan hidup,hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan hak untuk  hidup tentunya.  Itu sebabnya kader Hipmi-Malut sering menginterpretasi  sesutu dengan kaca mata atau pandangannnya sendiri, dan bukan paksaan dari siapapun seharusnya. Misalnya dalam menafsirkan himbauan dan Aturan dalam konstitusi Organisasi. Dalam menginterpretasi soal Hak ini harus kita ingat bahwa hak kita dibatasi oleh hak orang lain, misalnya dalam asrama, seorang kader bisa mendengar musik, tetapi ketika musik tersebut terlalu keras maka kader tersebut telah mengganggu kader yang lain yang membutuhkan ketenangan, karena mungkin mereka sedang belajar sehingga harus konsentrasi. Maka kader yang tadi telah mengganggu hak teman-temannya..

Masing-masing memang memiliki hak yang memang harus dihargai oleh masing-masing kader.

Dalam pengelolaan Organisasi misalnya, ada tiga hal yang perlu di perhatikan bersama, yaitu :

  • Plening/perencanaan. Termasuk program kerja dalam pengurusan pada saat itu.
  • PelaksanaanTerhadap hal-hal yg telah direncanakan.
  • EvaluasiMengevaluasi apa-apa yang belum dan telah dilaksanakan.

Hal ini kemudian seorang  kader memiliki peranan sangat penting, bukan hanya dikalangan Pengurus tetapi seluruh anggota Organisasi.

Lalu bagaimana dengan budaya yang ada dalam Organisasi? Misalnya muncul berbagai OKK, Gam-Gam dan Kubu-kubu yang dianggap Rasis?

Sebenarnya hal tersebut tidak terlalu berpengaruh dalam Organisasi. Justru yang perlu di hawatirkan adalah tidak ada lagi yang namanya minoritas kreatif dalam menanggapi masalah-masalah yang dihadapi Organisasi. Misalnya hilangnya budaya intelektual dalam hal kegiatan dialog/diskusi,baca buku, menulis dan kegiatan lainnya yang dapat menambah pengetahuan dari seorang kader.

Sebagai seorang kader dan pejuang yang hidup dalam lingkup Organisasi seharusnya berpikir kritis berbasis realitas.

2. Mahluk sosial/ masyarakat.

Manusia ketika dilahirkan, Ia kemudian dikutuk untuk menjadi pemimpin bagi dirinya dan juga bagi orang lain.

Menurut Hobbes manusia Seringkali akan menjadi serigala bagi manusia yang lain (Homo homuni lupus) sedangkan lingkungan sekitarnya menjadi hutan rimba yang angker dan kejam. Oleh karena itu manusia membutuhkan orang lain untuk melindunginya dari kondisi yang sangat tabu itu.

Organisasi merupakan manifestasi dari anggapan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, dan membutuhkan wadah untuk melindungi hak dan cita-cita dari individu-individu masyarakat yaitu hidup saling membantu antar sesama. Sehingga secara tidak langsung terdapat sebuah perjanjian atau kesepakatan sosial dalam hal ini  misalnya penghargaan terhap Hak dan kewajiban.

Maka seorang kader yang dibai’at sebagai pengurus mapun tidak, Ia harus bertanggung jawab dalam menghadapi masalah-masalah, baik yang terlihat nampak maupun terlihat kabur.

Bagi penulis sebenarnya hal yang paling mendasar adalah pemahaman dan pola pikir dari kader itu sendiri, untuk mengetahui siapa dia dan dapat mendefenisikan dirinya dalam suatu lingkup organisasi.  Hal ini berkaitan dengan apa yang kemudian disebutkan oleh Toynbe tentang keruntuhan dan kebangkitan peradaban. Bahwa hal yang menentukan sebuah peradaban adalah adanya minoritas kreatif dan kondisi  yang sesuai. Minoritas kreatif yang dimaksudnya adalah sekelompok kecil orang yang cerdas, yang memiliki kemampuan dan kreatifitas atau kepekaan yang tinggi dalam memahami agenda perubahan. Responsif dan mayoritas adalah pengikut gagasan dari kaum minoritas.

Sedangkan kondisi yang sesuai menurutnya sebuah  kondisi yang mengandung unsur kesalahan,kealpa’an dan lain sebagainya bahkan yg tidak dianggap masalah tetapi bisa berdampak besar bagi Organisasi dan kader itu sendiri..

Bagimu pejuang-pejuang muda, sadarilah akan posisimu dan sadarilah akan dirimu, dalam upaya mengukir rekam jejak kalian

Penulis: Iliyadi Thaib (Pengarah Himpunan Mahasiswa Indonesia Provinsi Maluku Utara (HIPMI-MALUT) di Gorontalo)

Iliyadi Thaib: Laki-Laki dari Bicoli [HALTIM]
Iklan