Photos: Iliyadi Thaib [Laki-laki dari Halmahera] Pengarah (HIPMI-MALUT) di Gorontalo”

Macarita – Pukul 21.20  Wita, Saya mendatangi warung kopi yang cukup terkenal dan digemari oleh semua kalangan masyarakat di kota Gorontalo yaitu Regal Cafee. karena letak warung kopi ini yang cukup strategis, dan juga pelayanan yang luar biasa.

Sepanjang mata memandang tampak diseluruh meja berjejer, para pelanggan serius menikmati Hidangan Makanan enak dan mengundang selerah. Saya duduk di salah satu meja bernomor 10, dan  memesan secangkir kopi untuk meghormati dahaga kopi pada malam yang menyimpan makna ini.

Sekitar 10 Menit lamanya menikmati Kopi yang masih hangat, datanglah beberapa Pemuda yang mengklaim kelompoknya Seniman Jalanan dengan jumlah anggota tiga (tiga) Orang.

Sambil memberikan salam, mereka-pun meminta Ijin kepada pengunjung dan pemilik warung  untuk menyanyikan lagu yang membuat saya tertawa sekaligus tersindir. Dimulai dengan Menatap para pengunjung dengan wajah ceria, Melepaskan beban mereka satu persatu dan menyanyikan lagu lokal berbahasa Indonesia, Judulnya “Kolam Susu. Lirik lagu yang mereka bawa, terselip untaian kata: “Kami pengen jadi sarjana”. Kalimat-kalimat ini menghantam akal penulis hingga berpikir ekstra keras dengan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan.

Seniman jalanan ini menyuarakan realitas melalui lantunan lagu yang di iringi dengan Gitar tua, hingga nampak pada tali senarnya kedengaran sudah amat Tua.

Menurut Cant, Realitas sebagai Apa yang selaras dengan Kondisi-kondisi Material pengalaman. Dengan berbagai Pengalaman yang terdapat pada kesempatan Ini Penulis melihat bahwa Perjalanan Mereka adalah bentuk kegelisahan yang tidak terlepas dengan Realitas Sosial. Berbicara Soal Realitas Sosial maka terdapat Relasi dalam hal ini Kondisi ekonomi, Politik dan Budaya Bangsa Kita (NKRI).  Pengamen Jalanan Ini sepertinya Mengajak Penulis Untuk melihat Kembali Apa sebetulnya Yang Terjadi Dalam Lingkup kehidupan Masyarakat Indonesia pada Umumnya Dan beberapa pemuda yang tergabung dalam kelompok Pengamen Jalanan ini khusunya, Ternyata saya Menemukan Berbagai Persoalan Yang Tersembunyi di balik kebisingan bunyi kendaraan.

Berkaitan dengan refleksi hari pendidikan Nasional, bertepatan dengan 2 mei ini, maka pertanyaan yang harus kita jawab bersama adalah sejauh ini bagaimana Penerapan amanat Undang-undang Dasar 1945 pasal 28C ayat satu yang berbunyi: “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”.

Pendidikan merupakan kebutuhan utama di Era saat ini kurang lebih kita sebut Globalisasi. menuntut adanya pengetahuan baik itu dalam pengetahuan dasar mengenai membaca, menulis, dan menghitung. Apalagi Era sekarang jika ingin kerja maka sangat di butuhkan Ijasah.

Sebagai Masyarakat Indonesia yang sangat menjunjung nilai-Nilai Pancasila, Bagaimana relasi yang terdapat dalam Sila ke-V, yaitu Keadilan sosial bagi selurih Rakyat Indonesia dengan apa yang terjadi di sekelling kita Hari ini. ada banyak sekali persoalan yang terdapat dalam pendidikan yang bertolak belakang dengan cita-cita dalam bernegara. Mengapa status mereka berbeda dengan yang lain, bukankah semua warga negara punya hak untuk memperoleh pendidikan yang layak? Kekurangan ekonomi memaksa generasi muda  kita putus sekolah karena mahalnya biaya pendidikan. Persis judul buku yang di tulis oleh Eko Prasetyo (Orang miskin dilarang sekolah).

Kemauan, kecerdasan, bahkan kemampuan tidak bisa di asah dalam bangku pendidikan akibat terhijab oleh mahalnya Biaya pendidikan.

Dalam hal ini seharusnya menjadi perhatian kita semua sebagai bangsa indonesia, terutama Pemerintah yang berperan penting dalam upaya menjalankan amanat Undang-undang dasar negara kita. Alokasi anggaran seharusnya tepat sasaran, agar tercapai tujuan mewujudkan  sila ke-v “keadilan sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Sederhananya, apabila Pendidikan tidak diperoleh, akan berpengaruh pada pengetahuan atau SDM, dan apabila SDM kita tidak mendukung, bagaimana kita bisa bersaing dengan Negara lain, apalagi Era saat ini sudah ada kerja sama yang kita Kenal masyarakat Ekonomi Asean (MEA), kemudian apabila kurang adanya produktifitas maka akan perpengaruh pada pendapatan tentunya. Hal yang mustahil ketika indonesia dikenal sebagai Negara yang kaya akan sumber daya alam tetapi Rakyat hanya bisa jadi penonton saja.

Momentum hari pendidikan Nasional tidak seharusnya sekedar diramaikan dengan Upacara-Upacara bendera di setiap daerah atau suara megafone yang lantang dalam menyuarakan aspirasi tetapi harus bergerak untuk melihat masa lalu dan menatap masa kini untuk menghadapi masa depan yang lebih baik bagi bangsa ini untuk menata kembali keadaan yang sarat dengan tumpukan pertannyaan.

Kita ketahui setiap tahun ratusan bahkan ribuan Sarjana di wisudah, sementara lapangan kerja masih di pertanyakan. Pembenahan dari setiap persoalan harus menyentuh aktor intelektual. Sebab pada dasarnya pembangunan tidak terlepas dari pendidikan dan ekonomi masyarakat.

Wujudkan impian dan cita-cita para pendahulu yang sekian lamanya tidak tercapai.

Iklan