55300ecc0423bdb44a8b4567

Macarita – Pendidikan yang ada di indonesia selalu berganti-ganti kurikulum, berawal dari KBK, KTSP dan sekarang di era K13. Dalam Kurikulum K13 Lebih di tekankan pada siswa agar lebih berpotensi dan berperan aktif dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Kurikulum negara indonesia berbeda dengan negara-negara tetangga, di indonesia selalu di ganti-ganti seakan penerapan sistem pendidiknnya belum final, juga memaksa agar siswa menjadi anak bangsa yang memiliki potensi serta memperoleh nilai yang memuaskan. Pada hal sebenarnya mentri pendidikan bukanlah orang yang berasal atau llusan dari sarjana pendidikan misalnya, jadi wajar saja pendidikan di Indonesia masih kacau balau. 

Baca juga: Pendidikan dan Diskriminasi

Berbicara tentang pendiddikan, masih banyak hal yang harus kita bicarakan mulai dari jaman ke jaman dengan penerapan sistem pendidikan yang terus berubah dari fase ke fase mengikuti perkembangan jaman. Pendidikan sekarang adalah pendidikan modernis, dengan kemudahan mengakses segala hal, menjadikan generasi bangsa yang praktisisme. Sehingga pendiddikan dizaman sekarang sangat berbeda jauh dengan pendidikan zaman dulu berdasarkan sejarah pada zaman dulu pendidikan sangat susah untuk di capai karena pada zaman dulu yang bersekolah hanya mereka yang keluarganya memiliki posisi tinggi di pemerintahan dan memiliki penghasilan tinggi sedangkan mereka yang memiliki penghasilan rendah untuk makan saja susah apalagi sekolah tetapi mereka memiliki minat yang sangat besar untuk sekolah dan belajar itulah yang membedakan antara anak-anak zaman dulu dengan zaman sekarang. Sekarang ini pendidikan di Indonesia semakin rendah pelajar sudah tidak menemukan jati diri mereka lagi. Mulai dari tingkat SD sampai dengan Mahasiswanya, berdasarkan realita yang saya lihat di kampung halaman saya jangankan remaja bahkan anak SD-nya pun sudah mulai mengenal dunia percintaan yang belum pada masa mereka. Ini adalah salah satu evek dari pada kehancuran moralitas anak bangsa.

Baca juga: Pendidikan dan Kekecewaan

Seharusnya yang mereka kenal hanya bermain dan belajar tetapi sekarang karena pengaruh lingkungan dan kurangnya penerapan moral sejak dini sehingga mereka sudah tak lagi pada porsi mereka sebagai anak-anak tetapi sudah melenceng jauh dari dunia mereka yaitu dunia bermain. Semakin mereka beranjak remajasemakin rusak moral mereka budaya barat seperti pakaian mini, valentine Day, berpacaran ala orang orang dewasa, budaya pawai dan coret baju saat kelulusan, yang tak seharusnya mereka lakukan sebagai pelajar tetapi itu menjadi hal yang wajar bagi mereka dan bahkan hal tersebut sudah mengikat pada diri mereka yang tidak dapat mereka lepaskan serta mereka lestarikan. Semua itu di pengaruhi oleh lingkungan sosial.

Sedangkan mahasiswa yang seharunya menjadi agen of change telah melenceng jauh dari perannya, bahkan sumpah mahasiswapun telah lupa hanya sebahagian kecil yang masih mengingatnya. Mahasiswa yang seharusnya menjadi agen pembaharu dan mereka yang seharusnya menjadi penyambung lidah rakyat,  namun semua itu hampir hilang di telan jaman.

Baca juga:  SENIMAN JALANAN KOTA GORONTALO; Sebuah Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Kalau pada zaman mahasiswa lama banyak sekali mahasiswa yang turun dijalanan untuk menyampaikan keluh kesah yang dirasakan oleh masyarakat atau sering disebut dengan anak jalanan, para mahasiswa-mahasiswa itu bersama-sama dan sangat kompak seperti pada kejadian tahun 1998 dimana goresan sejarah terbesar yang dilakukan mahasiswa untuk mengaspirasikan suara rakyat untuk melengserkan Soeharto. Mereka menganggap bahwa perjuangan yang dilakukan, tidak hanya mengangkat senjata, perjuangan juga bisa kita lakukan dengan cara bergai hal, berdemonstrasi, dan bahkan mendapat dukungan penuh dari masyarakat dalam menyampaikan aspirasi masyarakat . kemerdekaan telah di proklamirkan sejak jaman dahulu kala. Seharusnya Tanggung jawab mahasiswa sebagai generasi muda tentu selelu terikat dengan pencipta perubahan.

Tetapi sekarang yang di lakukan mahasiswa hanya kost-kampus seperti itu tiap hari bahkan kurang sekali minat mereka untuk membaca jangankan membaca sebagian besar dari mereka pergi kuliah yang ada di dalam tas mereka yang seharusnya buku dan pena tetapi ini malah sebaliknya yang ada di dalam tas mereka hanya terisi perlengkapan make up itulah yang membuat mahasiswa mengalami degradasi intelektual, emosional, serta spritual. Karena ruang gerak mahasiswa selalu dikekang sehingga yang mereka kejar bukan ilmunya tetapi cepat lulus dan IPK yang tinggi. Sehingga Mahasiswa hanya di ciptakan sebagai mesin penggerak apa yang diinginkan oleh atasannya. Yang mereka tau pasca dari kuliah dan mencari kerja bukan menciptakan lapangan kerja. itulah yang membuat sebagian besar masyarakat indonesia pengganguran berpendidikan.

Gorontalo, 07 Mei 2017

Baca juga: Pelopor Kebangkitan Perempuan Pribumi “Raden Adjeng Kartini”

Penulis adalah kader-kader HIPMI-MALUT di Gorontalo:

  1. Nursyafitri Abdu (Mahasiswa Jurusan Matematika UNG semester 2)
  2. Endang susilawati dahri (Mahasiswa Jurusan Akuntansi UNG semester 2)
  3. Idhar saraju (Mahasiswa Jurusan Ekonomi UNG semester 2)
Iklan