IMG_201
Photos: Syamsul Bahri [Laki-laki dari Tidore]
Macarita – Negara Kesatuan Republik  Indonesia (NKRI) adalah negara yang unik dan heterogen. Kenapa unik, karena NKRI merupakan negara dengan berbagai kepercayaan yakni agama.  Indonesia merupakan negara yang terdiri dari kurang lebih 17.000-an pulau, 1300-an suku bangsa, 500-an bahasa, 34 provinsi dan sekitar 255 juta-an jiwa penduduk. Ada enam agama resmi di Indonesia yakni Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu. Menurut hasil sensus tahun 2010, 87,18% dari 255 juta-an penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, 6,96% Kristen Protestan, 2,9% Kristen Katolik, 1,69% Hindu, 0,72% Buddha, 0,05% Khonghucu, 0,13% agama lainnya, dan 0,38 tidak terjawab atau tidak dinyatakan. Enam agama utama di Indonesia ini jelas berdasarkan penjelasan atas penetapan presiden No 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama pasal 1, bahwa “Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia adalah Islam, Kristen (Protestan) Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu (Confusius)”.

Dengan banyaknya agama ini tentunya konflik antar agama sering kali tidak terelakkan. Misalnya saja konflik atas nama agama di Ambon, Republik Maluku Selatan (RMS), Poso, Tobelo dan lainnya. Namun, menurut saya hal ini jangan dijadikan tolok ukur. Karena kedamaian dan kesatuan akan sangat berharga dan bernilai jika kita antar umat beragama saling menerima perbedaan. Lagi pula, tidak ada agama yang mengajarkan/menganjurkan keburukan dan kejahatan karena pada dasarnya setiap agama mengajarkan/menganjurkan kebaikan. Selain itu, sehari setelah kemerdekaan Indonesia diumumkan, orang-orang Kristen dari Sulawesi Utara secara serius menolak salah satu ungkapan dalam Piagam Djakarta yakni “Ketuhanan dengan ketetapan tertentu kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya”. Setelah Moh. Hatta berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hasan dan Kasman Singodimedjo mengganti ungkapan itu. Atas dasar usulan Ki Bagus Hadikusumo dibuatlah ungkapan baru yakni “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang kita kenal sebagai sila pertama dalam Pancasila. Menurut Taliziduhu Ndraha dalam bukunya Kybernology (Ilmu pemerintahan baru) “perbedaan antarmasyarakat menyadarkan tiap masyarakat bahwa perbedaan bukan faktor pemecah atau pencerai, melainkan kekuatan yag mendorong masyarakat yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan dan kemudian bekerjasama saling membutuhkan dan kemudian bekerjasama saling menguntungkan”.

Permasalahan konflik antar agama kian kemari kian menggeliat, sebut saja kasus Ahok kemarin yang katanya sebagai tindakan penistaan agama. Andaikan saja yang dicela bukan islam melainkan islam yang mencela saya kira kejadian selanjutnya tidak akan demikian. Selain itu, pemeluk-pemeluk agama-agama di Indonesia yang tidak merata memicu terjadinya konflik. Bayangkan saja jika gereja dibangun di Aceh dan masjid dibangun di Papua atau Manado maka orang Kristen yang di Aceh akan merasa terisolasi dalam artian menjadi tamu dirumah sendiri begitu juga dengan umat Islam yang berada di Papua dan Manado. Anda sekalian juga harus tau bahwa, konflik antar agama bukanlah masalah agama melainkan masalah politik yang mengatasnamakan agama. Ironis memang…!!!

Ingat!!! Bhinneka Tunggal Ika. Kedamaian itu ada ketika kita menerima perbedaan.

***

Ternate, 5 Mei 2017

Iklan