catur

Macarita– Dinegeriku yang heterogen dimana bangsa-bangsa berambut pirang dan bermata sipit jatuh cinta hingga merayu dan membombardir kita habis-habisan. Disaat bangsa-bangsa itu mulai luluh dalam waktu yang memakan abad, kita yang merupakan kelas telapak kaki katanya, kembali dicintai oleh para petinggi-petinggi kita sendiri yang bibirpun enggan berkata karena saking kasihannya. Di daerah kita sendiri saja kita sudah garuk-garuk kepala apalagi kini kewenangannya daerah yang kesemuanya dilimpahkan ke pusat, inikan blunder sebenarnya.

Di setiap sudut provinsi, kota, kabupaten, kecamatan, kelurahan, desa dan bahkan komplek tempat dimana berpijak telapak kaki-telapak kaki yang tak dianggap. Bagaimana mau dianggap, sedangkan kita yang katanya adalah inkarnasi Tuhan berupa suara ataupun perwakilan suara Tuhan “ vox populis vox dei “ telah dipaling dari orang-orang harapan kita (para petinggi). Entahlah, karena para petinggi negeriku itu bisa dibilang lucu karena selalu mengocok perut dan membuat para pelawak malu melamar kerja dan malu mengakui diri. Bagaimana tidak lucu ? kita sebagai tuan rumah harus menjadi tamu!, inikan lucu sebenarnya. Bagaimana bisa tuan rumah kok harus menjadi tamu di rumah sendiri. Selain itu, ungkapan “tamu wajib lapor” kita adopsi dari negeri mata sipit, bahkan sudah menjadi budaya dan mengakar disetiap sudut ruang dan waktu. Sedangkan politik mengajak orang kerumah ketika ada masalah yang akan diperbincangkan merefleksikan spektrum membawa sedikit “sesajen” untuk memainkan alis mata.

Bagaimana mungkin, negeri yang penduduknya terbanyak keempat didunia ini dengan jumlah jiwa 225 juta-an harus berkiblat pada hukum kompeni yang jumlah jiwanya hanya 17 juta-an itu ?, inikan tidak feer sebenarnya. Mengapa waktu itu pemerintah tak coba lakukan aksi pembangkangan seperti yang dilakukan Samin Surosentiko pada masyarakat Samin di Blora itu. Entahlah, dikatakan tidak pintar tidak mungkin karena negeri kita juga adalah negeri-nya para pemikir. Dikatakan cerdas, memang iya. Tetapi toh kenapa harus berkiblat pada hukum buatan orang-orang berambut pirang itu ?. begitulah memang, karena sistem !. Memang benar kata Nurcholish Madjid bahwa “ untuk merubah sistem kita harus masuk kedalam sistem itu sendiri “, namun kenyataannya bahwa katak tidak akan bisa menyeberangi sungai yang arusnya deras, maka mau tak mau si katak harus ikut terbawa arus. Mungkin kita harus belajar dari Adam Weishaupt (pendiri Illuminati) yang mengajarkan politiknya mempengaruhi orang-orang, yakni mempengaruhi tiga orang dengan syarat setiap orang dari tiga orang tadi mempengaruhi tiga orang lagi, begitupun seterusnya dan dengan catatan menjalankan tujuan yang dimaksud. Atau kita harus mengikuti Novus ordo seclorum-nya Yahudi. Entahlah!!!

Selain itu, masalah mementingkan diri sendiri juga masih sangat kental di negeri kita. Misalnya saja konflik antar umat beragama, antar suku, antar daerah dan lain sebagainya. Miris memang, tetapi inilah kenyataan negeri ini. Anda setuju ??? Kalau saya setuju!!! (*)

Ternate, 15 Mei 2017

Iklan