“Perempuan bukan berada di pinggir sebuah masyarakat, namun ia merupakan poros dari sebuah masyarakat (Imam Khomeini)”

IMG_20170607_001802.jpg

Macarita– Pada dasarnya semua orang sepakat bahwa perempuan dan laki-laki berbeda. Di negeri ini, ketimpangan gender terlihat dari segala aspek antara lain dalam lingkungan keluarga, kependudukan, pendidikan, ekonomi, pekerjaan, dan dalam pemerintahan serta pembangunan. Perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan yang tidak seimbang ini juga sangat dipengaruhi oleh budaya dan kultural masyarakat yang terdiri dari banyak etnis dan suku. Setiap masyarakat suku di negeri ini mempunyai ciri khas tersendiri dalam memaknai peran perempuan. Peningkatan kesadaran dan pemahaman itu, harus dibarengi dengan adanya keterwakilan perempuan-perempuan dalam lembaga-lembaga negara, terutama lembaga pembuat kebijakan. Mengingat perempuan masih saja mengalami ketimpangan di bidang pendidikan, sosial, politik, ekonomi, dan pembangunan. Padahal Plato seorang Filosof dari Atena (Yunani) (dalam Gaarder, 2016: 157-158) pernah mengatakan perempuan dapat memerintah sama efektifnya dengan laki-laki, karna setiap inidividu dalam menjalankan kepemimpinan sebuah negara berdasarkan akal, sebab perempuan dan laki-laki mempunyai penalaran yang sama persis, asalkan kaum perempuan mendapatkan pelatihan yang sama, dan di bebaskan dari kewajiban membesarkan anak dan mengurusi rumah tangga. Sebuah negara yang tidak mendidik dan melatih kaum perempuan itu seperti orang yang hanya melatih tangan kananya.

Perempuan Gorontalo dalam Sejarah

Bicara soal pembangunan, jika kita merujuk dalam buku yang di tulis oleh Basri Amin (Menggerakkan Roda Jaman: Rujukan Sejarah Perempuan Gorontalo), bayak hal yang yang menjadi acuan dalam menelah perempuan dalam partisipasi pembangunan bangsa maupun negara. Dalam buku tersebut, menjelaskan bagaimana perempuan-perempuan gorontalo dalam catatan sejarah, telah mengambil peran dalam kepemimpinan dan pemerintahan. Peran kaum perempuan Gorontalo dalam kepemimpinan dan pemerintahan itu diulas secara gamblang dalam buku tersebut. Ternyata jauh sebelum kiprah Kartini memperjuangkan emansipasi, kaum perempuan Gorontalo sudah mengambil peran yang sejajar dengan kaum pria. Bahkan kaum perempuan menempati tempat tertinggi dalam struktur kepemimpinan dan pemerintah. Hal itu ditunjukkan oleh peran-peran yang diemban para Ratu (Mbui) dan Putri (Olongia). Seperti peran Putri Tolangohula (1330) yang mempersatukan Linula (kerajaan-kerajaan kecil, red) di Limboto. Kemudian ada Huladu yang menaklukkan Tanjung Api, menaklukkan secara damai tanah Posso. Ada pula Putri Moliye I (1450) yang kawin dengan maharaja Gorontalo Walango. Putri Moliye I berperan dalam memperluas kekuasaan ke Tomini Bocht dan mengkondisikan perdamaian Limboto-Gorontalo. Sedikitnya ada 42 ratu (raja perempuan) yang tercatat dalam Buku Sejarah Perempuan Gorontalo.

Dari buku ini kita bisa mengetahui sesungguhnya kaum perempuan Gorontalo sudah banyak berperan baik dalam pemerintahan maupun kemasyarakatan sejak masa lampau. Peran-peran kaum perempuan dalam pemerintahan dan kemasyarakatan terus berjalan hingga saat ini. Hal itu ditunjukkan dengan keberadaan kaum perempuan yang menempati posisi strategis di eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Melihat dari buku menggerakan roda zaman, bahwa banyak perempuan Gorontalo yang sudah menjadi pemimpin, seperti Ina Datau, Aisa Wartabone dan lain sebagainya. banyak keteladanan kaum perempuan yang ditunjukkan oleh pemimpin-pemimpin perempuan terlebih dahulu. Dimulai dari kepemimpinan yang tidak menujukkan berbagai kemewahan, padahal banyak fasilitas yang dimiliki oleh pemimpin tersebut.

Sejatinya buku ini memberi gambaran dan inspirasi, betapa perempuan Gorontalo di masa lalu begitu hebat. Perempuan Gorontalo kaya akan pengetahuan, tidak hanya mengerjakan banyak tugas untuk keluarganya, tetapi mereka juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. pengabdian perempuan Gorontalo sangat dibutuhkan dalam ikut berperan aktif dan berpartisipasi mewujudkan percepatan pembangunan dan kemajuan daerah. Perempuan adalah penentu arah dan zaman, masa depan Gorontalo yang maju dan mandiri, tak bisa lepas dari peran kaum perempuan.

Perempuan Dalam Pembangunan

            Perempuan Gorontalo jika di lihat dari peran dalam pembangunan masih tertinggal, khususnya di bidang pendidikan. Banyak sekali peran perempuan di Gorontalo yang masih tertinggal, bahkan paradigma yang terbangun di Gorontalo perempuan itu cukup diam dirumah dan mengurus anak dan suami. Padahal paradigma seperti itu yang harus dihilangkan, karena paradigma itu yang sudah terbangun sehingganya banyak perempuan kita yang memilih untuk tidak bersekolah. ketertinggalan tersebut harus dikejar melalui pemerintah dalam hal pendidikan.

Dalam dunia politik pun perempuan masih mengalami berbagai tekanan terutama soal jatah kursi di dewan, dan sebagainya. Masalah mengenai eksistensi perempuan di Gorontalo eksistensi perempuan di Gorontalo terutama dalam bidang birokrasi, pengusaha dan politik sudah cukup baik untuk ukuran propinsi baru seperti Gorontalo ini. Namun, eksistensi tersebut didapatkan terkesan begitu mudah. Di birokrasi, ada beberapa jabatan baik propinsi maupun kota/kab diisi oleh kaum perempuan yang didapat bukan karena penilaian kemampuannya, tetapi karena golongan kepangkatan yang telah memenuhi syarat, sehingga latar belakang pendidikan dan jabatan kadang tidak sesuai. Eksistensi kebanyakan perempuan di Gorontalo yang bergelut di Birokrasi, Politik dan Pengusaha masih terdongkrak karena kaum lakis, apalagi kalau melihat perempuans kebanyakan terutama Ibu Rumah Tangga, seringkali terjajah oleh kediktatoran suaminya.

Selain itu persoalan mendasar perempuan di Gorontalo adalah masalah adat – istiadat dalam kehidupan masyarakat gorontalo yang masih memegang peranan penting dalam mengatur tingkah laku dan cara hidup masyarakat meskipun untuk masyarakat perkotaan adat sudah mulai terkikis oleh modernisasi dan kapitalisme. Dalam adat Gorontalo, kedudukan perempuan masih dibawah laki-laki sehingga mengakibatkan perempuan terkesan pasrah dan menerima apapun yang terjadi baik itu benar atau salah. Oleh karena itu tentu dari pemerintah dalam hal pendidikan supaya pendidikan diberikan semua secara cuma-cuma. Perempuan juga harus diberi kekhususan karena bagaimanapun kekhususan itu penting juga dalam Undang-Undang. Program pemerintah saat ini harus lebih banyak juga bersifat pemberdayaan perempuan, karena selama ini sebagaian orang menganggap perempuan tidak mampu bekerja untuk urusan keumatan.

Dengan persoalan pembangunan suatu daerah, bangsa dan negara juga memerlukan campur tangan seorang perempuan. Karena di setiap masyarakat, perempuan merupakan bagian tak terpisahkan dan memiliki beragam potensi yang berpengaruh pada kemajuan serta kesempurnaan individu dan sosial seperti laki-laki. Dan peran utama mereka adalah menjadi ibu dan istri serta pendidik yang baik bagi generasi mendatang. Untuk itu bicara tentang relevansi atau tidaknya, saya meyakini bahwa di era kontemporer ini, dalam melakukan pembangunan bangsa dan negara, tentu membutuhkan campur tangan perempuan. Halini di karenakan perempuan juga mempunya keahlian khusus yang tidak di miliki oleh laki-laki, baik dalam bidang sosial, politik, maupun bakat dan kesenian, ini tentu perempuan dapat mengambil andil dalam hal itu, apalagi jika rujukan perempuan gorontalo dalam sejarahnya telah menjadi dasar pijakan kita bahwa perempuan gorontalo pernah mengambil peran dalam banyak hal spesifikasi dan bidang kerja kepemimpinan serta pembangunan. Perempuan tentu harus lebih berperan lebih aktif, berpartisipasi di bidang masing-masing, tidak boleh berhenti belajar, demi kebangkitan Srikandi-srikandi untuk masa depan Gorontalo.

Tidore: 06 Juni 2017


Baca Juga; Jangan Terpuruk Wahai Perempuan!, Dear WanitaKlinik Servis PerempuanR.A KartiniApa Kabar Perempuan?Rina Mansur Kaluku Duta Hijabersmuslim Gorontalo Tahun 2017Aku Seorang Perempuan

Iklan