Hujan deras membanjiri daerah pedesaan di provinsi Gorontalo. Jalan trans sulawesi itu tiba-tiba teraliri air. Mobil yang berjalan dalam kehati-hatiaan, yang di dalamnya kami berempat tertidur pulas tak sadar diri, hanya sopir yang giat menyetir mobil yang berjalan penuh tekungan dan tanjakan. Dari Isimu hingga Manado, rintihan hujan tak henti membanjiri jalan trans itu. Hingga sepanjang jalan dari Bintauna hingga Atinggola, rusak parah karna longsor dan banjir. Memang bencana alam sering terjadi, kapan saja Tuhan menghendaki. Kuasa tuhan tak sanggup di tandingi, bahkan pembangunan jalan-jalan kota, gedung-gedung yang mewah nan tinggi, yang didirikan bertahun-tahun itu dapat di robohkan dalam waktu sejenak.

Selamat Pagi Manado

Subuh menjelang, sebuah mobil yang baru saja parkir di tepi jalan, suasana terlihat ramai, suara burung-burung yang berkicauan hilang di telan kerumunan. Pagi itu, bahkan mentaripun belum nampak terbit di atas permukaan laut di ufuk barat. Aku terbangun dari tidur lelap di dalam mobil itu sepanjang perjalan panjang dari Gorontalo menuju Manado. Ya ini lah kota, aktifitas masyarakat kian ramai di waktu pagi, kemacetan merutin, keramaian, sampah yang bertumpukan di jalan-jalan, di perebutkan Cleaning Service dan pemulung. Pemulung-pemulung sedang asik memungut bekas Aqua di tong sampah, ibu-ibu sibuk mengalaskan trotoar dengan tikar dan berjualan buah-buahan, air minum dan makanan untuk sarapan pagi, gadis-gadis setengah baya itu terlihat segar bugar basah suar dan asik duduk beristirahat di depan toko roti dan minum minuman melepas dahaga. Kehidupan perkotaan tak seperti desa yang kental dengan kultur dan nilai-norma. Aku pikir bulan ramadhan di kampungku tak seperti di kota ini, tidak ada warung makanan yang buka saat Ramadhan tiba, apalagi saat makan atau minum di keramaian kota.

Ketika kaki telah melangkah jauh menuju dermaga, perempuan sebagai pedagang asongan itu, menghampiri dan meminta untuk membeli es dan makanannya yang di kantongi di keranjang itu. Entahlah, mereka tidak mengenal kalau ini adalah bulan ramadhan dan saya sedang berpuasa. Tidak ada kesadaran akan menghargai umat lainya yang sedang menjalani ibadah puasa di bulan ramadhan. Yah mungkin saja sebab dari daerah tersebut adalah penduduk yang mayoritas nya non muslim akhirnya tak pernah menyadari/peduli dengan bulan suci bagi umat muslim yang menunaikan kewajibanya menjalankan ibadah puasa. Ataukah karena memang kehempitan ekonomi masyarakat perkotaan (khusus pedagang asongan) sehingga harus berjualan di tengah hari tua, dalam bulan suci ini hanya demi mengais rizki untuk menunjang hidup.  

Pukul 19;20 Kapal yang sementara bertolak dari pelabuhan manado, kota yang setiap tahun dua kali kunjungan dari sedang bepergian dan kembali, kota yang punya pembangunan infastruktur yang kian maju dari waktu ke waktu. Selagi kepesatan pembangunan dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi, saat mata memandang betapa eloknya kota ini dari kejauhan kala kapal telah bertolak jauh dari dermaga.

Berlabu di Dermaga Jailolo

1

Saya baru sekali menginjakkan kaki di daratan Jailolo, daerah yang juga punya sejarah panjang di maluku kie raha ini sama halnya dengan Tidore, Ternate, dan Bacan. Keempat kerajaan maluku yang hingga saat ini masih melestarikan sistem kepemerintahan kesultananya. Kapal itu melaju ke Jailolo dan lanjut ke Ternate. Karena hari itu (di Manado) tidak ada jadwal kapal tujuan (langsung) ternate, dengan terpaksa saya harus menjalani perjalanan pagi itu untuk berkeliling menikmati keindahan pulau halmahera setelah mengarungi laut batang dua selama satu malam. Keindahan Pulau-pulau kecil yang bergugus di tepian-tepian pantai halmahera, memantik gairah untuk berfoto-foto yang berlatar distinasi panorama pantai yang menawan itu. Kapal yang berlabuh kurang lebih 5 jam dari jam 08;00 sampai 12;00 selama di dermaga jailolo itu, kemudian bertolak lagi menuju Ternate. Sehelai Koran Malut Post yang terbit 5 juni 2017 tertera di atas Ranjang penumpang kapal bernomor 373 tepat di samping ranjang saya, pada halaman 4 tertulis “Laut Halmahera di Jaga Ketat; Antisipasi Jaringan ISIS Masuk HALUT” Hati saya dedegan tiba-tiba membaca sekilas judul dari halaman Koran itu. “aparat keamanan di Halut terus menjaga keamanan di semua pintu masuk Halut, mengantisipasi masuknya ISIS dari Filipina Selatan” ulasan dalam paragraf pertama itu, mengingatkan saya pada saat kapal tiba berlabu di dermaga jailolo tadi, dari dek-3 saya berdiri di atasnya, di dermaga itu di penuhi polisi-polisi muda berbaret coklat berjejer barisanya siap masuk melakukan rajia, berbondong-bondong masuk berdempetan dengan para buruh-buruh kapal, barang saya yang di letakkan di atas ranjang itu juga sempat di rajia. Saya terheran-heran dengan rombongan baret coklat itu, dengan penuh tanda tanya dalam benak sebelum halaman koran itu dibaca. Ya Tuhan, Maluku Utara kali ini mendapat ancaman keselamatan dengan munculnya isu ISIS ini, telah terasa damainya negeri ini setelah pasca tragedi 1999-2000 lalu. Jangan sampai terjadi konflik Politik yang mengatasnamakan agama mengotori negeri ini, negeri yang di klaim sebagai negeri serambi, negeri bersemainya para raja-raja, negeri yang berjaya di pimpin oleh kerajaan islam sepanjang sejarah nusantara.

Saya memanfaatkan waktu (5 jam) itu untuk turun dari kapal dan berjalan-jalan menyusuri pasar-pasar terdekat dari dermaga. Amar, Laki-laki dari Bacan itu hendak berbelanja segala buah-buahan yang di jual di pasaran. Menurutnya Jailolo di kenal dengan daerah penghasil buah-buahan terbesar di sektor pertanian di Maluku Utara. Ya, memang demikian, kita di Tidore pun mengenal daerah ini sebagai penghasil buah segala buah jika datangnya musim. Bahkan di pasar tradisional di berbagai daerah maluku utara, termasuk tidore, menerima distribusi buah-buahan dari daerah ini. Kami berdua lama berjalan-jalan di daerah ini, di lorong-lorong kami menyusuri entah tak tau apa tujuannya. Hanya untuk berkenalana dengan maksud karna baru sekali kaki menginjak pulau jailolo.

DSC00194

Warna Cat

Tak hanya di jaillolo, Ternate dan bahkan di Tidore, terlihat jauh dari laut, kala kapal berlaju menuju Pelabuhan Jenderal. A. Yani Ternate, spanduk dan baliho terpampang rapi berjejeran di pinggir jalan, Foto-foto berparas elok dan kata-kata membangun dan menggugah hati yang di tulis di permukaan Baliho dan spanduk itu setelah berjalan berjam-jam di ketiga kota itu. Ini sangat mengesan bahwa maluku utara saat ini sedang saling bertempur menyambut pesta Demokrasi Pemilihan Gubernur di tahun 2018 nanti. Foto-foto yang di pampang di baliho-baliho itu, memoles penampilan bernuansa islami, berpeci dan berlagak agamais dengan kedua tangan-lima jari telumjuknya bertepuk keatas (tede suba) memberi hormat kepada bala rakyat kalau pribadinya adalah manusia yang beriman. Semoga ini bukan sebuah kebohongan publik atas dasar tujuan politik semata. Kenyataan-kenyataan sosial yang kita alami saat ini, dari sistem politik pada hari ini hanya mengenal kekuasaan yang menunjang kepentingan, akibatnya rakyat hari ini juga dengan kepentingan, banyak hanya di jadikan alasan slogan dan retorika politik dan hanya manis dibibir, rakyat banyak masih tetap miskin dan tertindas.

speed sofifi

Dari pelabuhan Bastiong ternate, ombak menghantam Speat Bot itu berlaju kencang menuju Tidore. Musim hujan melanda, saya turun dari spiet di pelabuhan Rum, dan ojek yang berjalan tertati-tati mengejar rerintikan hujan yang membasahi jalan raya menuju kampung, terbasah pasrah berselimut dingin, tubuh menggigil saat di atas motor, luar biasa keindahan jalan kampung-kampung di tidore, bunga-bunga berkeindahan menghiasi temaramnya jalan raya, pagar-pagar rumah bercat serasi dari kapung yang satu ke kampung yang lain. Tahun ini warna cat pagar kian beda dari tahun-tahun kemarin, merah darah itu mewarnai pagar-pagar rumah. Oh iya, ternyata setiap warna cat pagar itu sesuai dengan warna partai yang berkuasa di daerah ini, sebagaimana tahun kemarin. Saya teringat dengan tahun kemarin, cat-cat warna laku terjual di toko-toko habis di borong masyarakat, waga masyarakat hanya dapat menjalankan dan mengikuti perintah. Yah memang itulah kebijakan.

FB_IMG_14887847475463219

Tidore, 15 Juni 2017

Iklan