FB_IMG_14929318002495743

Arti Derita

Duduuk dalam diam Merundungi nasib yang malang

Terbesik suatu dugaan

 Mungkin ini ketidakadilan tuhan

Katanya Engkau dimana-mana

Tapi Engkau tak melakukan apa-apa

Apakah Engkau ada

Atau mungkin hanyalah kata

Bagiku Engkau dalam keberadaan

Hanyalah sebatas ucapan

Mungkin Engkau adalah proyeksi kata ADA dalam suatu derita….

Apakah Engkau memang ada, dan

Hanya ingin meyaksikan suatu keadaan

Tanpa uluran bantuan Dalam suatu perbaikan

Kata mereka, ” Engkau ingin hamba yang pandai bersukur” Namun bagiku dalam suatu realita , itu adalah hokum yang tak berakar

Terlalu banyak keadaan .

Begitu dalam , dalaam suatu kertepurukan

Derita mungkin itu permulaan kata ada

Sang Maha Kuasa dan Pencipta pengatur Alam Raya

Atauuuuu…..

Mungkin……

ini adalah suatu drama yang disketsakan oleh derita

Gorontalo 3 Maret 2017

 

Sapalah Aku

Malam di tengah hamparan sawah
Jiwa seorng insan manusia ini menemukan sebuah ketenangan
Tapi entahlah seakan hati ini menangis
Apa ini kebahagian atau entahlah apa itu

Suasana ini mengigatkanku akan lika liku perjalanan

Malam ini
Hanya ditemani sepi dan angin malam
Jiwa ini bagaikan tanah gersang yg tak berpenghuni
Seakan dunia ini berputar dalam waktu yang terhenti
Jiwa in telah dihuni kehampaan
Yang bahkan tak pernah ku bayangkan

Sungguh malam ini aku membutuhkan sebuah sapaan
Sapaan dari seorang insan
Yang ditakdirkan dlam kehidupan

Malam in seakan
Ruang dan waktu berjalan tak berdampingan

 

Terbelenggu Kenangan

Di bawah rintik hujan…
Aku teringat akan mimpi yang terjadi semalam

Alam bawa sadar ku telah memprogram dirimu, dalam memori yang tak terlupakan
Dirimu bagaikan virus yang membawa kebahagian, namun efeknya sebuah kesengsaraan.

Hadirmu dalam sekejap mata….
Membuat usaha ku tak berarti apa-apa

Begitu dalam keriduan ku
Sampai tak mampu ku ungkap dengan kata-kata

Terlalu banyak bingkai kenangan, yang kita lalui bersama….
Ingin rasanya ku menghapus semua kenangan
Tapi…terlalu dalam dirimu tertancap dalam sebuah ingatan

Kini aku sadar
Hadirmu adalah sebuah kesetaraan yang tak mampu disetarakan dengan kedamaian

Kenangan yang engkau berikan adalah sebuah kesengsaraan dalam kebahagian

Bersamamu ingin ku ukir bingkai masa depan
Tapi…..
Engkau hanya membuat bingkai kenangan dalam kebersamaan..
Bersamamu tinggallah khayalan dalam kenyataan

Kini bayangmu sudah tak bersama diriku

Bayangmu tlah berjalan di kejauhan
Kini bayangmu dalam bayangku tinggallah sebuah kenangan yg tak terlupakan

Kerinduan dibawah rintik hujan

 

Nyanyian Nestapa

Suara dari rintik hujan malam ini masih terdengar nyaring … bagikan suara nyayian alam nan merdu
Hembusan angin membawa selimut malam yang dingin dalam kesepian
Ini adalah rasa yang tak mampu kugambarkan

Dingin dan sunyi malam ini membawaku dalam kerinduan
Sebuah kasih yang telah menjadi ilusi
Menjadi momok ketakutan marangkai bingkai masa depan
Aku terlalu jauh masuk dalam sebuah bayang
Membuatku jatuh dalam jurang kegelapan
Tanpa penerang sebagai pelita untuk maju kedepan
Kini harapan tinggallah impian
Yang berputar mengikuti roda kehidupan
Tak ada kepastian dalam perjalanan
Kuterjebak sebuah bayang dalam bayang

Jalan yg kususuri tak seorangpun yg kutemukan
Teman, kawan, bahkan seorang lawan
Dalam lamunan aku melihat sebuah cahaya di kejauhan
Aku berlari mengejar dengan kesadaran
Lagi-lagi aku tersungkur, dibebani sebuah bayang
Kecemasan, ketakutan, keputusasaan menjadi momok kebangkitan

Aku benar-benar membutuhkan sebuah sapaan
Mrnjadi penerang dalam kegelapan
Agarku mampu kedepan dengan kepastian
Tanpa bayang yang menaungi dalam kegelapan

 

Sososk Misterius

Malam ini begitu ramai
Hening dan sepi, telah terusir dari hati
Begitu ramai, sehingga tak ad ruang untuk kata menanti
Aku sadar dan terbangun dari mimpi, yang telah lama membelengguku dalam dunia yang sepi

Seakan ada tangan yg meraihku dari kegelapan
Tanpaku tau siapa gerangan
Tak sempat ku ucapkan terima kasih
Engkau telah hilang dalam sepi dan sunyi

Roda kehidupan telah berputar
Dan waktu telah menunjukan jalan
Melalui dirinya sebagai perantara
Menunjukanku jalan kedamaian

Kiniku melihat cahaya di kejauhan
Setapak demi setapak kaki ini meninggalkan sepi yang kelam
Tapi cahaya itu masih dalam jarak yang taak dekat
Tapi kaki seakan tak berhenti melangkah, seakan ada sebuah dorongan yang berlandaskan tekad

Terima kasih untukmu
Yang rela menuju kegelapan
Hanya untuk meraih tangaku


Baca jug: Puisi (1), Puisi (3), Puisi (4)

Penulis: Siswandi Tamala, Mahasiwa UNG, Fakultas MIPA. Aktif di HMI (MPO)

Iklan