ZZZZZZZZZ

Macarita– Seiring berjalannya waktu lahirlah seorang pemuda yang tampil kedunia dalam masa-masa akan mundurnya bapak 32 tahun. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan tak terasa waktu sudah mendekati dua dekade-an. Masuklah pemuda itu ke ranah perkuliahan. Ranah dimana akal dipertajam dan mentalitas diasah. Ranah yang dimana lahir orang-orang besar yang mengubah bangsa dan negara. Mengubah dari skala regional, nasional hingga internasional. Ranah yang dimana kita dituntut untuk menafikan karakter apatis, hedonis, pragmatis dan berbagai istilah asing lainnya. Berjuanglah pemuda itu yang niatnya akan konsisten dengan nilai-nilai kebenaran.

Disela-sela waktu dia selalu mengisinya dengan kegiatan yang membutuhkan kesabaran. Kegiatan yang melatih kejenuhan. Ya!!! Baca, menulis dan diskusi. Baca yang menjadi fondasi, titik pijak, start awal untuk mengetahui sesuatu. Baca yang kemudian ditransisikan ke menulis sebagai manifestasi membaca kemudian ditransisikan lagi ke diskusi sebagai penambah/pengisi lowongan pikiran yang masih kosong. Namun pemuda itu bingung dengan pemuda lain yang acuh dengan ketiga kegiatan/aktivitas sakral ini. Mereka selalu sibuk mengurusi musuh yang nyatanya menuntun mereka kearah kebodohan. Wanita, kasur, permainan adalah beberapa musuh yang mengarahkan mereka kearah pengasingan rasionalitas.

Baca juga; Wajah Mahasiswa di Era-Reformasi

Saya teringat pada Max Weber yang pernah mengatakan, “Membuang-buang waktu merupakan dosa pertama dan secara prinsip dosa yang paling mematikan. Rentang waktu kehidupan manusia secara tidak pasti adalah pendek dan sangat berharga untuk memastikan pilihan hidup seseorang. Kehilangan waktu melalui sosialitas, pembicaraan tidak menentu, kemewahan, bahkan tidur terlalu banyak dari yang semestinya bagi kesehatan (6 jam dan paling banyak 8 jam) merupakan kesalahan moral absolut”, maka saya berestimasi bahwa secara tidak sadar mereka telah dieksploitasi dan telah berada dalam cengkeraman kasur empuk yang membayang-bayangi mereka dengan mimpi-mimpi indah.

Hal ini sependapat dengan apa yang dikatakan oleh seorang motivator ternama Mario Teguh bahwa, “Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah”. Begitupun dengan apa yang dikatakan Richard Wheeler bahwa, “Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tidur”. Tambahan ini saya kira sudah sangat jelas bahwa kasur adalah salah satu musuh terbesar mahasiswa.

Baca Juga: Penjara Pemikiran MahasiswaPenjara Pemikiran Mahasiswa

Selain itu, mahasiswa dibuai dengan aneka macam permainan yang ada di media-media elektronik. Hal ini secara tidak langsung mengarahkan mahasiswa kearah kemiskinan intelektual. Mahasiswa juga dipengaruhi dengan aneka video porno yang merefleksikan mahasiswa untuk mencoba yang pada akhirnya akan berimbas pada penyesalan. Mungkin mereka lupa dengan salah satu idiom kuno, “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”.

Saya juga teringat dengan satu peribahasa unik dan lucu yang pernah disuntil dan didialogkan dalam film “Comic 8” yakni “Ada 3 faktor yang memecah belah. Harta, tahta, wanita”. Ini secara eksplisit menjelaskan tentang kuatnya konspirasi harta, tahta dan wanita yang sejatinya harus disisihkan mahasiswa setidaknya untuk sementara waktu.

Baca juga; Renungan Mahasiswa Hari Ini

Saya kira, pembaca seharusnya terrefleksi dan sadar akan pentingnya menjadi mahasiswa. Terutama pembaca yang mahasiswa!!!!!

“Kamu tidak harus membakar buku

untuk menghancurkan sebuah kebudayaan.

Hanya perlu menyuruh orang-orang

untuk berhenti membacanya”.

(Ray Bradbury)

***

Ternate, 20 September 2017

Iklan