images
penamerahmu.com

Sekarang ini, pasti kita sangat lekat dengan yang namanya senior dan junior yang selalu diberlakukan dalam institusi atau organisasi. Siapa yang terlebih dahulu masuk ataupun berkecimpung dalam sebuah institusi atau organisasi, maka orang itu resmi menyandang status senior dan siapa yang terlambat masuk  dalam institusi atau organisasi itu maka dia akan menyandang status sebagai junior. Tanpa mempertimbangkan kualitas individunya.

Senior merupakan arti kata dari individu yang lebih tinggi derajat, jabatan, pengalaman, serta ilmu pengetahuannya. Sedangkan junior di ibaratkan kertas putih yang kosong dan membutuhkan setiap pengalaman dan pengetahuan dari individu yang menyandang status senior untuk membuat coretan dalam kertas putih kosong tersebut.

Baca juga: Senioritas dan Junioritas; Bentuk Pembunuhan Karakter

Senior dan junior merupakan bentuk kata yang sering kita jumpai dalam berbagai kelompok, komunitas ataupun  organisasi masyarakat yang ada saat ini. Contohnya organisasi dalam dunia kampus seperti, BEM, SENAT, dan HMJ Yang selalu menjunjung tinggi kata senior dan junior.
Kemudian apa yang menjadi factor utama munculnya arti kata senior dan junior???

Sebenarnya awal kata dari senior dan junior muncul, karena adanya rasa tidak ingin kalah, iri dan takut tersaingi, entah tersangi kepopuleran, tersaingi pangkat, jabatan ataupun pengetahuannya. anggapan para senior adalah mereka lebih mengetahui apapun dalam berbagai bentuk misalnya mata kuliah, dan kegiatan yang ingin diselenggarakan. Sebenrnya ini merupakan bentuk keakuan diri tanpa landasan kualitas yang sebenarnya.

Hal ini juga pernah saya alami, saat saya menjadi mahasiswa baru, waktu itu saya resmi menyandang kata junior dan harus tunduk, patuh terhadap senior. pernah satu ketika pada saat OSPEK salah seorang senior berkata “Kami para senior mengambil 99 % hak kalian (junior) dan kami sisakan 1 %, yaitui hak untuk bernafas dan kalian (junior) harus mematuhi Undang-Undang Senior yakni. pasal 1 Senior tidak pernah salah.  Pasal 2 Jika senior salah kembali ke pasal 1”.ini merupakan salah satu bentuk penindasan yang secara sadar dilakukan oleh para senior dengan keakuan bahwa kebenaran hanya milik senior. sebenarnya secara tidak sadar para junior telah telah di bungkam agar tidak berfikir kreatif dengan kebijakan-kebijakan atau aturan yang dibuat para senior.

Baca juga: Pencuri WIFI Kampus

Kemudian apa yang menjadi alasan para senior melakukan itu?

Mereka menganggap bahwa ini merupakan salah satu cara untuk membentuk mental para junior, namun dengan cara seperti itu bukanya mental para junior yang terbentuk, tapi secara tidak langsung di jadikan sebagai ajang balas dendam tertanam di mainset para junior. Ahirnya saat mereka menjadi seorang senior nantinya, mereka akan melakukan hal yang sama terhadap para juniornya lagi, dan hal ini akan terus berulang-ulang seperti rantai balas dendam yang tak ada ujungnya.

Mereka lupa bahwasanya mahasiswa merupakan kaum intelektual yang memiliki keluwesan akan ilmu dan wawasan yang mereka miliki. Seharunya kita sebagai mahasiswa lebih mengerti bahwasanya dalam dunia pengetahuan kita tidak mengenal yang namanya kata senior dan junior hanya dari tahun angkatan atau siapa yang terlebih dahulu berkecimpung dalam suatu institusi atau organisasi. Tapi yang membedakan kita adalah siapa yang mampu mendobrak pintu-pintu ilmu pengetahuan yang ada seperti kata sebuah pepatah “Jadilah seperti padi semakin berisi semakin merunduk”, tapi hari ini yang kita lihat adalah seseorang yang tanpa kualitas yang memumpuni terus berkoar-koar menunjukan keangkuhan dirinya layaknya sebuah pepatah “ Tong kosong berbunyi nyaring”. Kita harus ingat kitalah ujung tombak dengan membawa tanggung jawab perubahan zaman.

Selayaknya kita sadar akan hal itu, merubah mainset berpikir, pelampiasan ini dalam seharusnya di lakukan dalam hal yang lebih positif, agar rantai balas dendam bisa terputus pada generasi berikut , biarkan kita bentuk tradisi baru yang dapat menciptakan generasi baru yang berkarakter dan bermental bajah tanpa dendam. Tapi, jika masih ada oknum senior yang mengatakan tentang Undang-Undang Senior, maka katakanlah, “Tutur bahasa senior sangat luar biasa, layaknya orang yang tak pernah mengecap dunia pendidikan”.

                                                                                                            Gorontalo, 4 Oktober, 2017


Penulis: Siswandi Tamala, Mahasiwa UNG, Fakultas MIPA. Aktif di HMI (MPO)

Iklan