Kemolekan cahaya menjemput malam, burung-burung berkicau begitu merdunya, terdengar lantunan nyanyian syahdu sastrawan dari negeri senja, sepoi-sepoinya angin turut larut dalam merdu bercampur peluh.

Perjalanan singkat menyisakan serpihan kenangan, kala sore merindukan ketenangan, kesucian jingga mengisi setiap bait-bait hampa dalam aksaraku, terlepas semua pesona senja bertaburan jingga.

Aroma-aroma rindu melingkari imajinasi ini, berusaha melawan namun diam tanpa goresan, mungkin jingga larut akan senja, sebab senja selalu bertamu tanpa mengenal waktu, terkadang hujan, terkadang mendung, terkadang juga abstrak, dibalik itu semua senja pasti akan selalu hadir walaupun kau sendiri menolak akan kehadirannya.

Senja berjingga menuangkan keharuman pesona wangian pandan, dikala setiap teguhan cangkir sore hari, duduk manis bergandengan tangan, menatap kedepan dibarengi jiwa penuh harapan, restu Sang Ilahi Rabbi akan menghantarkan jingga bertekuk lutut pada senja.

Gorontalo, 21 Oktober 2017

Iklan