Macarita– Pemuda Indonesia kini mengalami degradasi moral yang signifikan, budaya bangsa asing bagaikan santapan lezat sehari-hari, tanpa sadar kita telah mengenyam dogma-dogma para perusak citra bangsa ini. Pemuda Indonesia lebih senang di kasih uang ketimbang berusaha mendapatkan uang, hal yang lumrah terjadi di negeri merah putih saat ini, pelecehan seksual dimana-mana, pencuri dari hari ke hari, rata-rata dilakukan oleh kaum pemuda, letak kewibawaan pemuda di negeri hilang kendali. Pemuda Indonesia terjebak dalam pergaulan bebas, mabuk-mabukkan, balapan liar merupakan suatu kebutuhan yang harus di penuhi, kurangnya kestabilan dari pihak orang tua menyebabkan pengaruh buruk terhadap eksistensi diri sendiri. Pemuda Indonesia lebih doyan hura-hura ketimbang membaca buku, bahkan Indonesia menempati urutan ke dua paling bawah sedunia dalam hal membaca buku serta menunjang kreativitas para generasi muda.

Apa yang salah dengan negeri ini, apakah negeri ini yang tak mampu mengajarkan akan norma-norma kehidupan bagi generasi muda, ataukah para generasi muda sendiri yang sudah terbiasa dengan keadaan sekitar dan tak mampu untuk memelihara budaya sendiri. Tak salah jika salah satu tokoh Filsafat (Aristoteles) mengatakan bahwa Jika ingin merubah kultur maka rubahlah sturuktur, dan jika ingin merubah struktur maka rubahlah kultur, kita terjebak akan histori kaum asing, sebab merubah bukan sesuatu yang gampang, dibutuhkan ketekunan tekad menyongsong satu barisan melawan kezaliman negeri ini.

Saat ini telah memasuki usia 89 tahun, usia yang tak muda lagi, ibarat manusia sudah menua, rambut memutih, mata tak sanggup melihat lebih jauh, serta tulang yang tak sanggup lagi menyangga tubuh ini. Oleh karena itu, sebagai pemuda Indonesia mari sama-sama kita jaga kestabilan negeri ini, dari persatuan, tanah air, serta bahasa, jangan wariskan degradasi kultur yang sesat pada generasi kita.

Kilas balik sejarah

Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya bangsa Indonesia. Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin Isi Dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda Kedua adalah sebagai berikut :

 PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).

KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).

KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).

Dalam peristiwa sumpah pemuda yang bersejarah tersebut diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali yang diciptakan oleh W.R. Soepratman. Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan. Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya hingga sekarang.

Gorontalo, 28 Oktober 2017

Iklan