Macarita– Ekonomi dan politik merupakan satu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan karena, dimana ada ekonomi maka bisa di pastikan di situlah politik pun ikut bergelut. Maka untuk melihat kenyataan tersebut geopolitik dan geo ekonomi hadir sebagai sebuah wacana dalam melihat kenyataan dunia yang sudah menjadikan ekonomi dan politik sebagai Tuhan yang patut di puja. Bahkan wacana geo politik dan geo ekonomi sudah menjadi wajah dunia (Face Of The Word).

Geo politik tentunya menjadi pisau analisa terhadap kondisi perpolitikan Indonesia pada umumnya dan Maluku Utara pada khususnya dan lebih mengacu pada pemetaan wilayah atau kondisi geografis (Politik Geografis). Melihat kondisi perpolitikan Maluku Utara dari paradigma yang berdasarkan kenyataan hal ini tentunya menjadi suatu pekerjaan rumah yang besar dalam meneropong perpolitikan tak jelas dari para elit politik. Maka dari situlah kacaman geo politik di gunakan untuk sebagai wacana dalam melihat kenyataan sebenarnya yaang telah di poles sedemikian rapi oleh pemegang kekuasaan selain itu juga wacana geo politik mampu menepatkan diri pada porsinya masing-masing.

Geo ekonomi tentunya lebih mengacu pada wacana ekonomi baik pada tingkatan Global, Nasional, maupun lokal. Geo ekonomi pun merupakan teropong dalam melihat bagaimana kaum-kaum elit pemilik modal memainkan tipu muslihatnya  dengan melakukan kejahatan di balik batu. Sebab itulah Geo ekonomi mengambil posisi penting dalam menganilisa ekonomi Maluku Utara yang dari waktu ke waktu tidak menunjukan kejelasan.

Kenyataan Ekonomi dan Politik Maluku Utara

Fakta memang telah berbicara banyak tentang kenyataan ekonomi dan politik Maluku Utara, yang semakin hari menjadi suatu kepentingan kaum elit dengan mengorbankan para rakyatnya. Melihat realitas yang sempat terjadi di negeri Nuku, bagaimana Politik kaum elit sangat memanfaatkan tenaga rakyat dalam menopang kepentingan mereka. Meneropong kondisi politik Malutu Utara dari geo politik tentunya kita akan melihat bagaimana kepentingan para kaum elit Politik yang lebih mementingkan kepentingan idnividu sedang menari-nari di atas penderitaan rakyatnya.

Pesta Demokrasi, permainan isu dan perang saudara yang saling berhadap-hadapan seperti menjadi sebuah game seru bagi para gamers politik. Tidak berhenti sampai di situ, jika sedikit menengok sejarah perebutan kursi kekuasaan tertinggi di Maluku Utara maka akan sangat jelas terlihat segala cara di mainkan dan rakyat di korbankan itulah kenyataanya. Kursi kepemimpinan bukan lagi sesuatu yang sakral, kepentingan memperkaya diri dengan segelintir harta milik rakyat serta membiarakan Maluku Utara terus terpenjara dalam ketertinggalan di berbagai sektor. Politik yang terbelit-belit serta rekayasa kemenangan menggunakan uang adalah sesuatu yang tidak patut di contohi.

Sedangkan meneropong Maluku Utara dari sisi ekonomi tentunya bisa di bilang nyaris senasib dengan politiknya. Morotai gerbang Pasifik, Ternate Kota Metropolitan, Tidore dan Halmahera menjadi pusat perekonomian serta berbagai potensi pada daerah lainnya tidak di manfaatkan semaksimal mungkin dalam meningkatkan kemajuan ekonomi Maluku Utara. Hal ini tentunya semakin berdampang pada ketimpangan ekonomi yang semakin merajalela, kebijakan pembangunan yang lebi pro terhadap segelintir penguasa pemilik modal lalu membiarkan berbagai tempat wisata dan pulau-pulau yang punya nilai estetika sangat mahal di biarkan terdampar begitu saja tanpa kejelasan.

Bahkan Cengkeh dan Pala yang pada zaman kolonial mampu merajai pasar global di biarkan begitu saja tanpa ada perhatian dari Pemerintah. Padahal jika di perhatikan Cengkeh dan Pala dapat di jadikan ujung tombak perekonomian Maluku Utara dalam jangka panjang. Tidak berhenti sampai di situ saja, Kopra pun di biarkan begitu saja sehingga masyarakat lebih menaruh kepercayaan kepada para pengusaha dari negeri Tirai Bambu di banding kepada pemerintah daerah seperti yang terjadi di Desa Tawa Kabupaten Halmahera Selatan serta Kecamatan Kao Kabupaten Halmahera Utara.

Bahkan yang paling sangat di sayangkan, Batu Bacan yang sempat tenar pada tahun 2015 di biarkan begitu saja sehingga para investor lokal maupun asing memanfaatkannya sesuka hati demi kepentingan individu tanpa memperdulikan kondisi daerah tersebut. Masuknya kapal-kapal asing serta para investor luar negeri dan wisatawan mancanegara dalam mencari batu Bacan di anggap sebagai pencapaian besar, padahal tanpa kita sadari kehadiran investor ini adalah sebagai alat pengintai untuk menguras habis sumber daya Maluku Utara. Kenyataanya batu Bacan hanya tampil kepermukaan sejenak saja lalu setelah puas di konsusmsi oleh kaum-kaum elit kapitalis batu Bacanpun seperti hilang di telan waktu.

Bahkan yang sangat memprihantan adalah tidak adanya kebijakan tegas Pemerintah mengakibatkkan perusahan-perusahan liar hobi membuang limbah sembarangan dan sesuka hati memeras sumber daya Maluku Utara. Seperti yang terjadi di Kecamatan Malifut bagaimana PT NHM sebagai perusahan tambang emas menancapkan kakinya,lalu berdasarkan keterangan dari salah satu mahasiswa yang berasal dari Kecamatan Kao, hadirnya perusahan-perusahan liar dengan hobi membuang limbang sembarangan membawa dampak yang sangat besar terhadap kondisi alam dan masyarakat setempat. Bahkan sepanjang perairan Kao-Malifut para biota laut seperti ikan sudah tidak lagi menampakan diri karena pembuangan limbah, bahkan menurut keterang beliau perusahan-perusahan ini sudah hadir sekitar 10-15 tahun yang lalu.

Meskipun masyarakat telah berinisiatif untuk melakukan aksi penolakan besar-besaran tetapi hasilnya tetap tidak ada kebijakan tegas dari pemerintah terhadap hal ini. Sungguh mencekam kondisi ekonomi Maluku Utara, pergulatan politik yang tak pernah menuai kejelasan serta persengkongkolan antara para elit politik dengan kaum elit pemilik modal untuk menjalankan kepentingan pribadi ternyata benar-benar mengorbankan rakyat. Meskipun dengan berbagai sumber daya ekonomi yang besar serta dana pemerintah yang bisa di bilang mencapati angka Miliyaran tetapi bahkan jalan serta tower penangkap signal di Kao,Kecamatan Kau Barat bahkan tak mampu di sediakan. Negeri inikah yang miskin atau para petinggi kekuasaan yang berpura-pura buta terhadap nasib rakyat.

Melihat kenyataan ini, maka bisa di katakan ekonomi dan politik Maluku Utara sudah seperti kapal tua yang hampir hancur dan kehilangan arah, meskipun sudah berulang kali berganti Nahkoda tetapi arah berlayarnya masih tak punya kejelasan.

Geostrategi Sebagai Sebuah Solusi

Kehadiran globalisasi telah memberi kebebasan di sektor ekonomi dan politik, menciptakan manusia tanpa identitas dan tanpa budaya menjadi misi penting para pemegang kekuasaan global. Melihat kenyataan ini Geostrategi tampil sebagai sebuah strategi baru dalam membendung globalisasi yang semakin membabi buta. Melihat hal tersebut maka Geostrategipun mengambil peran yang sangat vital dalam menciptakan strategi-strategi baru dalam menghadapi hegemoni ekonomi politik Maluku Utara yang tak kunjung jelas nasibnya. Wacana ekonomi politik yang semakin marak di perbincangkan oleh masyarakat menyangkut tidak kunjung jelasnya masa depan Maluku Utara menjadikan hal ini sebagai sebuah kekhawatiran yang mendalam bagi masyarakat.

Maka dalam melihat kenyataan ini,masyrakatpun harus memiliki strategi ataupun paradigma baru dalam menghadapi dan melawan kenyataan tersebut. Tentunya dalam melihat hal ini geostrategi dapat menjadi sebuah teropong untuk menciptakan kemajuan bagi Maluku Utara dengan memanfaatkan letak geografis Maluku Utara yang sangat strategis, Keadaan dan kekayaan alam (flora, fauna, dan mineral baik yang di atmosfer, muka maupun perut bumi) dikelola dengan dasar 3 asas: asas maksimal, lestari, daya saing, serta keadaan dan kemampuan penduduk (jumlah, komposisi, dan distribusi), dan yang paling terakhri jangan pernah takut melawan ketidak adilan sebab dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat menjadikan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi.

Memahami Posisi dan Potensi Maluku Utara

Sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia,maka Maluku Utara harus mampu memahami posisinya agar mampu mengambil peran yang sangat strategis dalam menyesuakain diri dengan kemajuan dunia dan punya daya saing dengan daerah-daerah lain.

Geo posisi Propinsi Maluku Utara dalam perspektif regional maupun internasional berada pada posisi strategis karena terletak di bibir pasific (pasific reem) yang secara langsung berhadapan dengan negara-negara Asia Timur dan negara-negara pasific serta merupakan lintasan antara dua benua Asia dan Australia dan dua samudra Hindia dan Pasifik. Pada era globalisasi area ini merupakan area yang pertumbuhan ekonominya sangat pesat akibat pergeseran pertumbuhan ekonomi dari Kawasan Eropa serta menjadi daerah strategis pelayan internasional dan jalur perdagangan dunia.

edit
SEAsite1065 × 491Search by image

Ket: Garis Hitam menandai jalur perdagangan dunia yang melewati Maluku Utara.

Gambar pada peta di atas sekaligus menjadi bukti bahwa Maluku Utara berada pada posisi yang sangat strategis karena menjadi jalur perdagangan dunia dan berada di gerbang pasifik. Posisi strategis ini seharusnya mampu menjadi sebuah senjata pendobrak bagi kemajuan Maluku Utara di berbagai sektor.

Posisi Morotai yang dapat di jadikan pelabuhan Internasional karena berada di bibir pasifik, kondisi Kota Tidore yang masih sangat terjaga dari segi budaya dan tradisi dapat di jadikan sebagai Kota Pendidikan, Halmahera dapat di jadikan pusat perekonomian karena sumber daya alam yang melimpah dan Ternate dapat di jadikan Kota Metropololitan yang kaya akan sejarah dan tempat wisata karena berkaca pada sejarah Ternate selalu menjadi pusat pemerintahan baik pada zaman kolonial maupun zaman kesultanan.

Selain itu juga kondisi laut Maluku Utara menyimpan sumber daya minyak mentah yang sangat besar, tak berhenti di situ saja Maluku Utara menyimpan potensi wisata bahari yang luar biasa diantaranya Pulau Dodola dan Pantai Tanjung Sopi di Kabupaten Pulau Morotai, Pulau Oto, dan Pulau Tengah di Kabupaten Halmahera Timur, Pulau Lelei, dan Pantai Gura Ici di Kabupaten Halmahera Selatan selain itu juga Maluku Utara menyimpan keindahan panorama bawah laut yang bisa kita temukan di Teluk Jailolo Kabupaten Halmahera Barat, Teluk Sulamadaha di Kota Ternate serta perairan Pulau Widi dan Pulau Kusu di Kabupaten Halmahera Selatan.

Namun tidak berhenti sampai di situ, secara strategis Maluku Utara dapat di katakan sebagai daerah maritim karena memiliki wilayah laut yang lebih luas di banding daratan. Setelah melihat potensi yang besar seperti ini Pemerintah Provinsi, Kota, maupun Kabupaten sudah seharusnya menggambil sebuah tindakan untuk menggarap kekayaan laut ini sebelum investasi Negara lain datang dan menguras habis kekayaan laut kita,arah pembangunan sudah harus di arahkan ke laut, meningkatkan bantuan dan kualitas untuk para Nelayan di Maluku Utara berupa alat penangkap ikan,kapal ikan,budi daya perikanan dan budi daya rumput laut,selain itu juga pembenahan infrasturktus di berbagai tempat wisata serta Rencana Pembanguna Jangka Menengah (RPJM) lima tahun kedepan (2014-2019) yang menjadikan sektor maritim sebagai prioritas sudah seharusnya di jalankan agar rencana dari pemerintah provinsi Maluku Utara ini benar-benar terlaksana jangan sampai hanya menjadi rencana, rencana, dan seterusnya rencana tanpa bukti. Sudah saatnya Maluku Utara berjaya dan punya daya saing dengan daerah-daerah lain di Indonesia,karena siapa yang menguasai laut dia akan menguasai Ekonomi dan yang menguasai Ekonomi akan menguasai dunia.

Belajar Kepada Sejarah

Sejarah merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan suatu Negara maupun Daerah. Sebab kehadiran suatu Daerah ataupun Negara tentunya memiliki sebuah sejarah di masa lalu yang kemudian membentuk kondisi saat ini. Sebab itulah sejarah patut di jadikan sebuah landasan ataupun pelajaran agar mampu di implementasikan meskipun di waktu dan kondisi yang berbeda, sebab sejarah itu pasti terulang kembali namun di waktu dan kondisi yang berbeda, kejadian 1966 yang di sebut sebagai Kudeta Soekarnoo akhrinya terulang kembali pada 1998 kudeta Soeharto, ini menjadi salah satu bukti bahwa sejarah akan terulang kembali. Maka sejarah harus tetap di pertahankan dan di jaga dari generasi ke generasi agar sejarah tak pernah menyimpang dari kebenarannya, jangan sampai sejarah hanya menjadi anggapan yang bersifat apriori.

Berbica seajarah maka tak lepas dari salah satu Daerah di ufuk Timur Indonesia yaitu Maluku Utara. Pada zaman dahulu, Maluku Utara lebih di kenal dengan sebutan Moloku Kie Raha yang berkaca pada empat gunung atau empat Kesultanan yaitu Tidore, Ternate, Moti, Makian. Moti berpindah ke Jailolo dan Makian ke Bacan. Nama Maluku sudah terekam dalam kitab Nagarakartagama pada tahun 1365 sebagai “Moloko”, diduga bahwa pengarang mengadopsi nama itu dari para pedagang Arab yang melakukan perniagaan di Nusantara. Nama Moloku/Maluku diambil dari kata Arab “Malik” yang berarti Raja. Karena itulah para pedagang Arab menyebut gugusan pulau-pulau di bagian Utara Maluku sebagai “Jazirah Al Mamluk” atau kepualauan raja-raja.

Pemberian gelar kepulauan raja-raja tentunya tidak di berikan begitu saja tanpa sebuah landasan yang kongrit,melainkan berdasarkan kondisi Moloku Kie Raha yang di warnai oleh berbagai macam potensi sumber daya alam yang melimpah, baik dari sektor pertanian maupun perikanan, namun tidak berhenti begitu saja letaknya yang strategis membuat Moloku Kie Raha menjadi jalur perdagangan Internasional pada masa itu dan masih bertahan sampai saat ini. Namun sangat di sayangakan, sebab sejarah yang besar di masa lalu tak pernah di jadikan sebuah pelajaran agar nantinya mampu di implementasikan untuk membangun kembali Daerah kita tercinta yang boleh di katakan sudah tidak punya daya saing lagi dengan daerah-daerah lainya di Indonesia.

Padahal di masa lalu Maluku Utara mempunyai daya saing bahkan sampai menyentuh panggung Internasional. Kedatangan bangsa Eropa untuk menguasai rempah-rempah serta memporakporandakan kondisi internal dari empat Kesultanan menjadi sebuah realitas bahwa Maluku Utara mempunyai pengaruh yang besar terhadap dunia sehingga menjadi rebutan dari negara-negara Eropa. Pada abad ke 12 M misalnya, permintaan rempah-rempah di pasar Eropa meningkat dan harga cengkeh terus melambung tinggi,sehingga cengkeh dapat di katakan sebagai komoditi yang penting pada waktu itu. Sebab sebelum minyak hadir dan mewarnai perselisihan berbagai negara di panggung Internasional, cengkeh sudah terlebih dahulu ada dan menjadi rebutan berbagai negara-negara adi kuasa. Maka bisa di katakan cengkeh dan minyak adalah komoditi terbesar dunia di waktu yang berbeda. Hal ini tentunya menjadi sebuah penegasan bahwa cengkeh dan pala ketika mampu di kelola dengan baik serta di berikan ruang untuk kembali mengambil perannya di pasar dunia maka tidak menutup kemungkinan Maluku Utara akan kembali berjaya seperti era Moloku Kie Raha, namun satu hal yang harus di pahami pengelolaan sumber daya di dalam negeri harus di kelola demi kepentingan rakyat dan Derah bukan untuk segelintri penguasa dan pengusaha asing.

Sebab sejarah telah mengajari kita bahwa kepentingan akan diri sendiri dan ego akan kekuasan membuat negeri ini bermuram durja dan anak cucu akan menderita. Kisah Patra Alam tentunya menjadi sebuah pelajaran berharga bagi para pejabat tinggi negeri para raja. Selain itu mata pencaraian masyrakat di era Moloku Kie Raha lebih cenderung ke bidang perikanan sehingga mampu mendukung perekonomian masyarakat dan daerah. Namun di era modern masyrakat lebih cenderung ke darat dan paradigma tentang pentingya lautpun telah bergeser menjadi Paradigma PNS (Pegawai Negeri Sipil), padahal berdasarkan realitas saat ini penghasilan seorang tukang parkir lebih dari gaji seorang PNS golonga II A ataupun para honorer.

Sejarah tentunya menjadi guru berharga bagi kemajuan Maluku Utara. Kalaupun di masa lalu kita dapat berjaya dan berbicara banyak pada panggung Nasional maupun Internasional, kenapa saat ini kita tidak bisa? Sedangkan tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini,maka kenpa kita tidak mencoba sedangkan mencoba tidak mengapa.

Daftar Pustaka

  • Rahman Muhammad, M. (2006). Mengenal Kesultanan Tidore. Kota Tidore Kepulauan: Lembaga Kesenian Keraton Limau Duko Kesultanan Tidore.
  • Mansbac, W.R. dan Rafferty. L.K, atau Pengantar Politik Global, Asnawi Amat. Bandung: Nusa Media.
  • Suharsih. dan K Mahendra Ign. (2007). Bergerak Bersama Rakyat. Yogyakarta: Resist Book.
Iklan