demonstrasi3
foto reviansyahr – WordPress.com

Macarita– Mahasiswa sebuah nama yang punya cerita panjang dalam lembaran sejarah Republik ini,merekalah yang mencestuskan Kemedekaan melahirkan Reformasi dan berbagai perlawanan yang telah di lakukan demi kesejahteraan rakyak Indonesia. Mahasiswa memang berbeda dari Siswa, dalam penggalan kata saja sudah bisa di bedakan bahwa Mahasiswa memakai gelar Maha yang artinya Tahu akan segalanya, gelar Maha ini hanya di pakai oleh Maha Kuasa dan Mahasiswa. Gelar Maha yang tertera bukan hanya menjadi sebuah pelengkap saja atau menjadi kata pembeda antar Siswa dan Mahasiswa tetapi gelar Maha tersebut merujuk pada tanggung jawab yang besar atas integritas NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Perjalanan ke masa lalu akan mengingatkan kita dengan berbagai potret-potret sejarah Gerakan Mahasiswa yang begitu perkasa dengan jubah-jubah Revolusi serta pemikiran kritis,ingatkah kita pada angkatan 1974 yang berani keluar dari belenggu penjara otoriter pada masa orde baru dan melakukan demonstrasi besar-besaran dan kerusuhan besar yang terjadi pada tanggal 15 Januari 1974 yang sampai saat ini di kenal sebagai “Malari” (Malapetaka 15 Januari) pasca kejadian ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu Daoed Yusuf kemudian mengeluarkan sebuah kebijakan tentang NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) dan BKK (Badan Koordinasi Kampus) yang akhirnya memaksa semua kegiatan Mahasiswa di fokuskan dan di penajarakan dalam kampus dan bagi siapa yang melawan akan siap berhadapan dengan kenjamnya peluru, tetapi sekali lagi itu bukan tembok penghalang untuk keluar dan meneriakan sebuah perubahan meski harus berlinang air mata karena ada Mahasiswa yang gugur dalam pertempuran 1998.

Baca juga : Apakah Saya Mahasiswa?

Tetapi hasilnya teriakan Reformasi menjadi jawaban atas semua luka dan air mata saat itu, hal ini ternyata mampu menjadi catatan sejarah yang tak pernah terlupakan dalam ingatan bangsa Indonesia. Potret sejarah Gerakan Mahasiswa telah membuktikan bahwa meski dalam tekanan mereka berhasil keluar dan memperjuangkan Sila ke lima dalam Pancasila yaitu Keadilan Sosial bagi seluruh rakyak Indonesia dan gelar sebagai Agen Pengontrol kondisi Sosialpun di amanatkan baik oleh bangsa sendiri maupun bangsa lain kepada Mahasiswa. Tapi apakah saat ini peran Mahasiswa masih bisa di katakan sebagai Agen pengontrol sosial?

Jawabannya bisa iya dan bisa juga tidak tergantung paradigma masing-masing orang atas realita gerakan mahasiswa saat ini tetapi realita tak pernah berkata bohong dia punya cara sendiri untuk menceritakan apa yang sedang terjadi. Pasca Reformasi gerakan mahasiswa perlahan hilang dari bumi Nusantara, ada apa Mahasiswa? Apakakah engkau sedang terluka? Apakah engkau sedang amnesia? Ataukah engkau sudah asik dengan Paradigma Hedonisme?. Mahasiswa saat ini memang sudah tidak lagi memakai Paradigma kritis dalam melihat kondisi Ibu Pertiwi tetapi paradigma yang melekat pada mahasiswa hari ini adalah” Cepat kuliah cepat kerja”,kondisi mahasiswa saat ini seperti Naif dengan keadaan,mereka tahu Ibu Pertiwi sedang menderita sakit berat,mereka tahu penyakit apa yang sedang di derita Ibu Pertiwi tetapi mereka seakan menutup mata dan membohongi nurani bahwa mereka tidak pernah tahu. Buta nurani ternyata menyebar kepada buta mata hati, saat ini mahasiswa  memang seperti hilang arah tidak tahu apa yang harus di lakukan semuanya seakan terbawa arus modernisme yang mengalir begitu lancar.

Baca juga : Kritik Atas Mahasiswa Aktivis

Mahasiswa hari ini lebih memilih pergi ke KFC, Mc Donald’s, Mall dan berbagi tempat hiburan lainnya,budaya POP telah membuat kuliah bukan sebagai sarana belajar tapi sebagai sarana pencitraan diri. Akhirnya budaya membaca,menulis,diskusi,aksi dan refleksi perlahan hilang di telan zaman,mahasiswa yang seharusnya mampu mengontrol apa yang terjadi saat ini ternyata berubah jadi yang di kontrol,berbagai tempat beridentitas hedonisme yang di bangun ternyata menjadi pengontrol akan gerakan mahasiswa agar tanggung jawab sosial yang melekat dalam diri mahasiswapun di lupakan dan tangungg jawab akan kebutuhan eksis menjadi prioritas utama.

Hal ini berujung pada hilangnya identitas mahasiswa sebagai seorang intelektual yang berakibat mahasiswa hari ini krisis gagasan, krisis identitas, dan krisis kepemimpinan selain itu dunia kampus pasca reformasi menghadirkan berbagai permasalahan seperti :

  • Menciptakan sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
  • Gerakan mahasiswa di paksa membicarakan problem-problem praktis di banding ideologis.
  • Masa kuliah makin di persingkat.
  • Pragmatisme dalam berorganisasi.

Baca juga : Renungan Mahasiswa Hari Ini

Realitas hari ini telah membuktikah bahwa mahasiswa bukan lagi kelas elit intelektual, di hadapkan dengan berbagai carut marut permasalahn bangsa ini mahasiswa seperti dilema,mahasiswa seperti bimbang untuk memilih.

Ketika mahasiswa hendak melawan militer tampil sebagai tembok kokoh dengan senapan yang siap meluncurkan peluru-pelurunya kapan saja,kampus tambil dengan berbagi kebijakannya yang mengikat mahasiswa untu cepat selesai sedangkan masyarakat terus terluka karena penindasan. Berbagai sistem yang lahir hari ini adalah untuk mengontrol berbagai gerakan mahasiswa agar indentitas intelektual mahasiswa berubah menjadi indentitas hedonisme,kondisi semakin tumpang tindih ini seharusnya membuat mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat menciptakan sebuah tren perubahan,tren perubahan yang di maksud adalah bukan tren dari segi penampilan tetapi tren akan perubahan kondisi rakyat yang masih jauh dari genggaman keadilan.

Baca juga : Wajah Mahasiswa di Era-Reformasi

Berkaca pada 1998 seharusnya mahasiswa sudah membentuk kelompok-kelompok yang membudi dayakan kegiatan membaca,menulis,dan diskusi sambil membangun pasukan dan barisan dalam menghadapi berbagai macam permasalahan besar yang sudah menanti di depan. Percaya atau tidak percaya Bumi ini bagaikan roda yang akan terus berputar tanpa henti dan apa yang terjadi di masa lampau akan terulang kembali tetapi pada waktu dan tempat yang berbeda. Mahasiswa tak pernah menyangka bahwa akan terperangkap dalam sistem yang otoriter pasca runtuhnya orde lama dan tragedi 1998 telah menanti di depan pada waktu itu,pasca reformasi 1998,17 tahun sudah beralu dan mahasiswa tenggelam kembali dalam lautan hedonisme dan kondisi dunia yang mulai meninabobokan dan pastinya ada sesuatu yang besar,yang lebih keras dari 1998 yang telah menanti di depan. Jika hari ini mahasiswa masih tetap menjadi agen yang di kontrol maka jangan pernah bermimpi bahwa keadilan akan datang dan jangan heran bila integritas NKRI sebagai harga mati akan berubah menjadi harga pasar,jangan heran jika generasi anak cucu Ibu Pertiwi berikutnya akan menjadi budak di negeri sendiri. Sadarkah kita bahwa saat ini Indonesia menjadi sasaran empuk perang asimetris dari berbagai Negara penguasa yang dampaknya bisa lebih besar dari perang Dunia II dan Perang dingin. Sudah saatnya mahasiswa sebagai agen perubahan bangun dari mati suri yang panjang untuk kembali berteriak tentang perubahan karena banyak rakyat Indonesia yang hari ini masih terluka parah karena di tembaki peluru penindasan dan mereka menaruh harapan besar ke pundakmu Wahai Mahasiswa untuk merangkul mereka dalam genggaman Keadilan.

Baca juga : Penjara Pemikiran Mahasiswa

Iklan