20171101_054556

Berada diatas kapal, menatap langit yang perlahan pudar

Diiringi mentari berwarna keemasan dihujung ufuk timur
Membawa kehangatan usai dinginnya hawa malam
Membawa terang usai gelap

Sembari mata ini menerawang angkasa
Terlihat putihnya awan diterpa warna keemasan
Bagai magnet menarik tiap sepasang mata
Tak mau lepas dari keindahannya
Bagai seekor kumbang yang merindukan embun di pagi hari

Sejauh mata memandang hanyalah nirwana yang disugukan alam
Tebaran Gugusan pulau terlihat begitu menawan ditengah lautan

Kini tak ada lagi keraguan
Tak ada asap tanpa bara
Aku kemari tanpa alasan
Tapi aku tau
Pasti ada alasan yang yang menanti kedatanganku

Apapun itu tunggulah
Tak lama lagi salamku akan terdengar.

(Bersambung… baca Bagian 3)

01 November  2017

Penulis: Siswandi Tamala, Mahasiwa UNG, Fakultas MIPA. Aktif di HMI (MPO)

Puisi ini merupakan cerita nyata dari si penulis, saat terbawa kapal tanpa sengaja dari Gorontalo menuju Sulawesi Tengah


Baca juga; bagian 1

Iklan