Macarita– “Pendidikan bukan hanya menciptakan orang dengan keahlian, tetapi orang-orang dengan kemampuan belajar tinggi ”. Ya ! Itulah yang dikatakan Ignas Kleden, seorang pakar teolog dari Flores, NTT. Setiap pekerjaan/profesi tentunya dituntut untuk menguasai dan melakukan pekerjaannya secara profesional. Seorang penyair harus pandai dalam menyair, seorang guru tentunya harus pandai dalam mengajar. Tentu akan lain cerita kalau sebalikya. Menjadi mahasiswa tentunya kita dituntut untuk memiliki jiwa tanggung jawab sosial disamping basic ilmu pengetahuan yang mumpuni. Karena tanpa itu kita hanya akan menjadi mahasiswa KTP yakni hanya sebagai formalitas yang tugas dan kewajiban kita sebagai mahasiswa tidak bisa dikategorikan sebagai mahasiswa atau dengan kata lain jasmani kita sebagai mahasiswa namun jiwa/roh kita bersinggungan dengan masyarakat awam.

Testament Soeharto yakni sistem NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus) yang diusung untuk membendung keaktifan mahasiswa yang menjadi pihak oposisi  pada masa jayanya sekarang sudah terulang dengan multiaktor. Indonesia yang masih berada jauh dibawah posisi negara maju (negara sedang berkembang) tentunya harus merekonstruksi secara besar-besaran agar dapat mengubah posisinya yang terkesan stagnan. Mahasiswa yang menjadi komprador elit (pemerintah) dan jelata (rakyat) harus mengubah cara berpikirnya yang naif ke cara berpikir yang kritis transformatif. Proses ini harus diawali dengan konsientisasi yang rutin agar terkesan adanya gradualisasi pemikiran yang lebih baik. Kita harus mencari akar permasalahan yang selalu menggerogoti dan menghimpit kita secara atomistis. Mahasiswa-mahasiswa abad 21 di Indonesia cenderung selalu dipropagandakan dengan masa depan yang semu sehingga membuat mahasiswa jauh dari tanggung jawabnya. Mereka dituntut untuk menguasai spesifik ilmunya dengan aturan dan tuntutan pekerjaan rumah dari dosen yang luar biasanya sampai-sampai mahasiswa lupa akan eksistensi sejatinya.

Hal ini bukan karena saya menafikan keaktifan dan kewajibannya dalam dunia kampus. Namun kita harus melihat sesuatu dari besar-kecil dampak positif-negatifnya. Ada beberapa tokoh yang mengubah dunia adalah mereka yang menekuni/menjalani aktivitas dan pekerjaan yang tidak sesuai dengan jurusan mereka pada saat mereka kuliah, misalnya saja Camilla Vallejo dan Karol Kariola. Camila adalah mahasiswa geografi yang dalam masa perkuliahannya ia selalu aktif turun ke jalan bersama ribuan bahkan jutaan massa untuk mengatasi masalah pemerintahan di negaranya Chile. Dan ia sekarang sudah menjadi salah satu anggota Partai Komunis Chile. Begitu juga dengan Karol Kariola. Ia adalah sahabat Camila yang mengambil jurusan kebidanan namun selalu aktif turun kejalan bersama Camila dkk untuk mengeritik kebijakan-kebijakan pemerintah yang salah jalan. Dan ia sekarang juga sudah menjadi salah satu anggota Partai Komunis Chile bersama Camila.

Ada sepatah kalimat yang mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita, “ Mengapa tidak mencoba jika mencoba itu tidak mengapa”. Ungkapan yang entah darimana ia berasal namun menjadi kekuatan magis tersendiri untuk merefleksikan seseorang. Semoga saja mahasiswa- mahasiswa dapat sadar akan kungkungan mereka dari kebodohan. ***

Ternate, 4 Oktober 2017

 Penulis adalah Mahasiswa Asal Tidore (MALUT) sekarang menjalani pendidikan S1 di STIKIP KIE RAHA Ternate, kesehariannya selalu bergelut dengan dunia membaca dan menulis

Iklan