3352-label-bendera

“Kita maunya dikenal negara lain, tapi kita tidak kenal negara kita sendiri. Kita maunya dihargai negara lain, tapi tak mampu menghargai negara sendiri “. S. Tamala

Macarita– Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta, mewakili rakyat indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, menjadi hadiah terindah bagi negeri yang telah terjajah, dan tertindas di Negeri sendiri.

Inilah kekuatan para pendiri bangsa, bergulat dimedan perang, menyerahkan jiwa dan raga hanya untuk meraih kemerdekaan Bangsa Indonesia tercinta. Hanya dengan sebilah bambu runcing mereka tak pernah gentar melawan senjata api yang mampu merengut nyawa dalam sekejap mata.

Indonesia yang memiliki iklim tropis, tidak meherankan jika tanah indonesia kaya akan sumber daya alam , Kolonialisasi Eropa di tanah ibu pertiwi telah terjadi sejak 1511 sampai 1942  ditambah kedudkan jepang 1942- 1945 dengan membawa semangat Gold, Gospel dan Glory. Di tanah  Indonesia mereka mencoba menguasai kekayaan sumber daya  yang ada, untuk mencapai kejayaan demi meningkatkan ekonomi bangsa mereka, selain itu mereka juga berusaha menyebarkan budaya dan keyakinan bangsa mereka. dibawah kekuasaan kaum penjajah bangsa pribumi bagaikan tamu di negeri sendiri harus mengucapkan permisi hanya untuk mengambil hasil bumi, membayar pajak  untuk tanah yang kita miliki, membagi hasil panen atas tanah garapannya sendiri selain itu juga kita bangsa pribumi menjadi pekerja paksa di tanah kepunyaanya. Inilah sistem yang diterapkan pada masa itu, dimana kita menjadi babu dan pencuri dinegeri sendiri.

Melihat penindasan disana-sini ditanah ibu pertiwi, menjadi dasar spirit rakyat indonesia untuk berjuang memperebutkan tanah air tercinta.

baca juga : Indonesia dan Pancasila

Sumpah pemuda adalah keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta), merupakan salah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan perjuangan kemerdekaain indonesia, lewat ikrar sumpah pemuda, nilai-nilai lokalitas setiap daerah (primordial) dari sabang sampai merauke, bahwa kita berbeda, mengubah pandangan dan  mewujudkan rasa nasionalisme pada tiap rakyat indonesia, agar seantero sabang sampai merauke tahu bahwa kita adalah satu kesatuan yang berada dibawah naungan sang Merah Putih.

Satu persatu pejuang kebanggaan bangsa gugur dimedan laga, tapi itu bukan alasan bagi  mereka yang masih berdiri dan bernafas untuk melangkah mundur, mereka terus melangkah kedepan tanpa bergeming, dan sesekali terdengar kata merdeka dengan menggelegar, walau hanya dengan sebilah bambu runcing melawan timah panas yang kapan saja bisa mengkoyak-koyak tubuh, mereka tidak pernah gentar, nyawa sebagai taruhanya, hanya demi satu kata merdeka.

Hari ini, kita tidak lagi menghunuskan sebilah bambu, tidak lagi berhadapan dengan timah panas, tidak lagi mempertaruhkan nyawa dimedan peperangan, kita hanya perlu menghiasi kemerdekan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan kebanggaan bangsa.

Sejak kemerdekaan direbut dari penjajah, tepatnya 17 Agustus 1945 dimana sang saka Merah Putih dikibarkan pertama kali dengan sebuah gema kebebasan. Kini mental-mental pejuang perlahan pudar dari jiwa-jiwa pemuda, sudah tidak ada lagi kebanggaan kita menjadi orang indonesia, dalam sehari-hari pasti kita sering mendengar penyataan seperti.

  • “Yah, beginilah indonesia (dengan nada mengejek)”.
  • “Yah orang indonesia tidak bisa buat teknologi seperti itu (dengan nada mengejek)”.
  • “bukan Indonesia kalau tidak berantakan (dengan nada mengejek)”.

Ini hanyalah bebrapa pernyataan dan masih banyak lagi pernyataan seperti ini, yang tanpa sadar telah membuat negeri kita semakin krisis akan mental-mental yang mampu mengakat harkat dan martabat bangsa. Kita maunya dikenal negara lain tapi kita tidak kenal negara kita sendiri Kita maunya dihargai negara lain, tapi tak mampu menghargai negara ini.

Sekarang banyak yang mengatas namakan rakyat, tapi tidak tahu apa yang diinginkan rakyat, kita sibuk mengkritisi negara tapi lupa mengkritisi diri, kita terus berpendapat tapi lupa untuk mendengar, kita terlalu sibuk membenahi negara tapi lupa membenah diri.

Aku tujukan tulisan ini untuk seluruh rakyat Indonesia, mari kita kenali negeri kita tercinta lewat pancasila, yang menjadi dasar negara dan falsafah hidup bangsa Indonesia, agar jiwa-jiwa para pendiri bangsa akan terus bersemayam dan terjaga dari generasi ke–generasi, supaya kita mampu menjaga keutuhan dan kesatuan Republik Indonesia.

“jangan lupa kenali dulu diri anda”.                             

Gorontalo, 01 Desember 2017

Penulis: Siswandi Tamala, Mahasiwa UNG, Fakultas MIPA. Aktif di HMI (MPO)

Iklan