Screenshot_2017-12-02-09-08-43_1

Macarita Mahasiswa yang di katakan salah satu icon intelektual, karena maha yang mengindikasikan kemampuan lebih dari masyarakat pada umumnya, baik dalam hal pemikiran maupun gerakan, sejarah merupakan salah saksi nyata dalamnya analisis pemikiran mahasiswa yang tidak membiarkan keganjalan atau penindasan oleh penguasa yang berujung gerakan perlawanan, perlawanan mahasiswa di mulai sejak indonesia masih di jajah, bahkan setelah merdekapun mahasiswa menolak diam terhadap penindasan dan segala bentuk interfesi yang membuat rakyat tidak sejatrah, pemikiran dan tindakan mahasiswa ini memunculkan tanggung jawab yang cukup berat, di mana mahasiswa di anggab sebagai penyambung lidah rakyat, yang levelnya berada di antara pemerintah dan rakyat, mahasiswa di anugrahi gelar agen of cheng (perubah), agen of analitik (penganalisa), agen of distributor of idea (pemberi solusi), agen of control social, agen of intelektual, dan lain sebagainya sebagai bentuk terimakasih masyarakat terhadap pemikiran dan gerakan mahasiswa yang selalu memperjuangkan kehidupan yang sejatrah untuk masyarakat, mahasiswa begitu dekat dengan masyarakat.

Baca juga : Apakah Saya Mahasiswa?

Kondisi zaman turut mempengaruhi pemikiran dan gerak mahasiswa, di mana setiap zaman menghadirkan masalah yang berbeda, hal ini mengharuskan mahasiswa untuk selalu menganalisis masalah baru serta memberi solusi, tetapi hal tersebut tentu tidak di biarkan begitu saja, pihak penguasa jelas tidak akan membiarkan kedudukan dan kekuasaannya di ambil, Perlawanan dari penguasa juga terus di benturkan ke mahasiswa, sejak indonesia belum merdeka dengan cara mencegah bersatunya kelompok-kelompok perlawanan, kemudian masuk pada orde baru penguasa mengeluarkan kebijakan NKK (normalisasi kehidupan kampus) dan BKK (badan kordinasi kampus), yang bertujuan untuk membatasi ruang pikir dan gerak mahasiswa, penguasa juga sering melempar isu pengalihan, agar fokus mahasiswa menjadi banyak, dan masih banyak lagi bentuk pertahanan yang di lakukan penguasa. Pertahanan penguasa tersebut tidak serta merta membuat pemikiran dan gerak mahasiswa terhenti.
Miris melihat kenyataan bahwa pemikiran dan gerakan mahasiswa yang perlahan hilang, mahasiswa lupa akan hakikat status kedirian dan tanggung jawabnya. Mahasiswa yang konon intelek kini menjadi hedon atau mahasiswa yang hanya mencari kesenangan dan kenyamanan. Kejadian seperti ini bukan karena suah kebetulan, melainkan desain para penguasa yang memang mengarahkan kita pada pengkerdilan pemikiran, kita ketahui bersama bahwa penghalang terbesar penguasa untuk bertindak sewenang-wenang adalah mahasiswa, karena itu daya pikir dan gerak harus di lumpuhkan, contoh nyata dapat kita perhatikan dalam universitas kita yang menyodorkan permasalahan dan teori solusi dengan jalur yang yang di tentukan, mahasiswa dalam menyelesaikan suatu persoalan di berikan batasan teori solusi, sehingga arahnya harus lurus, jika solusi tersebut keluar dari jalur yang di tetapkan, maka di anggap salah.

Baca juga : Mahasiswa Mengontrol Ataukah di Kontrol?

Salah satu desain orde baru untuk mengkerdilkan pemikiran dan gerakan mahasiswa adalah NKK dan BKK, yang sekarang kita lihat jelas pengaruhnya, organisasi intra hanya melakukan kegiatan yang sifatnya fisik, contohnya menjadi kepanitiaan, serta meninggalkan kajian-kajian intelektual, sehingga mahasiswa lebih gampang di arahkan, menjadi pesuruh dosen, kemudian berujung pada tidak adanya pertahanan atau saringan dalam pemikiran untuk menilai terlebih dahulu argumen yang masuk, yang akibatnya geran yang di lakukan hanyalah interfensi pihak lain, kebijakan-kebijakan kampus yang justru menginjak mahasiswa, tidak di pedulikan, beberapa yang merasakan hal tersebut tidak mampu menggerakan badan untuk sekedar mengomentari kebijakan tersebut.

Universitas yang seharusnya membentuk pemuda intelektual sebagai bibit penerus bangsa kemudian hanya menjadi sebuah angan yang entah kapan akan tercapai, bentukan universitas kini hanya menjadi pesuruh, bahkan lebih anehnya selepas status mahasiswa dengan gelar sarjana, hanya memperpanjang barisan pengangguran.
Tridharma perguruan tinggi (UU No.12 Tahun 2012, Pasal 1 ayat 9) yang menjadi prinsip perguruan tinggi, sekaligus penjara pemikiran dan gerak mahasiswa, karena di pahami secara dangkal

  1. Penidikan, adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses belajar dan mengajar untuk memiliki intelektual yang bagus, yang di pahami adalah proses mengajar tanpa penyadaran dan sebatas pemberian teori. Teori yang menjadi jalur utama mencapai persoalan, sehingga mahasiswa tidak menggunakan teori lain, selain yang di berikan dosen.
  2. Penelitian, kegiatan yang di lakukan sesuai metode ilmiah dan sistimatis untuk memperoleh pemahaman terhadap suatu ilmu pengetahuan, di pahami sebagai model pendalaman ilmu pengetahuan sesuai basis keilmuan masing-masing, sehingga analisis lain sebagai tanggung jawab mahasiswa di lupakan.
  3. Pengabdian kepada masyarakat, kegiatan sivitas akademia yang memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk memajukan kesejatrahan masyarakat, di pahami sebagai aplikasi keilmuan masing-masing, orientasinya adalah pengembangan produk hasil buatan masyarakat, serta melupakan kebutuhan mendasar yang paling di butuhkan.

Maka cobalah lebih memahami kondisi pemasalahan sehingga memunculkan esensi kedirian sesungguhnya.

Baca juga : Wajah Mahasiswa di Era-Reformasi

Paham sebelum bertindak!

Gorontalo, 02 Desember 2017

Iklan