TOPO

Macarita– Topo. Ya! Topo merupakan salah satu Kelurahan yang terletak di badan gunung (dataran tinggi) Kie Matubu Kecamatan Tidore Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara. Topo merupakan derivasi dari kata “Tofo” yang artinya tusuk atau patok. Topo merupakan sebuah kampung yang iklimnya adalah hasil perselisihan iklim negara-negara Eropa dan iklim negara-negara Afrika (dingin tak dingin panas tak panas), dalam artian sejuk. Bagi saya yang khusunya dalam dinamika kehidupan selalu bercokol dan bersentuhan dengan iklimnya selalu terperdaya dengan buaian suhu dan angin sepoi-sepoi yang sungguh menyejukkan dengan bukti hembusan nafas  beralur teratur dan memancing keeratan dan kemesraan kelopak mata. Kampung dimana konsistensi fraternal dijunjung tinggi dan memiliki afinitas tersendiri yakni ”jeruk topo /joji sabalaka” (jeruk) dan “bawang topo” (bawang merah).

Jeruk Topo/Joji Sabalaka adalah salah satu buah primadona kebanggaan masyarakat Topo yang memiliki segi-segi pembeda dengan jeruk-jeruk pada umumnya, begitu pula dengan “bawang topo” (bawang merah). Joji Sabalaka memiliki tekstur yang lebih kenyal dan rasa yang lebih manis. Sisi-sisi pembeda dari fisiknya adalah isinya yang lebih besar, kulitnya yang lebih tebal, dan pori-pori kulit jeruk yang lebih besar/lebih nampak dan lebih kasar. Joji Sabalaka pernah dijadikan objek penelitian dari para peneliti-peneliti nasional maupun peneliti-peneliti mancanegara. Namun sayangnya kuantitas pohon “Joji Sabalaka” sudah mengalami kemerosotan yang luar biasa yang tinggal dihitung jari. Hal ini dikarenakan pengaruh cuaca yang tidak menentu diikuti dengan peningkatan kuantitas bangunan berupa rumah maupun infrastruktur lainnya dan juga efek dari radiasi atap-atap bangunan. Hal ini tentunya menjadi ironi tersendiri yang selayaknya menjadi sorotan anak kampung.

Ada juga “bawang topo” yang menjadi salah satu identitas Kampung Topo. Dalam hal rasa, bawang topo memiliki rasa yang lebih gurih dibandingkan dengan bawang merah pada umumnya. Dari segi fisik bawang topo memiliki bentuk yang lebih kecil dan warna cerah yang cenderung putih. Namun, pembudidayaan bawang topo ini juga mengalami penurunan dengan berkurangnya petani bawang dan juga keegoan anak kampung (putra-putri daerah) yang terpengaruh oleh hasutan-hasutan modernisasi, globalisasi, developmentalisme dan oksidentalisme. Hal ini tentunya juga menjadi sorotan, dimana identitas kampung dikikis perlahan-lahan yang pada titik kulminasinya akan terjadi de-identitas regional (kampung) dan menjadi retrospeksi sosial. Ini merupakan kegelisahan bersama khususnya pada masyarakat Topo dan “turun tangan” menjadi solusi terbaik. Semoga anak kampung sadar akan eksistensinya dan terrepatriasi akan identitas Kampung Topo. (*)

Topo, 27 November 2017

Iklan