Macarita– Berfikir adalah sifat dasar yang di miliki manusia, dalam segala persoalan, solusi di temukan dengan cara berfikir. Dalam al Qur’an sendiri, perintah berfikir dan menghayati terdapat 100 ayat, mengindikasikan pentingnya berpikir untuk menelaah persoalan. Maka  Jelas dalam Islam, hal tersebut adalah baik dan di anjurkan. Seorang Filsuf abad modern Rene Deskrates mengatakan Cugito ergo sum artinya  saya berfikir karena saya ada, eksistensi Manusia adalah berfikir, sehingga manusia yang tidak berfikir di katakan tidak memiliki eksitensi kediriannya, tetapi pemikiran yang di maksud bukan pemikiran sekedar atau yang tidak rasional, tetapi pemikiran yang  searah dengan jalan logika.

Sejarah pemikiran di tinjau dari blok barat, berawal dari Yunani yaitu Thales yang di kenal sebagai Bapak Filsafat, karena mengawali perubahan dasar pemikiran yang sebelumnya bersifat mitosentris yaitu bentuk pemikiran yang dalam menjawab persoalan dengan mitos menuju pemikiran logosentris yaitu menjawab persoalan berdasarkan logika, di zaman ini di kenal sebagai perubahan zaman dari mitos menuju logos.

Beberapa tokoh pemikir yang mengawali sejarah logosentris

Thales (625 SM), Thales memulai sejarah pemikiran rasionalnya dengan mempertanyakan prinsip dasar alam semesta, kemudian setelah mengamati dan meneliti,  Thales menjawab prinsip dasar alam semesta adalah air, jawaban tersebut Thales di peroleh setelah melihat air begitu unik, air adalah sumber kehidupan, karena setiap makhuluk hidup membutuhkan air, air bersifat mantap yaitu mampu tampil dalam segala bentuk, air tak dapat di musnahkan serta dapat berubah ke bentuk lain, yaitu padat (membeku), gas (uap) , Thales juga mengasumsikan bahwa  alam  semesta itu melayang di atas air, selain itu Thales juga di kenal sebagai ahli hitung, dia di katakan mampu menghitung tinggi piramida dengan melihat bayangan, dia juga mampu mengukur jarak kapal ke darat hanya dengan melihat.

Anaximandros (610 SM), Pemikiran Thales kemudian di kritisi oleh muridnya sendiri yaitu Aximandros, yang menyatakan air bukanlah asal alam semesta, karena jika air menjadi asal, maka unsur air akan terdapat pada segala hal, tetapi air tidak terdapat di dalam api, Anaximander menambahkan, Alam semesta adalah hal yang luar biasa, maka prinsip atau sumber hal yang luar biasa adalah sesuatu yang lebih luar biasa, Anaximandros menyadari keterbatasan manusia, sehingga kareana luar biasa maka asalnya tak akan mampu di jama manusia,  maka dia menyimpulkan bahwa asal Alam semesta adalah APeiron yaitu suatu sifat yang absurt, yang tak terhingga, berlandaskan pemikiran Alam semesta yang luar biasa, manusia melalui indranya  tidak mampu menggapai Apeiro, Apeiron sendiri bersifat metafisik. 

Anaximenes (545 SM), Pemikiran Anaximandros kemudian di kritik lagi oleh muridnya yaitu Anaximenes mengatakan Apeiron adalah sesuatu yang tidak ada, mana mungkin sesuatu yang tidak ada menjadi asal sesuatu yang ada. Maka Anaximenes menewarkan substansi dasar alam semesta adalah udara, yang menurutnya terdapat pada segala hal dan bukan juga hal yang tak terbatas. Alam semesta awalnya adalah udara kemudian memunculkan hal hal baru dengan proses kondensasi dan rarefaksi, maka muncullah pohon, batu, air, hewan, terbentuk dengan kadar yang berbeda. Tiga Filsuf ini berasal dari Miletus, yang kemudian di kenal dengan Filsuf alam Miletus.

Pythagoras (534 SM), menyatakan dalam segala hal terdapat bilangan, sehingga untuk memahami segala sesuatu cukup dengan memahami dengan bilangan, contohnya unsur alam semesta terdiri dari bilangan genap dan ganjil atau terbatas dan tak terbatas, bila menggabungkan bilangan genap dan ganjil, maka akan menimbulkan keselarasan dan harmoni, contohnya angka 1 laksana unsur pana di gabungkan dengan angka 2 unsur dingin, maka akan menghasilkan angka 3 yaitu bentuk harmoni kehangatan. 

Heraklitos (535 SM), dasar pengkajiannya adalah perubahan atau menjadi, ia menganggap segala sesuatu tidak ada yang diam atau tetap, semua mengalir atau berubah, maka identik dengan suatu yang baru, lambang perubahan adalah api, karena dapat merubah apa saja. Di dalam perubahan terjadi perlawanan dan pertentangan, yang kemudian itu menjadi bapak semuanya artinya, jika tidak ada perang tidak mungkin merasakan indahnya kedamaian. Bagi Heraklitos pertentangan adalah prinsip keadilan, hukm yang mengatur perubahan adalah logos. 

Parmenides (540 SM), Bertolak belakang dengan pemikiran Parmenides yang terkenal dengan pandangannya “yang ada”, yaitu segala sesuatu yang dapat di indra dan di pikirkan. Yang ada itu tetap ada, artinya tidak mungkin yang ada berasal dari ketidak adaan. Yang ada itu abadi, sehingga yang ada menempati setiap ruang, karena itu tidak ada ruang kosong, maka tidak ada gerak, lantaran gerak menjadi mungkin apabila ada ruang kosong. Itulah eksistensi nyata tokoh pemikir yang menjadikan mereka ada.

Pemikiran beberapa tokoh filsafat alam ini lahir karena jawaban ataupun penjelasan yang di berikan sebelumnya tidak memiliki kejelasan, karena di jawab dengan mitos, yakni kepercayaan semu, contoh mitos menjawab persoalan matahari,matahari adalah dewa yang menunggangi kereta kuda mengelilingi bumi. Kemudian lahirlah bentuk pemikiran baru atas ketidak puasan tersebut yaitu spirit pemikiran yang berlandaskan logika, yang memiliki prinsip dasar pemikiran rasional, tidak dengan serta merta menerima argumen orang lain bahkan guru sekalipun, demikianpun guru tidak membatasi pikiran rasional murid mereka untuk mencari jawaban. Konstruksi pemikiran para tokoh tersebut terbangun dengan mode radikal (mengakar), sehingga melalui rumusan pemikiran dengan cara merenung, maka lahirlah jawaban rasional di kala itu.

Spirit inilah yang hilang di dunia kontemporer ini, pemuda terkhusus mahasiswa yang di kenal dengan icon intelektual tidak mampu menunjukan diri sebagai agen of distributor ide, melainkan agen of plagiator. Mahasiswa hanya mampu mengambil karya orang lain, tanpa mampu berkarya, membanggakan orang lain, serta tidak bangga akan diri, memuja orang lain, menjadikan dirinya terjajah, maka tidak heran melihat mahasiswa tidak mampu memberi solusi nyata kepada masyarakat, hanya berlandaskan teori yang telah ada sehingga mahasiswa tertolak oleh masyarakat, aksi mahasiswa dewasa ini di nilai hanya meresahkan rakyat, karena menjawab persoalan tidak melalui pengkajian yang dalam, tetapi dengan pemikiran instan yang dangkal dan pragmatis.

Periodesasi zaman menghadirkan masalah yang berbeda, maka sesungguhnya, perlu perumusan pasti untuk sebuah solusi nyata, untuk lebih memahami mode zaman dengan arus modernisasi yang keras, tetapi semua itu haruslah di awali dengan spirit pemikiran yang besar, bercermin dari para filsuf alam yang memantik pemikiran rasional, sehingga menghadirkan berbagai tegnologi modern yang kita nikmati sekarang. Maka bangkitkanlah pikiran kita dengan spirit, bukan hanya sebagai penikmat, tetapi pencetus sebagai bentuk eksistensi diri mahasiswa, yang berujung pada kesadaran tanggung jawab mahasiswa secara real. [*]

Pahan sebelum bertindak

Gorontalo, 06 Desember 2017

Iklan