“Bagunlah hati dan jiwa besarnya agar rasa bangga timbul dalam dirinya yang kelak akan membesarkan dirinya”
(Dr. Ikram Muhammad, S.Pd, M.Si)

Macarita- Dalam dunia ilmu Psikologi tentu tidak asing lagi kita mendengar nama Abraham Moslow, seorang teoritikus yang banyak memberi inspirasi dalam teori kepribadian. Abraham sMoslow juga merupakan seorang psikolog yang berasal dari Amerika Serikat dan menjadi seorang pelopor aliran psikologi humanistik, ia terkenal dengan teorinya tentang hierarki kebutuhan manusia.

Abraham Moslow

Abraham Moslow beranggapan dalam teori hierarki kebutuhan bahwa kebutuhan-kebutuhan ditingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum keutuhan-keutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi. Moslow memberikan hipotesis bahwa setelah individu memuaskan kebutuhan pada tingkat paling bawah, individu akan memuaskan kebutuhan pada tingkat berikutnya. Jika pada tingkat tertinggi tetapi kebutuhan dasar tidak terouaskan, amak individu dapat kembali pada tingkat kebutuhan yang sebelumnya, menurut Moslow pemuasan berbagai kebutuhan tersebut di dorong oleh dua kekuatan yakni motivasi kekurangan (deficiency motivation) yang bertujuan untuk mengatasi masalah ketegangan manusia karena berbagai masalah yang adas, selanjutnya motivasi perkembangan (growth motivation) yang di dasarkan atas kapasitas setiap manusia untuk tumbuh dan berkembang, kapasitas tersebut merupakan pembawaan dari setiap manusia.

Selanjutnya kita tarik dalam sebuah organisasi yang bernama HIPMI-MALUT GORONTALO, atau Himpunan Mahasiswa Indonesia Provinsi Maluku Utara yang berada di Gorontalo. Tentunya dalam suatu perkumpulan pastinya memiliki tujuan yang dituangkan dalam visi dan misi. Visi dari organisasi ini adalah “Menghimpun mahasiswa Maluku Utara yang ada di Gorontalo dan mengembangkan sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, serta mampu berperan dalam pembangunan daerah, bangsa, dan negara yang di ridhoi Tuhan Yang Maha Esa”.

Organisasi ini sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan, seperti halnya filosofi yang digunakan yaitu “Baku lia, baku bilang, baku dengar”, ditopang dengan “Keikhlasan, kebbersamaan, kekeluargaan”. Jika di analisis secara mendalam kata-kata tersebut mengandung makna yang sangat mendalam dan tak mampu di jelaskan. Dengan mengandalkan filosofi seperti itu harusnya berbanding lurus dengan prioritas kader HIPMI-MALUT itu sendiri. Jika di tinjau dari segi psiokologi dalam perspektif Abraham Moslow yang membagi teori hierarki kebutuhan hingga beberapa bagian diantaranya:

  1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)
    Kebutuhan paling dasar pada setap orang adalah keutuhan fisiologis yakni keutuhan untuk mempertahankan hidup secara fisik, misalnya makanan, minuman, tempat berteduh dan lain sebagainya. Dalam organisasi HIPMI-MALUT apakah seluruh anggota/kader terpenuhi akan hal itu ?, hnaya sebagian, sebagian tinggal di asrama organisasi dan sebagiannya lagi tinggal di tempat tinggalnya masing-masing (kost). Melalui kebutuhan fisiologis ini sudah sangat berpengaruh besar terhadap kreatifitas kader untuk berkipah dan memajukan organisasinya sendiri. Mereka merasa tidak diperhatikan oleh organisasi dalam hal kebutuhan fisiologis dengan memegang prinsip kita hidup dalam satu wadah kenapa hanya sebagian yang dapat sebagian tidak, entah organisasi yang membatasi ataukah mereka sendiri yang menyatakan diri untuk menolak. Jangan membuat setiap kader berkumpul dalam satu karakteristik melain berkumpul dalam satu keberagamana, dengan cara memenuhi kebutuhan fisiologis setiap kader walaupun hanya sesaat, buatlah organisasi benar-benar masuk dalam dirinya, hingga suatu saat setiap kader ingin memenuhi kebutuhan fisiologisnya ia akan kembali ke organisasi.
  1. Kebutuhan Akan Rasa Aman (Safety/Security Needs)

Setelah kebutuhan-kebutuhan fisiologis terpuaskan secukupnya, muncullah apa yang disebut Moslow sebagai kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan itu diantaranya adalah rasa aman akan fisik, stailitas, ketergantungan, perlindungan, dan keebasan dari daya-daya mengancam seperti kriminalitas, perang, terorisme, penyakit, takut, cemas, bahaya, kerusuhan dan bencana alam. Serta kebutuhan secara psikis yang mengancam kondisi kejiwaan seperti tidak diejek, tidak direndahkan, tidak stres, dn lain sebagainya.

Kebutuhan akan rasa aman ereda dengan keutuhan fisiologis karena keutuhan ini sewaktu-waktu bisa tidak terpenuhi. Setiap anggota tentunya akan menuntut akan rasa aman pada organisasi yang menampungnya. Petanyaannya apakah organisasi bisa memenuhi kebutuhan akan rasa aman bagi tiap-tiap anggota/kader itu sendiri atau tidak,

  1. Kebutuhan Akan Rasa Memiliki dan Kasih Sayang (Social Needs)

Jika keutuhan fisiologis dan keutuhan akan rasa aman telah terpenuhi, maka muncullah keutuhan akan rasa cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki. Kebutuhan-kebutuhan ini meliputi orongan untuk dibutuhkan oleh orang lain agar ia diangap sebagai warga komunitas sosialnya. Bentuk akan pemenuhan kebutuhan ini macam-macam, seperti bersahabat, kebutuhan untuk dekat pada keluarga dan kebutuhan antarpriadi seperti kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta.

Sebuah organisasi tentunya menanamkan nilai-nilai keberagaman dalam diri setiap anggota/kadernya, demi keberlangsungan organisasi itu sendiri dalam waktu yang panjang. Organisasi itu akan terancam jika setiap anggota/kadernya tidak tertanam easa akan memiliki organisasi itu sendiri, begitupun sebaliknya. Jika rasa akan memiliki ini sudah ternaman diantara keduanya baik itu dari pengurus organisasi dan anggota/kader organisasi maka dengan sendirinya rasa kasih sayang akan muncul. Keduanya seperti sebuah koin yang gambarnya saling melengkapi dan menyempurnakan.

  1. Kebutuhan Akan Penghargaan ( Esteem Needs)

kebutuhan dicintai dan memiliki tercukupi, selanjutnya manusia akan bebas untuk mengejar kebutuhan egonya atas keinginan untuk berprestasi dan memiliki prestise. Menurut Moslow setiap orang memiliki dua kategori mengenai penghargaan yaitu kenutuhan yang lebih rendah dan kebutuhan yang lebih tinggi. Kebutuhan yang lebih rendah yaitu dengan menghormati orang lain, kebutuhan akan status, ketenaran, kemuliaan, pengakuan perhatian, reputasi apresiasi, martabat, bahkan nominasi. Sedangkan kebutuhan yang tinggi adalah kebutuhan akan harga diri, perasaan, keyakinan, kompetensi, prestasi, penguasaan, kemandirian, dan kebebasan.

Sudah berapa banyak anggota HIPMI-MALUT yang meraih prestasi hingga membuat setiap anggota/kader merasa bangga, ataupun sebaliknya, organisasi akan measa bangga jika hal demikian dialami oleh setiap anggota/kadernya.

  1. Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-actualization Needs)

Tingkat terakhir dari kebutuhan dasar Moslow addalah aktualisasi diri, yaitu kebutuhan untuk membuktikan dan menunjukkan dirinya kepada orang lain. Hal ini menggambarkan setiap orang ingin berprestasi dalam hal apa saja baik itu dikalangan akademik ataupun di lingkungan sosialnya. Training motivasi diri dan pengembangan soft skill yang diterapkan dalam organisasi berharap menuai sebuah harapan agar setiap anggota/kadernya mampu bersaing dengan lingkungan sekitarnya.

Gorontalo, 13 Desember 2017

Referensi:

  • Rahmat Hidayat, Deden (2011), Zaenudin A. Naufal, ed Teori Dan Aplikasi Psikologi Kepribadian Dalam Konseling.
  • Goble, Frank (1987), A. Supratiknya, ed Mahzab Ketiga, Psikologi Humanistik Abraham Moslow/

Tulisan ini sengaja aku menuliskannya untuk follow up materi yang dibawakan oleh kanda Dr. Ikram Muhammad, S.Pd, M.Si (Pembina) dan moderator Jumar A. Tasanif (Anggota) pada Sabtu, 09 Desember 2017 di sekretariat HIPMI-MALUT Gorontalo, selain itu juga bisa sebagai bahan bacaan bagi setiap anggota/kader HIPMI-MALUT yang tidak mengikuti kajian pada malam itu.

Galeri kegiatan


Iklan