images
anicetunayt.wordpress.com

Universitas adalah wadah bagi mahasiswa bebas mengembangkan dan membentuk jati diri dalam rangka persiapan persaingan di dunia kerja atau untuk membangun bangsa ini menjadi labih baik lagi.

Secara umum mahasiswa yang kita kenal dalam pengertiannya adalah ketika seseorang sudah terterima di lembaga Universitas, memiliki kartu mahasiswa yang sah dalam Universitas tersebut. Ketika seseorang yang sudah terdaftar dalam Universitas, dia telah sah menjadi seorang mahasiswa dan berhak menggunakan segala fasilitas dalam kampus dengan ketentuan-ketentuan yang ada, tanpa adanya tendensi dari pihak manapun.

Namun sangat di sayangkan orang-orang yang baru masuk di sebuah wadah kampus ini selalu menemukan kesulitan beradaptasi di dunia kampus, tempat mereka berlajar sangatlah berbeda dengan tempat belajar mereka sebelumnya. Mahasiswa yang sudah lama menetap di kampus ini, seringkali melakukann penindasan kepada para mahasiswa.

Prinsip senioritas dan junioritas di kampus, masih sangat berpengaruh. di mana seorang yang katanya senior sering menindas mereka para junior. Hal ini jelas akan membuat para mahasiswa baru sering kali merasa tertindas dengan prinsip senioritas dan junioritas ini.

Kamis 16 november yang lalu, merupakan hari yang tak terlupakan bagi seorang anak yang berjuang keras di tengah kehidupan kota, mengemban amanah besar kedua orang tua, untuk meraup dalamnya ilmu pengetahuan di tanah Gorontalo.

Ditya adalah seorang mahasiswa baru yang datang dari perantauan, dengan niat untuk belajar di dunia kampus, yang katanya banyaknya ilmu di dalamnya. Pada saat itulah salah satu kisah tertindasnya seorang mahasiswa baru yang ada di kampus yang sebelumnya dia sangat menginginkan agar dia bisa melanjutkan proses belajarnya di kampus itu.

Kamis (16/11) menjadi kisahnya Ditya yang saat itu masih baru di kampus. Pada saat itu ia sedang asik bercerita dan bercanda dengan teman-temanya di salah satu ruangan kampus. Lalu masuklah beberapa orang yang katanya seoranga senior. Saat itulah Ditya dan beberapa temanya di hajar oleh orang-orang tersebut.

“pada saat saya sedang asik duduk dan berbincang dengan teman-teman saya, meraka masuk dan menyuruh yang lain keluar, hingga tersisa di dalam ruangan kelas hanya saya dan terman saya.setelah itu mereka mengunci pintu dan tanpa berbicara lagi, mereka langsung menempar kami berdua.saat itu saya tidak bisa melawan karena saya sangat takut, dan juga mereka sangat banyak”. Tutur Ditya saat diwawancarai.

Hal ini menjelaskan bahwa saat itu Ditya dan salah satu temanya benar-benar merasa kesal dan tertindas.

Aldy, seorang teman Ditya, nasib yang sama juga terjadi padanya “saat itu saya dan ditya sedang asik bercanda di kelas, dengan beberapa teman lainya.namun setelah mereka masuk, mereka menyuruh yang  lain untuk keluar.saat itulah saya sadar bahwa sasaran mereka adalah saya dan Ditya.saya dan Dityapun di tampar dengan keras,rasanya sangat sakit,sampai Ditya menangis dan bercucuran air mata” tandasnya.

Setelah peristiwa itu Ditya dan temanyapun langsung pergi ke rumah dan segera melaporkan hal yang tidak pantas di terima baik olehnya. Ke dua orang tua Ditya lantas setelah mendengar kejadian tersebut, lalu segera datang dari kampung yang jauh menuju kampus untuk mengklarifikasi peristiwa yang tak pantas di terima anaknya.

“saat itu saya sangat kesal dan tidak ada seorang yang bisa saya adukan selain kedua orang tua saya. Saat itulah orangtua saya langsung datang dari kampung dan langsung melakukan tindak lanjut pada pihak kampus, agar masalah saya ini segera selesai, dan mereka bisa mendapatkan sesuatu yang pantas mereka dapatkan” tutur Ditya lagi.

Pemukulan yang di lakukan karena Ditya dan temanya ini adalah salah satu anggota dari kelompok mereka. dan pemukulan itu tak lain adalah anggota satu kelompok dengan mereka tapi mereka sudah di jajaran para senior.

Menurut penuturan Eko salah satu teman sekaligus kelompok Ditya mengatakan “saya sering mendengar dari beberapa senior bahwa Ditya dan temanya ini kurang berpartisipasi ketika kelompok mereka ini melakukan kegiatan di kampus. Hal itulah yang menjadi alasan senior ingin melakukan hal tersebut kepada Ditya dan temanya ini”.

Di sisi lain Murni salah satu teman Ditya mengatakan “ya, memang benar Ditya dan beberapa temanya termasuk saya ini, jarang berpartisipasi dalam kegiatan yang di laksanakan oleh kelompok kami.namun,hal itu kami lakukan karna kami mempunyai benyak tugas besar yang harus segera kami selesaikan.jadi kami jarang berpartisipasi, bukan tidak beralasan.tapi kami mengerjakan tugas. jadi kami tidak bisa selalu ikut berpartisipasi dengan mereka.ini suah saya katakana kepada mereka para senior,tapi mereka tidak mau tau, malah mereka terus memaksa kami untuk berpartisipasi dengan mereka” jelasnya.

Hal ini menjelaskan bahwa Ditya ini adalah seorang yang sangat memprioritaskan urusan perkuliahanya, dari pada urusan lain. Karena dia telah berjanji akan memenuhi amanah dari kedua orang tuanya, untuk benar-benar datang menuntut ilmu di tempat yang jauh.

sementara itu Aan salah seorang teman Ditya mengatakan bahwa perlu ada tindak lanjut dari pihak kampus jika ingin masalah ini selesai dan kejadian ini tidak akan terulang lagi kepada mahasiswa lainya. ”saya berharap pihak kampus lebih mempertegas lagi mengenai aturan yang ada di kampus, termasuk cara berperilaku sesama mahasiswa.agar tidak terjadi hal-hal yang sama-sama kita tidak inginkan” tandasnya.

Hal ini sangat di sayangkan terjadi pada seorang anak yang bertubuh kecil, seakan tak mampu berbuat apa-apa, saat di hajar. Ditya ini sangat memprioritaskan masalah perkuliahanya dari pada masalah lain, karena ia berharap nantinya ia akan mampu menjadi seorang yang sukses dan mampu membanggakan kedua orang tuanya serta mengangkaat derajat dari kedua orang tua.

Namun, seiring berjalanya waktu Ditya sudah sering memaafkan mereka para senior yang melakukan pemukulan terhadapnya, ia hanya berharap agar para senior di kampus tidak lagi melakukah hal semacam itu, kepadanya dan juga yang lainya. ”saya sudah sering mencoba memaafkan mereka, meskipun rasa kesal dan marah saya sering kali muncul, namun saya sering memaafkan mereka.saya terus belajar dan mengembangkan kemampuan saya, walaupun terkadang ada orang yang tidak suka dengan tingkah laku saya, dan sering kali mecoba menindas saya, saya sering bersabar.dan saya meminta agar mereka tidak lagi melakukan hal semacam itu lagi pada yang lainya” jelasnya.

Walaupun di tengah kehidupan kota yang keras dan baru dia saksikan ini, dia mencoba bertahan, karna dia tau betapa beratnya beban amanah yang dia pikul dari kedua orang tuanya,dia hanya terus berjuang di tengah kehidupan kota yang keras ini, tanpa bisa mengadu pada siapapun selain kedua orang tuanya. Dan harapanya selanjutnya adalah agar kehidupan mereka di kampus bisa damai dan tidak ada tendensi dari pihak manapun.

Seharusnya mereka sebagai seorang yang berilmu tidak melakukan hal-hal yang tidak terpuji seperti itu.seharusnya mereka sebagai seorang yang senior di kampus,  mereka mampu memperlihatkan sifat dan perilaku yang baik kepada para mahasiswa yang baru masuk di kampus ini.dan juga di harapkan bahwa mereka ini tidak membuat sekat antara mahasiswa lama dan mahasiswa baru, dengan prinsip senioritas dan junioritas ini.sehingga kampus tidak menjelma menjadi tembok yang memenjarakan para mahasiswa.dan semoga kejadian ini tidak akan terulang kembali agar kampus akan benar-benar menjadi wadah bagi para mahasiswa mengembangkan diri mereka, intelektual mereka, dan juga hal-hal positif lainya. (Senin, 4/12/17)

Gorontalo, 23 Desember 2017

Tulisan ini adalah salah satu hasil dari tugas salah satu mata kuliah semester 1 di jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo.

Moh Rivaldy Hapili, Sekretaris KOMFAK Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo HMI-MPO Cabang Gorontalo.

Iklan