download
pixabay.com

Dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, memudahkan kita dengan mengakses informasi secara cepat. Secara tidak langsung kita gemar mencari informasi di berbagai media sosial ataupun media cetak. Sehingganya proses tersebut hanya di lakukan dengan cara membaca. Membaca memang memiliki nilai positif bagi setiap inidividu dalam mengembangkan intelegensia dan wacana-wacana sosial agar tidak tertinggal oleh zaman.

Kondisi Minat Baca Penduduk Indonesia

Pada tahun 2012 data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan The United Nation of Education Social and Cultural (Unesco), menyatakan minat baca masyarakat indonesia menduduki posisi no 2 terendah dari peringkat ke-60 dari 61 negara dan berada di bawah Thailand (59) dan persis di atas Bostwana (61). Data tersebut menunjukan minat membaca hanya 1:1.000 dari 1.000 penduduk Indonesia, hanya satu yang memiliki minat baca. Halnya dengan  255 juta jiwa penduduk Indonesia terdapat 255 ribu orang yang suka membaca. Dan, sebanyak 252,45 juta jiwa tak ada keinginan untuk membaca.

Setiap tahun, jumlah warga negara Indonesia yang buta aksara terus menurun. Dalam 10 tahun terakhir (2005-2015), dari sekitar 15 juta orang kini tersisa sekitar empat juta sampai lima juta jiwa. Harapannya, angka ini semakin menipis dan puncaknya nol persen atau tidak ada lagi masyarakat yang tidak bisa membaca maupun menulis.[1]

Sungguh miris dengan kondisi bangsa hari ini. Perbandingan dengan negara-negara seperti Amerika Serikat yang setiap warganya sudah membaca minimal sebanyak tujuh buku dalam setahun, dengan Jepang, bahkan Malaysia pun kita masih jauh. Dalam setahun, sedikitnya masyarakat Jepang membaca tiga hingga empat judul buku baru, sedangkan di Malaysia warganya paling sedikit satu buku dibaca oleh tiga orang.

Menurut Arixs: 2006 yang dikutip oleh Fauzul Andim pada Suara Merdeka edisi 24 september 2011, ada enam faktor penyebab: (1) Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat mahasiswa harus membaca buku, (2) banyaknya tempat hiburan, permainan, dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian mereka dari membaca buku, (3) budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita, sedangkan budaya tutur masih dominan daripada budaya membaca, (4) sarana untuk memperoleh bacaan seperti perpustakaan atau taman bacaan masih merupakan barang langka, (5) tidak meratanya penyebaran bahan bacaan di berbagai lapisan masyarakat (6) serta dorongan membaca tidak ditumbuhkan sejak jenjang pendidikan praperguruan tinggi. [2]

Selain dari itu, ini juga merupakan akibat dari sistem pendidikan yang tidak mencerdaskan, di lihat juga dsri berbagai kurikulum yang kemudian di gontak ganti dari tahun ke tahun. Ini sama halnya setiap kurikulum yang di terapkan dalam instansi pendidikan seakan hanya bersifat uji coba belaka. Sistem pendidikan seperti ini memperlihatkan kepada kita semua bahwasanya bangsa ini memaksakan kehendak untuk menyaingi bangsa lain yang sebenarnya belum memiliki kesiapan yang matang.

Hal ini, membuktikan bahwa kurangnya minat baca mahasiswa dapat di lihat di berbagai universitas, dimana kurannya partisipasi mahasiswa dalam melakukan proses perkuliahan, yang mengakibatkan mahasiswa enggan memberikan pertanyaan atau takut bertanya setelah materi di berikan oleh dosen. Tak hanya itu, mahasiswa dalam memberikan pertanyaan tidak berkualitas sebab kurang memiliki bahan bacaan atau referensi yang mumpuni.

Menurut Siregar (1996), sebagai bagian dari msyarakat akademis, mahasiswa mempunyai kewajiban membaca. Lingkungan pendidikan tinggi merupakan tempat yang strategis untuk mengembangkan kebiasaan membaca. Kegiatan membaca sudah seharusnya merupakan aktivitas rutin sehari-hari masyarakat ilmiah dan akademik, karena tugas-tugas mereka menuntut untuk terus melakukan aktivitas membaca tersebut. Kegiatan belajar, meneliti, menulis, seminar, dan diskusi menuntut mahasiswa untuk selalu membaca dan memperoleh pengetahuan dan informasi yang relevan da mutakhir agar mutu hasil belajarnya terus meningkat. Selain itu, kegiatan membaca juga mempunyai fungsi sosial yaitu untuk memperoleh kualifikasi tertentu yang disebut dengan achievement reading. Mahasiswa agar dapat lulus pendidikan dengan baik, harus mempelajari dan membaca sejumlah bahan bacaan terutama yang direkomendasikan oleh dosennya. [3]

Dari Media Sosial

Di tahun 2016 terakhir ini, negara kita masuk dalam penggunaan media online terbesar bahwa terdapat 132,7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet. [4] nah ini berarti bahwasanya masyarakat indonesia seolah lebih maju dalam hal penggunaan media online. Pada analis ini, indonesia di katakan sebagai negara yang tingkat silaturrahim yang tinggih, persaudaraan yang mengikat erat hubungan antar sesama yang menimbulkan tingkat konsumsi media komunikasi meningkat dari tahun ketahun di bandingkan negara-negara lain. Namun pada sisi lain media online ini seringkali di gunakan bukan pada konteks kegunaannya, sehingga banyak kemudian penggunaan media online ini, hanya di gunakan sebagai simbol atau tanda tanpa makna, sebagaimana yang di katakatan oleh Baudrillard sebagai dunia hiperrealitas dan simulasi yang menyebabkan tumbangnya nilai-guna oleh nilai-tanda dan nilai-simbol.

Dengan perkembangan mobile phone dan sosial media sebenarnya membuat aktivitas membaca cukup meningkat tapi masalahnya mutu kualitas bacaan yang bersifat setengah-setengah atau parsial yang di baca melalui media tadi tidak memberikan pengetahuan yang komprehensif. Terlebih lagi semakin banjirnya informasi melalui internet membuat orang tidak bisa memilih prioritas bacaan, akhirnya ia membaca informasi yang ia tidak butuhkan. Bacaan pun menjadi kurang berguna. [5]

Perkembangan mesin pencari ‘google’ juga ikut andil menyebabkan orang-orang merasa tidak perlu membaca banyak buku, sehingga berkembang anekdot di masyarakat ‘tanya aja sama om google’ ketika ingin mencari suatu informasi. Dan mereka pun mendapatkan solusinya. Terus siapa yang salah jika mereka merasa tidak perlu membaca banyak buku pun bisa menjawab hal yang tidak diketahui? Mengenai mesin pencari google ini harus diberi pengertian bahwa ia hanya sebagi solusi jangka pendek, tidak semua bisa dijawab oleh google. Lebih jauh lagi dalam sebuah penilitian yang pernah saya baca bahwa google menyebabkan orang menjadi lebih bodoh. Menurunnya daya kritis dan analisa karena mengambil informasi begitu saja dari google. [6]

Media sosial seharus nya di gunakan sesuai hakikatnya.  Seharusnya perlu dan mampu memfilternya agar dapat mencerna dan memanfaatkannya untuk kepentingan-kepentingan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain juga media sosial bagi remaja, mahasiswa dan pemuda dalam penggunaan ini, seharunya di gunakan sebagai media baca tulis dalam rangka mengembangkan budaya literasi, agar tidak sebagaimana di katakan oleh Bourdieu tentang dominasi media yang kemudian meletakkan manusia pada titik nadi terendah dalam nilai-nilai kemanusiaan.

Pada kasus ini, media sosial layaknya di jadikan sebagai media dakwah, penyadaran, berbagi informasi melalui kolom-kolom tulisan, sehingga secara tidak langsung sebagai wadah untuk mengembangkan kesadaran berliterasi. Banyak kemudian pada dewasa ini, teknologi media masa hari ini seolah memanjakan kita. Media massa, tampaknya larut dalam arus utama konsumerisme yang melanda generasi-generasi kita. Apalagi di era reformasi ini berkembangnya demokrasi liberal dan kebebasan pers ternyata tidak mampu menciptakan perubahan sosial yang berpihak kepada kaum lemah. Bahkan Media massa (baca; Yohanes Krisnawan) hari ini menjadi apparatus ideologis kepentingan kapitalisme global, sekaligus tampak tidak berdaya mempertahankan cita-cita idealismenya di hadapan kepentingan modal.

Warung Kopi, Warung Berdialektika

Tidak banyak warung kopi di kunjungi oleh para cendikiawan, termasuk mahasiswa, dan para intelektual lainnya. Warung kopi merupakan wadah dimana para akademisi tidak hanya berkunjung menikmati kopi, namun juga melakukan aktifitas intelektual. Warung kopi di jadikan sebagai ladang dialektika para kaum cendikiawan, berdiskusi, dan dan berdialog memecahkan persoalan-persoalan mayarakat dan organisasi pada skala kecil. Namun pada sisi ini, warung kopi justru memisahkan jurang perbedaan antara kelompok masyarakat yang kaya dan kelompok masyarakat yang kurang mampu. Artinya bahwa kita menghilangkan nilai dan hakikat dari sesuatu, semestinya memanfaatkan sesuatu sesuai pada konteks dan koridor yang semestinya di pahami sebelumnya.

Menulis Agar di Kenal Dunia

Anda pernah mengenal Karl Marx, Max Waber, atau pemikir islam Iran Ali Sariyati, Murtadha Mutahari dan Imam Khomeini? Mengapa dunia mengenal mereka? Tidak hanya pemikiran-pemikiran mereka yang fundamental, namun karena karya-karya spektakuler mereka yang mewarisi zaman. Karl marx yang di kenal sebagai penggagas komunis yang hingga pada hari ini kita memperjuangkan dan mengembangkan gagasannya membentuk masyarakat tanpa kelas, max waber dengan karya-karyanya tentang pertentangan pemikiran antara kaum cendikiawan dengan penguasa gereja di abad 21 yang kita kenal dengan “Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme” atau Ali Sariyati dan kawan-kawannya dengan gagasan cemerlang membangun gerakan Revolusi Islam iran 1979 dalam karya-karyanya. Ini tidak lain adalah berawal dari yang di namakan menulis.

Artinya bahwa dalam dunia literasi tidak lepas dari aktifitas membaca, berdiskusi dan menulis. Dari sinilah peradaban akan maju dan berkembang. Kebodohan yang kemudian menjadikan bangsa ini terjajah oleh bangsa asing adalah ketidakmampuan untuk mencipta dan merubah, sebab pengetahuan dan kekuatan intelaktual masih melemah dalam spirit generasi pada jaman dulu. Namun karena dari beberapa intelektual yang menjalani pendidikan pada masa itu sehingga mereka menemukan suatu pencerahan tentang keterbelakangan dan penindasan yang di alami oleh bangsanya, hal itu, mereka berupaya untuk menyusun strategi perlawan untuk membangun kekuatan meruntuhkan serta mengusir penjajahan asing yang menguasai negerinya. Untuk itulah, bagi generasi terutama mahasiswa yang mengemban amanah untuk meneruskan cita-cita kemerdekaan adalah harus membangun tradisi menulis untuk diri dan bangsanya sebagaimana apa yang di katakan oleh Pramoedya Ananta Toer “Orang boleh pandai setinggih langit, tapi selama tidak menulis ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah”.


Catatan Kaki:

[1]Syahrudddin El-Fikri, Jurnalis Republika, GM Redaksi dan Promosi Republika Penerbit

[2]Sasmi Farida. 9 Mei 2012. Faktor-Faktor Penyebab Keengganan Membaca Di Lingkungan MahasiswaStudi Kasus. Fakultas Bahasa Universitas Widyatama. sasmi.farida@widyatama.ac.id Hal. 322

[3]Siswati. Minat Membaca pada Mahasiswa (Studi Deskriptif pada Mahasiswa

Fakultas Psikologi UNDIP Semester I) SEMINAR ASEAN 2nd PSYCHOLOGY & HUMANITY. Psychology Forum UMM, 19 – 20 Februari 2016. Hal. 611

[4]Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) sebagaimana di lansir dalam Compas.com (29, Agustus 2017)

[5]https://www.kompasiana.com/infoituilmu/minat-baca-masyarakat-indonesia-ketiga-dari bawah_54f34956745513802b6c6f99

[6]Ibid.,

Iklan