IMG20180101072549

Sudah beberapa kilo, kami mendaki dengan tinggi di puncak gunung. Melewati Hutan-hutan yang lebat, gunung-gunung yang menjulang tinggih. Hampir menyerah, tak kuasa lagi mendaki. “Capek, capek sekali, so sakit ini kaki” teriak seorang perempuan yang tertatih-tatih, merangkak di atas tanah yang miring. Mendengar keluhan adik kami yang kelelahan itu, kami memutuskan untuk berhenti istirahat sejenak di bawah pohon yang teduh dari sinar matahari yang panas. “Jangan terlalu lama beristirahat, nanti kalau hilang keringat kita, malas nanti kalau mau lanjutkan perjalanan” saya dengan semangat ingin menggapai puncak, segera berlangkah melanjutkan perjalanan yang masih jauh itu.

IMG20180101053052

Perlajalan masih beberapa puluhan meter mencapai puncak itu, kami tak berhenti-hentinya beristirahat yang tak hitung lagi banyaknya. Akhirnya tibalah di sebuah bangunan kecil yang baru saja di bangun oleh petugas wisata nasional, mereka menyebutnya itu adalah pos 1. Kira-kira 5 kilo ketinggian dari dataran rendah. Di sinilah pemendangan yang indah mulai menyelimuti tatapan mata, segarnya udara bersepoi-sepoi menghilangkan lelah dan keringat yang bercucuran.

Dari bangunan itu, hanya berjarak beberapa meter berjalan mencapai final puncak yang kami nantikan dengan usaha dan semangat mencapainya. Kami membangun tenda yang hanya beratapkan selembar spanduk yang berukurang besar itu, yang di persiapkan sebelum berangkat. Berfoto-foto untuk mengisi waktu sambil menunggu tibanya malam.

IMG20171231175536

Malam yang begitu dingin, angin lembut bersepoi. Keindahan yang indah sesungguhnya. Saat tatapan yang jauh ke belantara kota. Berpijarnya lampu-lampu kota menghiasi indahnya alam semesta. Kabut hitam membungkus, tak kelihatan jarak diantara 10 meter dari posisi kami. Suasana puncak dengan ramainya. Berbondong-bondong orang-orang berdatangan tak kunjung henti walau hingga malam. Suara gitar bersenandung mengiringi malam dingin itu memecah kesunyian di kegelapan. Pukul 20;26, rembulan seolah mengerti dengan kedatangan kami, menyambut kami dengan bersahabatnya, menerangi malam kami dengan indah cahayanya, bagai negeri syurga di atas awan.

20171231_180230

Angka jarum jam telah menunjukan pukul 23;30, setengah jam lagi kita akan menyambut tahun baru 2018. Tahun dimana kita menunggu di punca ini. Bulan yang tak hentinya memancarkan sinarnya yang menyinari puncak gunung ini. Canda tawa senda gurau ikut menyelinap di tengah-tengak keramaaian di atas puncak. Di atas rumah pohon yang hanya menampung kapasitas 6 orang, sementara kita yang berkunjung melebihi kapasitas rumah pondok itu. “Tidak ada yang gelap kempita menyelimuti, karena bulan masih bersedia menemani kita menyaksikan tahun baru sebentar lagi” tutur seorang lelaki berbadan gemuk, membaringkan tubunya dan matanya serius menikmati keindahan cahaya bulan itu. Kami tidur beramai beralaskan selembar spanduk yang berukuran lebih. Kopi baru saja di panaskan di belanga yang porsinya lebih, bisa di nikmati 15 orang. Panasnya kopi menemani kita menunggu momen 1 januari 2018 setengah jam lagi.

IMG-20180101-WA0090

Inilah tibanya pukul 12;00 suara trompet memantulkan bunyinya yang terdengar indahnya dari atas puncak. Masha Allah ini momentum yang terindah buat Saya selama hidup di dunia ini. Alhamdulillah, dengan kemahakuasaan telah mencurahkan segenap nikmat kesempurnaan untuk menyaksikan keindahan yang luar biasa. Letusan kembang api, memunculkan bunga-bunga yang berwarna warni. Keseluruhan kota Gorontalo yang maha luasnya, di pandang dari puncak gunung ini. Ya Allah ini momentum yang hanya sekali dalam setahun. Keindahan kota gorontalo, saya menyaksikan itu. Ramainya orang-orang di puncak ini, turut menyaksikan keindahan yang mahakuasa ini.

IMG-20180101-WA0014

Pukul 03;30, saya menarik polpen ini untuk melanjutkan tulisan ini, setelah beberapa jam yang menjedah waktu saya yang tak nyenyak tidur beralaskan Spanduk. Dingin yang berselimut tubuh yang kaku dengan susasana malam yang tak biasanya di kota. Kami menyalakan api unggun di bawah tenda yang di bangun beratapkan spanduk itu, kami duduk mengelilinginya, menghangatkan tubuh yang menggigil dingin. Sambil menikmati hangatnya kopi dan santapan jagung bakar yang di iringi lagu-lagu yang mungkin sesuai dengan suasana malam ini.

2017-12-31-23-46-42-251

Sebagian teman-teman kami yang baru saja terlelap seketika bangun dan duduk berdampingan dengan api yang menghangatkan, karena tak kuasa menahan dingin. Bulan yang tak melepas ikatanan sahabat dengan kami, ikut menerangi malam kami. Lampu-lampu kota masih tetap sesuai dengan awalnya sebagaimana saat matahari baru saja terbenam.  Kabut hitam mulai perahan membungkus kota, menghilangkan sisa-sisa kendahan kota. Namun tak pernah menghapus keindahan pemanangan di malam ini.

20171231_171618

Duduk bersela-sela dengan posisi takkaruan mengelilingi api unggun yang membakar kayu hingga habis dan perlahan-lahannya meredupkan nyala. Kala tibanya fajar yang indah menampakkan dirinya di balik gunung dan memancarkan sinarnya ke kota yang masih menyisakan keindahan. Sawah yang luasnya memantik diri untuk menikmati keindahan ketika fajar memberikan sedikit cahanya pada hijaunya padi-padi yang di tanami jauh di kota sana. Gedung-gedung yang tinggih, indahnya menerima sinaran fajar yang menyamankan mata ini untuk menatapnya. Tak lagi terasa dingin walau kabut hitam membungkus dengan eratnya di puncak ini, karena di tutupi gairah keindahan yang menawan di pagi hari ini.

Gorontalo, 31 Desember 2017 s/d  01 Januari 2018

Iklan