236475-gadget-candu-.png

Duduk seadanya ia,
Dengan santai memegang gawai,
Berdakwah tak berbekas ia,
Tanpa wudhu bersyiar alay.

Katanya, ‘si ini yg baik tuk si itu yg baik.’
Unggahnya, ‘anak muda pencinta kekasih- Nya.’
Teriak samarnya, ‘cinta dunia bukanlah hal yg laik.’
Tanya sarkastiknya, ‘masih sempatkah besok sujud untuk-Nya?’

Berselimut imutnya kucing,
Berperilaku liurnya anjing!!!
Dimulutnya ayo dzikir,
Dibuatnya malaikat ngacir!!!!!

Aduh susahnyaaaa.
Tak tahukah Sang Kekasih berjuang,
Demi kamu si tanah liat berpeluh penuh daki?

Hai para penista!!
Tak bekerjakah otak mesummu,
Demi sedikit air suci dari Yang Maha Pengasih?

Kasihanilah para gembel berpeci,
Yang kesana kemari,
Yang turun naik,
Dan terkadang menyebut namamu,
SI BAU KENCING,
Dalam sepatah dua patah harapan,
Bersama dua tangan menengadah keatas meminta ampunan.

Biarlah Si Hakim Maha Adil,
Yang jadi penentu di akhir nanti,
Tentang nasib burung kenari bersarang kayu jati,
Dan bajing tak wangi bersahabat rubah api.

Sastrawan Gembel
Manado, 08 Maret 2018

Iklan