intoleransi indonesia
http://www.infonawacita.com

Indonesia adalah warna-warni pelangi, namun memiliki satu tujuan yang sama, yakni memberikan keindahan bagi setiap pasang mata (Siswandi T).

Fenomena Intoleransi  dan kekarasan yang terjadi pada  negara dengan semboyan “BHINEKA TUNGGAL IKA”. Sungguh sangat memprihantinkan, dan masih terus terjadi dan berlangsung dalam masyarakat Indonesia. Kebhinekaan sendiri merupakan tonggak pemersatu bangsa indonesia yang dengan menekan nilai-nilai primordialisme sempit yang beranggapan bahwa agan, ras, dan budaya milik pribadi lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya.

Komnas HAM  menyampaikan laporan tahunan 2016 tentang kondisi kebebasan beragama dan berkeyakinan di Ruang Pengaduan Komnas HAM pada 9 Januari 2017. dan sepanjang tahun 2017 terjadi 155 kasus intoleransi disertai tindak kekerasan.

Dalam laporan tahunannya, Ketua Komnas HAM Imdadun Rahmat menyampaikan adanya peningkatan kasus intoleransi atas kebebasan beragama dan berkeyakinan. Sepanjang 2016, berdasarkan pengaduan yang diterima Komnas HAM, tercatat ada 97 kasus. Data ini meningkat, karena pada 2014 tercatat ada 76 kasus dan 87 kasus pada 2015.

Selain itu, Komnas HAM menenggarai adanya negative solidarity terkait dengan penutupan rumah-rumah ibadah di berbagai daerah. Hal ini misalnya penutupan gereja di Indonesia bagian barat kemudian menjalar menjadi aksi penolakan terhadap pembangunan masjid di Manado, Sulawesi Utara dan Bitung. “Bahkan, ada penolakan jamaah tabligh di bandara NTT,” ujar Imdadun.

Selain itu, Komnas HAM juga mencatat bahwa pelaku intoleran masih didominasi oleh pemerintah daerah karena membatasi kebebasan beragama dan berkeyakinan melalui kewenangan dan kebijakannya yang tidak selaras dengan HAM

Indonesia keanekaragaman agama ( Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu), ras etnis dan bahasa seakan kehilangan nilai bhineka tunggal ika. kita lupa bahwa dalam sebuah perbedaan kita akan mampu saling melengkapi, banyak yang lupa bahwa kita masih berada di bawah kibaran bendera merah putih.

Konservatisme, rakyat indonesia kehilangan penghargaan atas pandangan dari perbedaan, prinsip hidup berdampingan untuk saling menopang menuju kedamaian seakan mustahil terwujud. interaksi atau hubungan antar indvidu kini tinggallah bagian dari pada mempertahankan diri dari dinamika sosial yang terjadi di tengah masyarakat, hal ini membuat setiap individu yang berada dalam satu kelompok buka lagi menjungjung tinggi nilai solidaritas dalam mencapai cita kelompok namun lebih mengarah kepada kepentingan pribadi, secara langsung hal ini membuat setiap kita menjadi apatis dan hedonis terhadap dinamika sosial dengan menjunjung tinggi nilai-nilai universal dan  mengarahkan kita kepada paham humanisme.

Hal ini seperti merupakan perluasan dari kebangkitan konservatisme yang sedang terjadi di Timur Tengah dan sekitarnya. Ada semangat untuk melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam secara kaffah atau total dalam kehidupan sehari-hari. Seperti gerakan pendirian toko 212 atau bank 212. Kelompok konservatif ini memiliki kerangka nilai atau tata aturan yang dipersepsikan sebagai hal yang tidak selaras dengan modernisasi.

Nilai kebenaran hari ini mulai di presepsikan sebagai kebenaran mutlak bagi mereka dalam satu kelompok sosial dan mulai menyalahkan kelompok lain yang tidak sepaham dengan paham kelompoknya. Hal ini terjadi dengan banyaknya konflik yang terjadi dalam indonesia bukan hanya dikalangan masyarakat biasa namun juga konservatisme juga banyak dianut oleh mereka para petinggi pemerintahan yang mulai menyalahkan yang satu dan yang lainnya.

Indonesia merupakan bangsa yang besar dan sejak lama hidup mampu hidup berdampingan meski memiliki perbedaan. Oleh sebab itu, intoleransi dalam bentuk apapun, terlebih dengan kekerasan semakin mencederai nila Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika yang menjadi semboyan sejak negara Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya.

Banyak dari kita yang terus membuka mulut, tapi lupa bagaimana caranya membuka hati dan telinga
Kata hanya dijadikan senjata, untuk menyakiti sesama
Tak ada lagi keindahan dalam perbedaan
Yang tertinggal adalah kata kita dan mereka (Siswandi T).

Tulisan ini juga dimuat di laman Gorspen

Gorontalo, 28 April 2018

Siswandi Tamala

Iklan