images (2)

Libur…! libur merupakan sebuah momentum yang berharga bagi para perantau, termasuk mahasiswa-mahasiswa yang menjalani pendidikannya di luar daerah. Libur juga bagian dari momentum yang indah untuk menunaikan kerinduan yang sekian lamanya menggebu di dalam dada tentang keluarga di kampung, sahabat-sahabatnya dan bahkan si LDR, eh.

Sudah memasuki puasa delapan hari di bulan ramadhan, kita yang sampai hari ini masih bertahan memendam rindu bersama kawan-kawan di asrama mahasiswa, atau masih asik bercumbu dengan kawan-kawan dari HMI yang setia memberikan semangat untuk bertahan di tanah rantau, hingga tak sadar, menghilangkan bekas kerinduan akan pulang. Walaupun sebagian kawan-kawan kita di HMI entah hilang kemana, tak menampakkan dirinya saat diagendakan pertemuan semalam di sebuah mesjid dekat jalan nan ramainya kendraan yang mengusik sunyinya malam. Tinggal beberapa orang yang tak sampai 10 orang  jumlahnya, dengan asik berdiskusi dengan tema-tema intelektual, juga tak bosan-bosannya menyelipkan candaan yang memicu tawa dengan kemeriaahan.

Semantara di asrama, dimana saya menempatinya selama berada di tanah rantau, belum ada tanda-tanda yang anggota atau penghuni asrama yang mengemas barang-barangnya untuk persiapan pulang. Walaupun akhir-akhir ini, begitu hangatnya topik tentang “Pulang Kampung” menjadi trend dalam perbincangan setiap saat dimana kita berkumpul. Setiap pembicaraan, tak pernah kehilangan pembahasan hal itu. Bahkan dengan hal itu, membuat adik-adik yang baru saja datang dari daerah melanjutkan studinya di sini, sudah punya keinginan besar untuk pulang, maklumlah belum terbiasa dengan suasana di tanah rantau.

Kata orang, merantau itu asik, asik kalau kita sudah terbiasa, orang yang hidup di rantauan itu akan terdewasakan pikirannya. Ia tangguh dengan segala macam ancaman dan hambatan yang meghadang. Saya pernah membaca sebuah buku “Rekayasa Sosial” yang di tulis oleh Kang Jalal, yang pernah menyentil sebuah bahasa bahwa “orang sukses harus merantau, atau berkelana di negeri-negeri yang baru”. Sebagai suatu kegiatan pencarian jati diri. sebagaimana juga kata dikatakan imam Ali a.s dalam bukunya M. Mithahhari (Falsafah Agama & Kemanusiaan, hal. 118) bahwa pengetahuan yang paling bermanfaat adalah pengetahuan tentang diri. di sisilainnya juga sebagai pendorong buat kita untuk belajar mandiri dari segala hal. Bagi saya merantau itu adalah bagian dari jihad, etos hidup kita di perjuangkan menembus pahit manisnya kehidupan.

Gorontalo, 24 Mei 2018

Irdanis Kahar

Iklan