rek2-bali-tolak-reklamasi7
Pembangunan tentunya menjadi icon utama dalam segala kebijakan pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Daerah. Hal ini merupakan niat yang tulus dari jiwa dan asah pemikiran kaum elit yang berkuasa. Mau tak mau, hal ini harus di terima sebagai simbol dari perubahan yang konon sangat menyentuh dan berpihak pada masyarakat.
Program demi program dirancang sedemikian rupa untuk menata pemikiran masyarakat golongan pinggiran. Janji dari segala janji beberapa tahun silam bagaikan angin yang lewat begitu saja tanpa persinggahan pasti di masa sekarang, yang ada hanya kenangan yang selalu di ulang dengan adonan perasaan yang sengaja di ciptakan oleh beberapa orang saja.
Saat ini tentunya kita semua lagi merasakan duka yang begitu besar pasca Gempa dan Tsunami di Palu Sulawesi Tengah di susul lagi dengan meletusnya salah satu gunung berapi di Minahasa Sulawesi Utara. Saat seperti ini, kita seakan- menyaksikan bagaimana Tuhan, Alam dan Manusia tidak lagi bersahabat. sebelumnya belum pernah ada rasa yang digerogoti dengan rasa bersalah dan ketidakberdayaan. Segala Bobeto serta yel-yel selalu terdengar dengan nada lantang dengan semboyan bahu-membahu untuk membangun negeri yang tentunya punya landasan sejarah, namun sayangnya hal ini memiliki dampak yang berbeda dengan nuansa sekarang, dan kita menyaksikannya sebagai insiden semata.
Suatu perubahan dapat di kategorisasikan, merupakan keberhasilan pemerintah dan kemenangan bagi masyarakat tentunya, apabila berdampak baik dan bersifat jangka panjang. Namun demikian dunia masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang sudah pasti memiliki perbedaan luar biasa, dan kita seringkali melakukan ragam keanehan yang secara tidak sadar kita sendiri mengalami kekalahan dengan persaingan dan kata perubahan yang di cita-citakan. Memicu kehidupan masyarakat yang begitu berubah dengan tuntutan persaingan antara satu dengan yang lain, contoh sederhana adalah karakter dan pola hidup yang senagaja disamakan dari pusat hingga ke daerah.
Proyeksi reklamasi pantai merupakan icon copy paste program dari kota ke desa, serentak dengan kucuran anggaran yang tidak sedikit. Selama itu pula jika hal ini tuntas di laksanakan maka yakin dan percaya pasti ada banyak keanehan-keanehan yang akan kita hadapi, sepintas kita anggap bahwa proyek reklamasi pantai merupakan program yang sangat bermanfaat, bahkan memiliki efek positif yang begitu besar. Mari kita kembali dengan segala kebijakan yang ada bahwasanya merupakan program penyempitan Ruang Air laut. Lagi-lagi kita selalu berbicara keuntungan tanpa pertimbangan dan sandaran kerugian manusia semesta.
Maba selatan hari ini menurut saya pribadi mengalami perubahan drastis. Mulai dari Penataan wilayah serta Program yang selalu saja dikaitkan dengan keuntungan pribadi dan golongan. dengan mengabaikan kerugian yang akan di dapatkan. Mentalitas dari masing-masing elemen masyarakat mulai bergeser dari keuntungan jangka panjang ke keuntungan yang niscaya dan mustahil. Dengan reklamasi kita mulai menyadari bahwa ada yang rupa-rupanya mulai hilang. Yaitu semangat pembangunan yang kuat dan mental perubahan. Satu persatu adat dan budaya mulai terkikis dengan adanya globalisasi yang selalu melekat dengan kata perubahan. Aneh ketika zaman berubah tapi kita manusia tidak berubah sama sekali.
Selama manusia tidak kembali pada kodrat kemanusiaannya maka yakin dan percaya selama itu pula kita mengalami kecelakaan sejarah. Nilai-nilai yang coba di hilangkan perlahan pada saatnya kita akan mengais dan memungutnya kembali dari sampah pemikiran kita. Main tebang, main timbun main gali adalah tabeat baru dan hal ini sengaja di budayakan. Apakah kita belum sadar?
Suasana kampung yang dulu sekarang tinggal kenangan history. Walaupun Ikan mulai habis di pancing, Tanah habis di gali, Pohon habis akibat penebangan liar, burung habis akibat di tembak, toh Manusia tidak akan pernah makan uang.
Iliyadi Thaib; (Salah satu tokoh pemuda Asal Kasuba Kec. Maba Selatan, Prov. MALUT)

Iklan