Tulisan ini pernah dimuat di Blog Goresan Pena

globalisasi

sumber: http://www.google.com

“Mahasiswa adalah sekumpulan orang yang berkualitas, dan globalisasi adalah sebuah ruang untuk menciptkan mereka yang berkualitas.”
Siswandi Tamala.

Konon katanya, hanya ada dua zat yang melabeli kata Maha, yang pertama zat yang bersifat ilahiah dan yang kedua adalah mereka yang sering dianggap masyarakat luas sebagai kaum intelektual yang sering disebut dengan kata Mahasiswa. Secara umum mahasiswa dapat didefinisikan sebagai seorang siswa yang sedang berada pada jenjang perkuliahan. Sejak usia dini kita telah diperkenalkan dengan dengan lembaga-lembaga pendidikan,  secara umum kita kenal dengan  TK (Taman Kanak-kanak), SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama), SMA (Sekolah Menengah Atas) dan lembaga-lembaga pendidikan sederajat lainnya. Kita akan dilabeli sebagai seorang siswa saat kita menggeluti dunia pendidikan.

Namun akan lain ceritanya, saat kita memasuki bangku perkuliahan, label  siswa yang dinobatkan sebelumnya akan naik 1 level menjadi kata “Mahasiswa”. Namun dibalik Identitas itu, ada sebuah  tanggungjawab yang selalu beriringan dan takkan lepas bagai dua sisi koin yang tak mungkin dipisahkan. Untuk mmenyandang gelar sebagai seorang mahasiswa tidak akan cukup walau kau sehebat Naruto atau bahkan sekuat Hulk dan Hercules.

  1. Mahasiswa dan Tanggungjawabnya

Mahasiswa harus menyadari bahwa mereka berperan sebagai agent of change, moral force and social control sehingga dapat menopang cita-cita bangsa.

Mahasiswa berperan sebagai kekuatan moral, kontrol sosial dan sebagai agen perubahan dalam segala aspek pembangiunan nasional serta  membangun  dan memperkuat ketahanan mental layaknya Kapten Amerika dan miningktkan kesadaran spritual Seperti Doktor Stranger

Mahasiswa sebagai kontrol sosial  bertanggungjawab dalam hal pembangunan cita –cita nasional bangsa dengan, bersikap kritis terhadapa setiap perumusan kebijakan pemerintah dan penegakan hukum itu sendiri. Mahasiswa sebagai agen perubahan dapat diwujudkan dengan bersikap kritis,kreatif dan inovatif dalam pengembangan pendidikan , politik, demkratisasi,  bidang teknologi , seni, serta ikut berpartisipasi aktif dalam pengembangan sumber daya manusia dalam negeri.

Sebab mahasiswa sebagai masyarakat intelektual dan sekaligus sebagaiwarga negara tentu saja memiliki tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan.Sebab, idealnya mahasiswa dituntut bukan hanya untuk cerdas dalam belajar,tetapi lebih dari pada itu juga harus kritis terhadap kenyataan sosial yang ada.Kenyataan inilah, makanya mahasiswa disebut sebagai agent of change meminjam istilah Auguste Comte atau agent of modernization dalam istilah lainAli Syariati

 

Esensinya jika kita bisa memahami serta mengerti gelar dari kata mahasiswa, maka bukanlah hal yang mudah untuk mengambil keputusan dengan beban dan tanggung jawab yang siap menanti, sebab kerap kali busur asmara dari anak  Aphrodite tak mampu mengikat mahasiswa dan tanggungjwabnya dalam benang kesadaran yang kerap kali bersikap apatis dan hedonis. Sehingganya Eros menjadi bosan untuk mengikat mereka dalam ikatan kesadaran, antara mahasiswa dan tanggungjawab gelar mahasiswa itu sendiri.

 

  1. Mahasiswa Di Mata Masyarakat

 

Mahasiswa didalam suatu kelompok sosial selalu dipandang sebagai kaum intelektual, yang mampu dan bisa tampil sebagai pemberi solusi akan aspirasi-aspirasi yang telah lama mengendap dalam rawa-rawa kenyataan hingga membuat teraleniasinya nilai kebenaran.

 

Mahasiswa dalam pandangan masyarakat, begitu melekat dengan diksi kaum intelektual. Intelektual secara bahasa, berarti cedekiawan atau orang yang cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan, memiliki daya akal budi serta totalitas pengertian atau kesadaran, terutama menyangkut pemikiran atau pemahaman

 

Seorang novelis ternama Pramoedya Ananta Toer mempertanyakan esensi dari diksi Intelektual

“ apa yang dimaksudkan dengan kaum intelektual, bagi saya kuarang jelas apakah menurut pengertian kamus ataukah menurut pendapat bebas dari setiap orang yang memiliki kepentingan dengan kata tersebut. Apakah sarjana termasuk intelektual? Apakah kata intelektual merupakan atribut (sifat) dari sebagian kecil bangsa yang merasa diri berpikir lebih dari sebagian lainnya? “.

Pertanyaan ini merupakan pertanyaan mendasar dan memberikan satu pukulan telak bagi mereka (mahasiswa) yang menyandang gelar kaum intelektual. Pertanyaan ini adalah bentuk keresahan yang hadir sebab kenyataan telah menyugukan secara faktual bahwa marwah dari gelar kaum intelektual yang disandang oleh mereka (mahasiswa) telah keluar dari koridornya.

Sekali lagi nilai integritas dari mahasiswa kembali dipertanyakan. Promedya Ananta Toer, dengan pertanyaannya melesatkan satu pukulan keras bagi mahasiswa layaknya Saitama ( tokoh dalam serial anime One Punch Man) yang membuat musuh-musuhnya terbujur kaku, dan hal inilah yang seharusnya dirasakan oleh mahasiswa, sebab pertanyaan ini ditujukan bagi mahasiswa yang terbawa arus zaman sehingganya nilai idealisme yang menjadi wacana kebangaan mahasiswa, mulai terkikis bahkan tergadaikan.

 

Diskursus tentang intelektual sudah menjadi wacana lama, namun ini menjadi tugas yang belum tuntas, sebab dalam pentas peradaban secara faktual mereka yang seharusnya sebagai aktor intelektual (mahasiswa) esensinya masih jauh dari diksi itelektual itu sendiri

 

Ali Syaria’ati dan Antonio Gramsci adalah dua tokoh dunia yang sangat populer dalam berbagai kajian tentang intelektual. Gramsci mengatakan bahwa setiap orang adalah intelektual, setiap orang mengunakan inteleknya dalam tingkatan tertentu, namun yang menjadi perbedaan adalah derajatnya, bukan jenisnya. Bagi Gramsci, Faktor penentu apakah dia bisa dikatakan sebagai aktor intelektual, bisa dilihat dari fungsi sosialnya.

Dari apa yang menjadi gagasan Gramsi, sudah jelas bahwa, setiap orang adalah aktor intelektual dalam melakukan bentuk aktivitas sosial, namun tidak semua orang sadar akan fungsinya sebagai aktor intelektual dalam aktivitas sosial.

 

  1. Mahasiswa dan Globalisasi

 

Globalisasi merupakan salah satu tantangan besar yang harus dihadapi oleh Mahasiswa,. Berbicara mengenai globalisasi, pikiran kita pasti tertuju pada teknologi informasi dan komunikasi yang bersumber dari ilmu pengetahuan. Pertanyaannya adalah, apakah mahasiswa Indonesia mampu untuk bersaing  di era globalisasi ini?

 

Tidak bisa disangkal, Globalisasi secara perlahan telah mengantarkan mahasiswa pada kecenderungan dan gaya hidup yang apatis, hedonis, meterialis dan individualis. Bisa kita lihat dari tahun ke tahun daya jual organisasi ekstra maupun intra kampus mulai menurun, sebab ketertarikan sebagian mahasiswa tidak lagi tentang berorganisasi, mereka cenderung asik dengan gaya hidup santai  dan berhura-hura.

 

Di era globalisasi ini, tantangan yang dihadapi mahasiswa jauh lebih berat, persaingan bukan lagi tentang angkat senjata atau berkubang dalam lumpur-lumpur yang kotor namun perang di era globalisasi adalah perang penegetahuan. Menuntut mahasiswa yang dikatakan sebagai salah satu aktor intelektual untuk berperan aktif serta menjadi pribadi yang cerdas, kritis, dinamis, kreatif, inovatif dan berempati dalam menghadapi persaingan di era globalisasi ini.

 

  1. Mahasiswa dan Teknologi Komunikasi dan Informasi

 

Teknologi hadir untuk mempermudah aktivitas manusia. Kemajuan teknologi dalam bidang ilmu komunikasi dan jaringan begitu berkembang pesat, akses informasi begitu mudah dan cepat kita dapatkan melalui internet atau jejaring sosial yang begitu melekat dengan masyarakat hari ini. Di era glabalisasi, kita tidak lagi berbicara tentang bagaimana mendapatkan informasi, namun lebih tepatnya adalah bagaimana cara kita menfilter setiap informasi yang begitu mudah kita dapatkan.

 

Perkembangan teknologi digital telah menyebabkan dehumanisasi, terutama dikalangan kaum muda. Pada kasus ini, orang –orang menjadi semakin individualis, rasa kepedulian antar sesama semakin menipis, hal ini dikarenakan komunikasi antar sesama tidak lagi tentang perjumpaan dalam satu ruang namun komunikasi ataupun perjumpaan di era digital hari ini telah dimediasi oleh sosial media yang melalui komputer atau gawai yang hari ini hampir seluruh kalangan kaum muda memilikinya.

 

Internet adalah dunia bebas nilai yang menampung segala bentuk informasi yang dibutuhkan, hal ini kerap kali digunakan oknum-oknum yang tak bertanggungjawab untuk  melakukan pelbagai tindakan penipuan ,salah satunya adalah pemberitaan bohong (hoax), contohnya, berita bohong pemukulan Ratna Sarumpaet yang sempat viral dalam beberapa waktu lalu. Ratna Sarumpaet hanyalah salah satu dari mereka yang berperan seperti Loki (Karakter dalam film Avengers) dengan tipu muslihatnya  untuk mencapai tujuan pribadi.

 

Fenomena hoax di internet bukan hal baru lagi, hoax dengan sedikit sentuhan teknologi di era digital ini, dapat berdampak signifikan dalam skala penyebaran yang luas dengan waktu yang singkat. Hoax dengan sedikit maniipulasi bahasa, dapat membuat pembaca ataupun pendengar menganggap informasi yang diterima seolah nyata atau (benar).

 

Mahasiswa harus mampu bersikap kritis dan mampu menelaah pelbagai bentuk informasi ataupun peristiwa secara aktualisasi , agar mampu membedakan antar fakta dan hoax. Mahasiswa juga harus turut serta ikut bertanggungjawab dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentinggnya literasi media dan kesadaran kritis terhadap pengunaan bahasa dalam jaringan bermedia sosial, sehingganya dapat mencegah benih-benih perpecahan yang sering kali terjadi ditengah-tengah kelompok sosial.

 

 

Kemajuan teknologi dalam era globalisasi saat ini telah mencapai pada tahap dimana hampir setiap lapisan masyarakat kita telah menjadi ketergantungan dengan tehnologi dalam kegiatan kesehariannya.

Mahasiswa yang lekat dengan kata agent of change, harus mampu mengambil bagian dalam mempelopori  setiap perkembangan teknologi yang ada.

 

Sejalan dengan perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan, mahasiswa mau tidak mau harus dapat menyesuaikan setiap perkembangan TI yang ada, tidak hanya sebagai modal pendukung bagi mereka untuk mendapatkan pendidikan yang akan mereka terima tapi juga sebagai general knowledge (instrument pengetahuan) yang harus mereka miliki sebagai agent of change di tengah masyarakat kita. Jadi peran mahasiswa dalam TI sangatlah jelas, mereka harus dapat berjalan beriringan dengan setiap perkembangan teknologi yang ada.

 

  1. Mahasiswa Dan Ekonomi Global

 

Di era Globalisasi , terjadi persaingan di segala bidang baik bidang teknologi, sosial budaya, pengetahuan, maupun ekonomi. Di sepanjang garis lintas sejarah manusia, Ekonomi merupakan salah satu bidang spesial yang selalu menjadi diskursus peradaban, yang hari ini tidak pernah mencapai garis finish.
Era globalisasi bukan hanya membentuk cara pandang manusia bahwa kemewahan dan prstise merupakan gaya hidup yang lazim namun  hal ini juga telah menyeret manusia dalam ajang persaingan, di Era ini tidak lagi bercerita tentang persangan kelompok-kelompok kecil namun persaingan di era globalisasi ini mencakup hampir keseluruhan muka bumi ini.

 

Beberapa waktu lalu beberapa negara terkhusus indonesia mendapatkan pukulan telak, dampak dari persangan ekonomi global, Inflasi nilai tukar  mata uang Indonesia terhadap Dolar, hal ini seharusnya membuat Indonesia mampu membuka mata terhadap persaingan global yang semakin memanas contohnya perang dagang antara China dan Amerika yang berimbas ke negara-negara lain yang ekonominya paling terintegrasi ke rantai nilai global dan mengandalkan ekspor. Ketika perdagangan global dalam ancaman, ekonomi mereka akan sangat rentan.

Sekali lagi Saitama (tokoh anime One Punch Man) memberikan pukulan super seriusnya.

 

Indonesia dalam beberapa diskursus masalah ekonomi negara, akhirnya  mendapatkan salah satu solusi yang mampu membendung dampak negatif dari persaningan ekonomi global. MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) merupakan bentuk realisasi dari tujuan akhir integrasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara, yaitu pasar bebas di bidang permodalan, barang dan jasa, serta tenaga kerja.

Lantas bagaimanakah peran yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa dalam menyikapi MEA?

Mahasiswa tentunya menjadi objek yang mendapatkan dampak paling besar dengan dibukanya MEA, karena lulusan perguruan tinggi di Indonesia nantinya tidak hanya bersaing dengan para pencari pekerjaan lokal, namun juga bersaing dengan pencari pekerjaan internasional. Mengimbau dari kurangnya kesiapan yang dilakukan pemerintah menyikapi MEA terhadap Indonesia, pastilah lulusan perguruan tinggi di Indonesia nantinya akan mengalami kesulitan dalam bersaing dengan para lulusan perguruan tinggi di negara Asia Tenggara lainnya.

 

Mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) tentunya tidak boleh diam berpangu tangan dan tidak berbuat apa-apa. Sudah seharusnya mahasiswa berbuat sesuatu mengingat mahasiswa merupakan salah satu elemen yang mendapatkan dampak paling besar dari MEA. Ada beberapa hal penting yang harus dilakukan mahasiswa dalam menyikapi MEA, yaitu:

  • Pertama, mahasiswa harus bisa meningkatkan kualifikasi guna menghadapi MEA, yaitu bukannya dengan berlomba-lomba dalam mendapatkan IPK tertinggi, melainkan dengan memiliki kompetensi dan skill (kemampuan) yang cukup. Soft skill seperti emampuan berbahasa asing, dan bakat-bakat individu merupakan aspek penting lain selain IPK, dan penting untuk dikuasai guna menunjang karir mahasiswa.
  • Kedua, sebagai agen perubahan, mahasiswa tidak hanya memiliki kewajiban dalam merubah diri sendiri, namun juga berkewajiban mengubah masyarakat sekiar agar lebih peduli dan sadar mengenai MEA.
  • Ketiga, mahasiswa harus bisa membangun gerakan-gerakan strategis dalam menghadapi MEA mendatang, yaitu dengan mengadakan berbagai kegiatan untuk mewujudkan kegiatan terencana guna menghadapi MEA yang sudah ada didepan mata.
  • Meningkatkan daya Kreatifitas yang mampu menyediakan lapangan pekerjaan serta memberikan kesadaran kepada masyarakat akan dampak dari perikau masyarakat yang konsumtif.
  1. Mahasiswa dan Budaya Global

 

Menurut Soemardjan dan Soemardi, budaya merupakan seluruh cipta, rasa dan hasil karya dari lingkungan masyarakat. Dari karya masyarakatlah  akan menghasilkan kebudayaan dan menjadi ciri khas etnis kelompok yang satu dan yang lain.

Indonesia dengan Motto “Bhineka Tunggal Ika” (Berbeda-beda tapi tetap satu), memiliki banyak ragam bahasa dan budaya. Budaya merupakan salah satu identitas bangsa dan menjadi pembeda anatara bangsa yang satu dan yang lainnya.

 

Nilai dari suatu budaya memiliki sifat yang tidak mudah berubah atau digantikan, dikarenakan budaya merupakan pola pikir atau perilaku yang menjadi kebiasaan dan gaya hidup yang telah terinternalisasi kedalam cara pandang kelompok tertentu dan telah menjadi keabsahan nilai.

 

Di era globalisasi, maraknya media mengekspresikan budaya pop, berdampak besar terhadap budaya lokal, yang kian hari dikatakan budaya terbelakang. Media yang sering menampilkan budaya pop yang datang dari negara lain yang masuk kedalam negeri, entah itu baik atau tidak, sesuai atau tidak dengan budaya kita. Banyak dari masyarakat kita yang menikmati, meniru dan bahkan merasa bangga dengan budaya populer yang mereka ikuti. Hal ini secara tidak langsung melunturkan nilai-nilai  kearifan loka(budaya lokal) itu sendiri.

 

Gaya hidup kebarat-baratan (materialis), menjadi ngetren dikalangan kaum muda tidak terkecuali mahasiswa, pergaulan bebas, minum-minuman keras, gaya berpakaian bahkan sampai pada bahasa yang terkadang dicampur adukan dengan bahasa asing. Kontaminasi budaya kerap kali di praktikan oleh kaum muda, yang semakin marak dipersaksikan dalm kelompok sosial ataupun bisa kita jumpai sejumlah anak negeri mempertontonkan  budaya asing (populer) dengan penuh rasa bangga lewat media.

 

Dominannya kaum terpelajarlah yang banyak terpengaruh akan budaya populer, hingga hari ini banyak kita jumpai para mahasiswa dan mahasiswi yang lagi demam drama korea dan secara sadar mereka mempraktikan budaya yang yang mereka tonton dalam drama korea, hal yang paling sering kita jumpai adalah nama yang ditambah dengan kata kun (bahasa korea sebutan untuk anak laki-laki) atau chan ( bahasa korea sebutan untuk adik perempuan).

 

Budaya populer yang terkenal dengan segala sesuatu serba instan juga berpengaruh pada dunia pendidkan, secara sadar banyak para pelajar menjadi plagiarisme (tahunya copy paste), tidak hanya sampai disitu maraknya peredaran  ijazah palsu yang sering dilatarbelakangi oleh instansi-instansi pemerintah seakan menambah kepastian terjadinya kontaminasi budaya, kemudian hal ini mennjadi salah satu faktor bobroknya kualitas pendidikan dalam negeri.

 

Sekali lagi mahasiswa yang menyandang gelar agent of change dan agent of control sosial, harus mampu menghadirkan solusi ditengah-tengah kelompok sosial yang sedang tergerus arus globalisasi.

Mahasiswa harus mampu menghadirkan counter wacana (pertahanan), untuk mampu membetengi keutuhan negeri. Dalam bidang kebudayaan di era globalisasi, dengan segala macam perangkat komunikasi dan informasi yang mutakhir. Ketahanan budaya di era globalisasi dapat dikatakan lemah akan pengaruh-pengaruh budaya asing, namun arus globalisasi tak dapat kita hentikan. Pelestarian budaya dapat kita capai bukan dengan bersifat tertutup (konsevatif), karena budaya akan selalu bersifat dinamis (menyesuaikan) dengan kondisi lingkungan sosial. Pelestarian budaya dapat kita capai dengan cara bersifat terbuka dan tetap mempertahankan nilai dari kearian lokal itu sendiri.

 

Mahasiswa memliki peran penting dalam hal ini, mahasiswa harus mampu dan sadar akan perkembangan arus globalisasi dengan giat melakukan literatur globalisasi, serta ikut bertanggung jawab dalam penguatan mental dan penguatan Ideologi bangsa sebagai senjata untuk membentengi negeri dari dampak negatif arus globalisasi.

 

Gorontalo, 27 November 2018

Siswandi Tamala

 

 

Iklan