26815447_396331137487748_8536654754737025199_n

Fase masyarakat moderen ditandai dengan kehidupan masyarakat yang sudah kosmopilitan dengan kehidupan individual yang sangat menonjol, profesionalisme di segala bidang menjadi kunci hubungan-hubungan sosial serta masyarakat moderen yang umumnya berpendidikan relatif tinggi. Perkembangan teknologi pada era moderen juga telah membentuk jaringan komputer gloal atau internet yang telah menciptakan dunia baru, misalnya cyberspace yang merupakan sebuah dunia komukasi berbasis komputer yang menawarkan realitas virtual atau dunia maya sehingga mengakibatkan terbentuknya cybercrime (kejahatan dunia maya). Sejatinya masyarakat dunia maya atau yang lebih dikenal dengan cybercommudity tidak akan terbentuk jika tidak difasilitasi melalui akses jaringan internet. Bahkan perkembangan suatu negara juga dapat diketahui melalui banyak dan tidaknya pengguna internet.

Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) populasi penduduk Indonesia saat ini mencapai  262 juta jiwa lebih dari 50% atau sekitar 143 juta jiwa telah terhubung dengan internet sepanjang tahun 2017. Mayoritas pengguna internet sebanyak 72,41% masih dari kalangan masyarakat urban, pemanfaatannya sudah lebih jauh bukan hanya untuk berkomunikasi tetapi juga membeli barang, memesan trasportasi, hingga berbisnis dan berkarya. Berdasarkan wilayah geografisnya masyarakat Jawa paling banyak menggunakan internet yakni 57,70%, selanjutnya Sumatera 19,09%, Kalimantan 7,97%, Sukawesi 6,73% dan Maluku Papua 2,49%.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah perguruan tinggi berkisar antara 82 PTN dengan 3051 program studi dan 2561 PTS dengan 10287 program studi (Slameto, 2010). Dari jumlah perguruan tinggi yang ada, maka sekitar 900.000 sarjana dihasilkan pertahun. Dan jumlah ini meningkat 20% setiap tahunnya

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju tak dapat dipungkiri hampir seluruh Perguruan Tinggi yang ada Indonesia menggunakan sistem berbasis IT dalam keberlangsungan perkuliahan. Seperti program yang dibuat oleh Kementrian Riset Dan Teknologi yaitu Forlap Dikti yang didalamnya berisi data-data mahasiswa dan dosen bahkan universitas. Hal ini yang menjadi dasar setiap instansi apabila menerima karyawan baru maka acuannya adalah Forlap Dikti.

Selain itu, fasilitas lain yang disediakan oleh kampus adalah free wifi. Hal ini memudahkan pekerjaan mahasiswa dan dosen dalam proses perkuliahan. Tanpa disadari hal ini juga dapat memberikan efek buruk terhadap kehidupan kampus. Misalnya penyalahgunaan fasilitas internet oleh mahasiswa dalam hal diluar proses perkuliahan, ini berdampak buruk  mahasiswa terhadap kehiduan sosial.

Seperti kita ketahui bersama. Mahasiswa merupakan sebuah miniatur masyarakat intelektual yang memiliki corak keberagaman, pemikiran, gagasan, dan ide-ide yang penuh kreatifitas. Sungguh menarik memang jika kita kembali memperbincangkan persoalan kampus dan dinamikanya yang sangat dinamis. Kampus merupakan tempat pengembangan diri yang memberikan perubahan pikiran, sikap dan pencerahan, mahasiswa lahir sebagai kaum pemikir bebas yang tercerah.

Dengan sifat keintelektual dan idealismenya mahasiswa lahir dan tumbuh entitas (model) yang memiliki paradigma ilmiah dalam memandang persoalan kebangsaan dan kemasyarakatn. Ciri dan gaya mahasiswa terletak pada ide atau gagasan yang luur dalam menawarkan solusi atas persoalan-persoalan yang ada. Pijakan-pijakan ini menjadi sangat relevan dengan nuansa kampus yang mengutamakan keilmuan dan memahami substansi dan peroslan pokok yang berorientasi kampus. Menurut Drs. M. Achmad Icksan bahwa mahasiswa masih berhubungan dengan universitas. Namun mahasiswa dalam universitas bukan saja sebagai anggota masyarakat kampus tetapi mahasiswa juga harus turut serta dalam menentukan program-program, aturan-aturan serta kesejahteraan dari lembaga yang ada di kampus mahasiswa sebagai wadah pemikiran demi kemajuan masa depan bangsa.

Mahasiswa tidak bisa terlepas dari sejarah, dimana perjuangan mahasiswa pada masa lampau memperjuangkan orde lama menuju orde baru tentu bukan sesuatu yang mudah. Pergerakan dari tahun ke tahun hingga membuahkan hasil pada tahun 1998 yang meruntuhkan Presiden Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun.

Era globalisasi kini kian memanas, persaingan mahasiswa kini bukan dalam hal intelektual tetapi lebih ke gadget. Pengaruh sosial media sudah tidak dapat dipungkiri lagi sudah sangat mewabah di kalangan mahasiswa Indonesia. Terlepas dari hal tersebut peran mahasiswa sedikit demi sedikit mulai diabaikan. Sebagai mahluk sosial kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan gedget, sebab pengembangan ilmu pengetahuan yang semakin maju sesuai dengan tuntutan zaman dan peradaban.

Mahasiswa selain sebagai akademisi juga memiliki fungsi dan peran tersendiri. Misalnya mahasiswa sebagai Iron Stock, yaitu mahasiswa harus bisa menjadi pengganti orang-orang yang duduk di pemerintahan nantinya, yang berarti mahasiswa akan menjadi penerus untuk memimpin bangsa ini. Agent of change, mahasiswa dituntut untuk menjadi agen perubahan, maksudnya jika ada sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar dan itu ternyata salah, mahasiswa dituntut untuk merubahnya sesuai dengan harapan yang sesungguhnya. Social control, mahasiswa harus mampu mengontrol sosial yang ada di lingkungan sekitar (lingkungan masyarakat). Jadi selain pintar di bidang akademis, mahasiswa harus pintar juga dalam bersosialisasi dengan lingkungan. Moral force, mahasiswa diwajibkan untuk menjaga moral-moral yang sudah ada, jika dilingkungan sekitar terjadi hal-hal yang tak bermoral, maka mahasiswa dituntut untuk merubah serta meluruskan kembali sesuai dengan apa yang diharapkan.

Mahasiswa tak bisa terlepas dari fungsi dan tanggung jawabnya di masyarakat. Berdasarkan  tugas perguruan tinggi yang diungkapkan M.Hatta yaitu

  1. Memiliki keinsafan tanggung jawab terhadap kesejahtteraan masyarakat

Tanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat selain tanggung jawab dari pemerintah, mahasiswa juga turut andil dalam tersebut, demi terciptanya keseimbangan dan keselarasan dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Hanya sebagian kecil mahasiswa yang berada di dunia kampus yang memiliki jiwa sosial terhadap masyarakat. Bahkan mahasiswa sekarang tidak peduli terhadap apa-apa yang terjadi di masyarakat, mereka menganggap hal tersebut bukan tanggung jawab seorang mahasiswa melainkan tanggung jawab pemerintah. Hal ini yang mengakibatkan mahasiswa lebih condong memainkan gadget ketimbang beraflisiasi dengan masyarakat.

  1. Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan

Mahasiswa sudah sepantasnya menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan penuh tanggung jawab, kecakapan dan kemandirian merupakan pegangan oleh mahasiswa itu sendiri dalam memajukan ilmu pengetahuan yang kini berkembang pesat. Jika tertinggal maka akan kehilangan wacana hangat saat ini. Mahasiswa sekarang sangat jarang menjalankan diskusi ataupun kajian kajian yang mampu menopang kreatifitasnya.

  1. Cakap memangku jabatan atau pekerjaan di masuarakat

Hal ini yang sangat jarang terjadi di kalangan mahasiswa, jangankan memangku jabatan, tugas dan tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa pun tidak di jalankan. Sebagian besar mahasiswa Indonesia tidak mengetahui tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang mahhasiswa sebab terfokus dengan gaya hedon yang kian mewabah.

 

Penggunaan Gedget

Secara istilah gadget berasal dari bahasa Inggris yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Dalam bahasa Indonesia, gadget disebut “acang”. Manumpil, dkk (2015), gadget adalah sebuah teknologi yang berkembang pesat dan memiliki fungsi khusus diantaranya yaitu smartphone, i phone, dan
blackberry. Widiawati dan Sugiman (2014), gadget merupakan barang canggih yang diciptakan dengan berbagai aplikasi yang dapat menyajikan berbagai media berita, jejaring sosial, hobi, bahkan hiburan. Jati dan Herawati (2014), gadget adalah media yang dipakai sebagai alat komunikasi modern dan semakin mempermudah kegiatan komunikasi manusia.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan gedget dikalangan remaja diantaranya:

  1. Iklan yang merajalela di dunia pertelevisian dan di media sosial. Iklan seringkali mempengaruhi remaja untuk mengikuti perkembangan masa kini. Sehingga hal itu membuat remaja semakin tertarik bahkan penasaran akan hal baru (Fadilah, 2015).
  2. Gadget menampilkan fitur-fitur yang menarik Fitur-fitur yang ada didalam gadget membuat ketertarikan pada remaja. Sehingga hal itu membuat remaja penasaran untuk mengoperasikan gadget (Fadilah, 2015).
  3. Kecanggihan dari gadget Kecanggihan dari gadget dapat memudahkan semua kebutuhan remaja. Kebutuhan remaja dapat terpenuhi dalam bermain game, sosial media bahkan sampai berbelanja online (Fadilah, 2015)
  4. Keterjangkauan harga Keterjangkauan harga disebabkan karena banyaknya persaingan teknologi. Sehingga dapat menyebabkan harga dari
    gadget semakin terjangkau. Dahulu hanyalah golongan orang menengah atas yang mampu membeli gadget, akan tetapi pada kenyataan sekarang orang tua berpenghasilan pas-pasan mampu membelikan gadget untuk anaknya (Fadilah, 2015).
  5. Lingkungan membuat adanya penekanan dari teman sebaya dan juga masyarakat. Hal ini menjadi banyak orang yang menggunakan gadget, maka masyarakat lainnya menjadi enggan meninggalkan gadget. Selain itu sekarang hampir setiap kegiatan menuntut seseorang untuk menggunakan gadget (Fadilah, 2015).
  6. Faktor budaya. Faktor budaya berpengaruh paling luas dan mendalam terhadap perilaku remaja. Sehingga banyak remaja mengikuti trend yang ada didalam budaya lingkungan mereka, yang mengakibatkan keharusan untuk memiliki gadget (Kotler, 2007).
  7. Faktor sosial. Faktor sosial yang mempengaruhinya seperti kelompok acuan, keluarga serta status sosial. Peran keluarga sangat penting dalam faktor sosial, karena keluarga sebagai acuan utama dalam perilaku remaja (Kotler, 2007)

 

Dampak Penggunaan Gedget Terhadap Kehidupan Kampus

Gedget berperan penting dalam kehidupan kampus, selain mempermudah proses perkuliahan juga memberikan efek buruk terhadap kehidupan mahasiswa. Contohnya dialami oleh penulis sendiri yaitu disaat perkuliahan sedang berlangsung ada yang serius memperhatikan kuliah yang diberikan dosen ada juga yang sibuk memainkan gedget disaat kuliah. Hal seperti ini yang harus kita taktisi sebagai generasi yang mendepankan nilai-nilai etika dan moral.

Penggunan gedget memberikan dua dampak terhadap kehidupan kampus yakni dampak positif dan negatif tergantung si pengguna menggunakan gedget tersebut. Realitas kehdupan sosial yang terjadi di era moderen saat ini justru mengakibatkan banyak mahasiswa yang mendewakan gedget sehingga apatis terhadap lingkungan sekitar. Dengan kseseringan memainkan gedget kita banyak membuang waktu percuma yang sebenarnya kita gunakan untuk hal yang lebih berguna. Gedget juga dapat dikatakan candu. Misalnya aktifitas kita yang setiap harinya mengakses media sosial.

Sesuai riset penulis kehidupan kampus saat ini dalam mengakses internet rata-rata 85% memainkan facebook, whatsapp, line, twitter, dan lain sebagainya, dan 15% digunakan untuk mengakses informasi serta tugas kuliah diberikan dosen. Berkaca dari hal tersebut ternyata gedget membawa pengaruh buruk terhadap kehidupan kampus, mahasiswa sekarang lebih baik kehilangan buku ketimbang kehilangangedget.

 

Solusi

Penyadaran akan realitas sosial yang terjadi rasanya mahasiswa perlu membuat gerakan literasi demi membentengi dampak buruk yang akan terjadi dikemudian hari. Ini lebih bermanfaat dan bemutu ketimbang menggunakan gedget pada hal-hal negatif.Selain mengembangkan budaya gerakan literasi juga harus mempertahankan kearifan budaya lokal yang menjadi landasan pokok kehidupan setiap insan.

DAFTAR PUSTAKA

Djahjoko, 1995. Iman, Mahasiswa, dan Perubahan Sosial. Jurnal Pelita Zaman. Vol-X No. 1

Fadjar, A. Malik dan Effendy, Muhadjir. 2001. Mahasiswa Calon Pemimpin Masa Depan. http://www.scribd.com. Diakses pada tanggal 26 November 2018.

Slameto, 2010. Peran Perguruan Tinggi Meningkatkan Daya Saing Bangsa. http://www.ispi.or.id. Diakses pada tanggal 26 November 2018.

Winarno, 2009. Jumlah Sarjana Di Indonesia. http://www.atmajaya.ac.id. Diakses pada tanggal 26 November 2018.

Iklan