Hari ini langkah berpijak perlahan, mulut berucap terhanan, kerumunan orang berjalan bak air menghembuskan pancaran, dalam keramaian penuh candaan, ditengah ksedihan terusik kenangan, ternyata angin itu telah datang membawa cerita-cerita mendalam yang dulunya pernah tergilas perasaan.

Desember mengetuk pintu, tak terasa sudah sekian lama langkah terhenti percuma, berdiam diri ditengah keramaian mereka yang menjunjung tinggi cita-cita, sampai kapan langkah ini terdiam sia-sia, kenapa kau memilih untuk mengalah kepada mereka yang hanya mengetahui sebagian dunia, apakah karena malas, ataukah karena malu, mungkin malas dan malu telah berjodoh dengan ragamu yang kotor.

Desember mengetuk pintu, sampai kapan kau terus bertahan dengan keadaan seperti ini, pohon-pohon telah menjulang tinggi, ilalang-ilalang melingkari rerumputan kecil tak bersahabat, dan kau masih saja diam di tempat, bangkit, bangkit dan katakan pada dunia akulah pemenang yang sesungguhnya.

Desember mengetuk pintu, bukankah ini pertanda ketika esok hari kau akan digilas oleh mereka yang berjuang, kau akan ditendag keluar dari istana nyaman yang bangun dengan kekuatan malas dan malu, kau tak menyadari bahwa desember telah mengetuk dinding hati itu, kau abaikan, kau biarkan, kau campakkan, hingga derita dan kecewa mengucapkan Assalamualaikum.

Disaat itu kau akan hancur, dan perlahan-lahan menghilang dari mereka yang benar-benar berjuang.

Gorontalo, 03 Desember 2018


Baca juga: Desember Menutup Pintu

Iklan