Di sini sekarang kuberpijak
Meratab sesal yang membeku
Menangis semua rasa sakit
Semuanya terlambat sudah

Kini semua sudah menjadi debu kering
Hanya teriak yang ada hinggap
Aku sudah larut tersesal
Hanya sedih kurasa

Waktu berjalan begitu cepat seakan
Hingga aku lupa bahwa semuanya berputar bagai roda
Menggelinding mengitar hidup
Menjadi kekasih takdir di hambar biru

Tuhan kenapa semuanya begitu cepat
Ribuan jam seakan menikam detik dengan jarum
Malam dan siang bersatu memadu waktu
Meninggal senja di ufuk timur

Sekarang hitam membayang
Kesempatan dan harapan raib sudah
Aku hancur berkeping
Kosong sudah tanganku untuk kugenggam

Aku sungguh menyesal tuhan
Waktu yang kau beri ku sia siakan
Kuhabiskan ia dengan kuteguk senang
Aku menyia nyiakannya
Hingga akhirnya aku menyesal

Malam hadir membalas bintang
Menyanyikan Syair pelarut duka
Ku di sini meminta semoga tuhan sudi mendengar
Meminta agar ia takpernah meninggalkanku sendiri

Aku kadang menyesal terasa
Ingin ku ulang dan kembali pada rasa
Ingin ku kembali akan sunyi
Kunanti sesal di ruah sunyi

Andai saja bisa
Waktu bisa ku ulang
Waktu bisa ku putar
Dan kesempatan itu masih sudi ada

Aku takkan sesedih ini
Aku takkan sesakit ini
Aku takkan meratab luka yang durjana
Aku takkan menjerit meminta ampun

Sekarang semuanya sudah berubah
Aku takkan bisa kembali
Aku takkan bisa mengulang
Aku takkan bisa meminta
Hanya bisa kurangkul penyesalan di rengkuhku.

Gorontalo, November 2018

Iklan