Wacana Revolusi Industri 4.0 mewabah hingga ke seluruh pelosok negeri. Indonesia merupakan salah satu negara yang juga menerima dampak dari Revolusi Industri 4.0. berbicara mengenai Revolusi Industri 4.0 tentunya tidak akan terlepas dari ekonomi global dan kesiapan generasi milenial dalam menyikapi hal tersebut khususnya mahasiswa.

Ekonomi global saat ini sedang pada titik puncak perubahan besar yang sebanding dengan munculnya Revolusi Industri pertama atau perkembangan perakitan produksi, atau bahkan penemuan mikrocip. Kemajuan teknologi memungkinkan terjadinya otomatisasi hampir di semua bidang. Sementara itu, kepemilikan perangkat pintar di berbagai bagian dunia mengarah pada tingkat keterkaitan satu sama yang lain yang tak terbayangkan sebelumnya. Di antara berbagai tantangan yang sedang dihadapi dunia saat ini, mungkin yang paling besar adalah bagaimana membentuk Revolusi Industri keempat (disebut juga sebagai Industri 4.0) yang dimulai pada permulaan abad ini. Teknologi dan pendekatan baru yang menggabungkan dunia fisik, digital, dan biologi dengan cara yang fundamental akan mengubah umat manusia. [1]

Kita saat ini berada di ambang Revolusi Industri yang secara fundamental mengubah peradaban umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Prof. Roy Darmawan, SE, M.Si selaku Chairman of Board of Advisor, ASEAN Youthpreneur Community dalam seminar nasionalnya mengatakan “Revolusi Industri terjadi diwaktu yang tepat dan cepat serta orang yang tidak tepat”. Hal ini secara tidak langsung membuka mata kita semua bahwa kesiapan tidak kalah pentingnya dengan peperangan. Penjelasan Prof. Roy Darmawan selaras dengan Prof. Shahetapi dalam Indonesia Lawyers Club (ILC) mengatakan bahwa “Revolusi selalu memakan orang-orang yang tak berdosa”. Sebab revolusi itu terjadi secara cepat, tiba-tiba, dan fundamental.

Kita belum tahu persis apa yang akan terjadi di masa  depan. Tetapi ada satu hal yang jelas: dunia harus merespon terhadap perubahan tersebut secara terintegrasi dan komprehensif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan politik global, mulai dari sektor publik dan swasta, sampai akademisi, dan tentunya masyarakat sipil.[2]

Revolusi Industri 4.0

Sejarah revolusi industri dimulai dari industri 1.0, 2.0, 3.0, hingga industri 4.0. Fase industri merupakan real change dari perubahan yang ada. Industri 1.0 ditandai dengan mekanisasi produksi untuk menunjang efektifitas dan efisiensi aktivitas manusia, industri 2.0 dicirikan oleh produksi massal dan standarisasi mutu, industri 3.0 ditandai dengan penyesuaian massal dan fleksibilitas manufaktur berbasis otomasi dan robot. Industri 4.0 selanjutnya hadir menggantikan industri 3.0 yang ditandai dengan cyber fisik dan kolaborasi manufaktur (Hermann et al, 2015; Irianto, 2017). Istilah industri 4.0 berasal dari sebuah proyek yang diprakarsai oleh pemerintah Jerman untuk mempromosikan komputerisasi manufaktur.[3]

Lee et al (2013) menjelaskan, industri 4.0 ditandai dengan peningkatan digitalisasi manufaktur yang didorong oleh empat faktor: 1) peningkatan volume data, kekuatan komputasi, dan konektivitas; 2) munculnya analisis, kemampuan, dan kecerdasan bisnis; 3) terjadinya bentuk interaksi baru antara manusia dengan mesin; dan 4) perbaikan instruksi transfer digital ke dunia fisik, seperti robotika dan 3D printing. Lifter dan Tschiener (2013) menambahkan, prinsip dasar industri 4.0 adalah penggabungan mesin, alur kerja, dan sistem, dengan menerapkan jaringan cerdas di sepanjang rantai dan proses produksi untuk mengendalikan satu sama lain secara mandiri.[4]

Hermann et al (2016) menambahkan, ada empat desain prinsip industri 4.0. Pertama, interkoneksi (sambungan) yaitu kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan orang untuk terhubung dan berkomunikasi satu sama lain melalui Internet of Things (IoT) atau Internet of People (IoP). Prinsip ini membutuhkan kolaborasi, keamanan, dan standar. Kedua, transparansi informasi merupakan kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan virtual dunia fisik dengan memperkaya model digital dengan data sensor termasuk analisis data dan penyediaan informasi. Ketiga, bantuan teknis yang meliputi; (a) kemampuan sistem bantuan untuk mendukung manusia dengan menggabungkan dan mengevaluasi informasi secara sadar untuk membuat keputusan yang tepat dan memecahkan masalah mendesak dalam waktu singkat; (b) kemampuan sistem untuk mendukung manusia dengan melakukan berbagai tugas yang tidak menyenangkan, terlalu melelahkan, atau tidak aman; (c) meliputi bantuan visual dan fisik. Keempat, keputusan terdesentralisasi yang merupakan kemampuan sistem fisik maya untuk membuat keputusan sendiri dan menjalankan tugas seefektif mungkin.[5]

Tantangan dan Peluang Revolusi Industri 4.0

Kemajuan teknologi memungkinkan terjadinya otomatisasi hampir di semua bidang. Teknologi dan pendekatan baru yang menggabungkan dunia fisik, digital, dan biologi secara fundamental akan mengubah pola hidup dan interaksi manusia (Tjandrawinata, 2016). Oleh sebab itu, pelbagai hal yang berhubungan dengan kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari teknologi. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan perkembangan teknologi yang demikian pesatnya, kita hanya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan serta tantangan yang akan dihadapi.

Industri 4.0 sebagai fase revolusi teknologi mengubah cara beraktifitas manusia dalam skala, ruang lingkup, kompleksitas, dan transformasi dari pengalaman hidup sebelumnya. Manusia bahkan akan hidup dalam ketidakpastian (uncertainty) global, oleh karena itu manusia harus memiliki kemampuan untuk memprediksi masa depan yang berubah sangat cepat. Tiap negara harus merespon perubahan tersebut secara terintegrasi dan komprehensif. Respon tersebut dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan politik global, mulai dari sektor publik, swasta, akademisi, hingga masyarakat sipil sehingga tantangan industri 4.0 dapat dikelola menjadi peluang.[7]

Ada beberapa pendapat para ilmuan yang menjelaskan mengenai tantangan yang akan dihhadapi pada Revolusi Industri 4.0. Wolter mengidentifikasi tantangan industri 4.0 sebagai berikut; 1) masalah keamanan teknologi informasi; 2) keandalan dan stabilitas mesin produksi; 3) kurangnya keterampilan yang memadai; 4) keengganan untuk berubah oleh para pemangku kepentingan; dan 5) hilangnya banyak pekerjaan karena berubah menjadi otomatisasi (Sung, 2017).[8]

Irianto (2017) menjelaskan tantangan industri 4.0 yaitu; (1) kesiapan industri; (2) tenaga kerja terpercaya; (3) kemudahan pengaturan sosial budaya; dan (4) diversifikasi dan penciptaan lapangan kerja dan peluang industri 4.0 yaitu; (1) inovasi ekosistem; (2) basis industri yang kompetitif; (3) investasi pada teknologi; dan (4) integrasi Usaha Kecil Menengah (UKM) dan kewirausahaan. Pemetaan tantangan dan peluang industri 4.0 untuk mencegah berbagai dampak dalam kehidupan masyarakat, salah satunya adalah permasalahan pengangguran. Work Employment and Social Outlook Trend 2017 memprediksi jumlah orang yang menganggur secara global pada 2018 diperkirakan akan mencapai angka 204 juta jiwa dengan kenaikan tambahan 2,7 juta. Hampir sama dengan kondisi yang dialami negara barat, Indonesia juga diprediksi mengalami hal yang sama. Pengangguran juga masih menjadi tantangan bahkan cenderung menjadi ancaman. Tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Februari 2017 sebesar 5,33% atau 7,01 juta jiwa dari total 131,55 juta orang angkatan kerja (Sumber: BPS 2017).[9]

Mahasiswa

Apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa?, sebuah pertanyaan yang patut jadi perhatian kita semua, realitas kehidupan kampus yang kian milenial menjadikan mahasiswa sulit merekonstruksi dirinya, dikarenakan kreativitas yang belum matang serta kurang dalam hal minat baca.

Kemenresdikti menginstruksi kepada seluruh universitas mengevaluasi kembali kurikulum untuk mempersiapkan generasi mengahadapi Revolusi Industri 4.0. sudah beberapa universitas di Indonesia merekonstruksi kurikulumnya seperti menambahkan mata kuliah ekonomi digital. “Universitas Negeri Gorontalo akan melalukan evaluasi kurikulum di tahun 2019” ujar wakil dekan III Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo pada seminar nasional enterpreneurial mindset mengahadapi Revolus Industri 4.0.

Evaluasi kurikulum akan merambah kreativitas mahasiswa itu sendiri, apakah ia tetap berada di zona nyamannya ataukah beraflisiasi dengan kondisi yang ada. Sebab percuma juga mengevaluasi kurikulum tetapi mahasiswa tidak bisa mengevaluasi dirinya sendiri. Setiap tahunnya perguruan tinggi di Indonesia melahirkan ribuan sarjana begitupun sebaliknya setiap tahunnya ribuan bahkan puluhan ribu mahasiswa berbondong-bondong masuk perguruan tinggi.

Oleh sebab itu, kreativitaslah yang paling penting dalam menunjang kehidupan kita dimasa yang akan datang. Selain itu, diperlukan juga kesadaran akan tugas dan tanggung jawab mahasiswa itu sendiri. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri (QS. Ar-Ra’d:11). Ayat tersebut menyiratkan perlunya manusia berubah. Siapapun yang menolak perubahan pasti akan tertinggal karena perubahan adalah suatu keniscayaan. Perubahan dapat bersifat gradual, dapat pula bersifat sistematis. Salah satu bentuk perubahan yang paling nyata adalah globalisasi. Interaksi antarindividu, antarkomunitas, hingga antarbangsa terjadi dengan cepat. Para ahli menjelaskan perubahan sebagai dimensi waktu. Dunia terhubung hanya disekat oleh batas maya. Perubahan selalu memberikan tanda nyata dan memiliki jejak dalam kehidupan manusia. Perubahan dalam fase kehidupan manusia ditandai banyak hal, salah satunya adalah perubahan dalam era industri.

DAFTAR PUSTAKA

Edmon, A., & Oluiyi, A. (2014). Re-engineering technical vocational education and training toward safety practice skill needs of sawmill workers against workplace hazards in Nigeria [Versi elektronik]. Journal of Education and Practice, 5 (7), 150-157

Hermann, M., Pentek, T., & Otto, B. (2016). Design Principles for Industrie 4.0 Scenarios. Presented at the 49th Hawaiian International Conference on Systems Science.

Irianto, D. (2017). Industry 4.0; The Challenges of Tomorrow. Disampaikan pada Seminar Nasional Teknik Industri, Batu-Malang.

Reymond R. Tjandrawinata, Industri 4.0;Revolusi Industri Abad Ini Dan Pengaruhnya Pada Bidang Kesehatan Dan Bioteknologi, Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Dexa Medica Group, 02 Februari 2016

Tjandrawina, R.R. (2016). Industri 4.0: Revolusi industri abad ini dan pengaruhnya pada bidang kesehatan dan bioteknologi. Jurnal Medicinus, Vol 29, Nomor 1, Edisi April.

 

Catatan Kaki

[1] Reymond R. Tjandrawinata, Industri 4.0;Revolusi Industri Abad Ini Dan Pengaruhnya Pada Bidang Kesehatan Dan Bioteknologi, Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Dexa Medica Group, 02 Februari 2016, hal 1.

[2] Ibid, hal 1-2

[3] Herman Yahya, Era Industri 4.0;Tantangan Dan Peluang Perkembangan Pendidikan Kejuruan Di Indonesia, Pidato Pengukuhan Penerimaan Jabatan Professor Tetap dalam Bidang Ilmu Pendidikan Kejuruan Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar, disampaikan pada Sidang Terbuka Luar Biasa Senat Universitas Negeri Makassar Tanggal 14 Maret 2018

[4] Ibid, hal 2-3

[5] Ibid, hal 3-4

[6] Ibid, hal 4

[7] Ibid, hal 6

[8] Ibid

[9] Ibid, hal 9-10



Baca juga: Kehidupan Kampus di Era Moderen

Iklan