2
http://jurnal-jengki.blogspot.com

Memang pada dasarnya manusia hidup di dunia tidak akan dapat terpisah dari materi. Materilah yang menjawab semua kebutuhan biologis manusia. Dengan materi manusia berlomba-lomba memproduksi diri dalam segala bidangnya untuk meraup keuntungan atas dasar keperluan dan kebutuhan diri. tanpa materi manusia tak dapat hidup. Manusia menurut Spinosa, Goethe, Hegel dan Marx akan hidup hanya jika dia produktif, menguasaai dunia di luar dirinya dengan tindakan untuk mengekspresikan kekuasaan manusiawinya. Manusia yang tidak produktif adalah manusia yang resepsif dan pasif; dia tidak ada dan mati (Fromm, 2014:39). Mereka memandang materi sebagai subtansi kehidupan manusia dan justru materilah yang menjadi penyebab lahirnya sejarah penindasan manusia. Walaupun demikian, pendapat ini menuai kritik dari berbagai filsuf-filsuf terkemuka.

Ada beberapa sudut pandang materialisme terhadap manusia menurut Darwin Une dkk (2010: 28-29):

  • Manusia hanyalah merupakan sekepal tanah, dari bumi asal kejadiaannya, di bumi dia berjalan, dari bumi dia makan dan minum dan ke bumi dia kembali.
  • Manusia tidak lebih dari kumpulan daging, darah, tulang, urat-urat dan alat pencernaan, akal pikiran dianggap sebagai barang benda.
  • Manusia dianggap tidak ada keistimewaan dan hanya dapat disamakan dengan kera setelah melalui masa panjang berubah menjadi manusia seperti kita lihat sekarang ini. (teori evolusi/teori desedensi) berasal dari makhluk satu sel. Evolusi itu berlangsung setingkat demi setingkat membentuk sejuta jenis hewan dan sepertiga juta jenis tanaman. Binatang satu sel sebagai teori evolusi dan manusia akhir dari evolusi.

Muthahhari (2014) mengatakan penyebab tumbuhnya kecenderungan meterialis adalah ketidakharmonisan antara sistem spiritual batin dan etos moral seseorang serta pemikiran yang berkaitan dengan iman kepada Tuhan dan penyembahan kepada-Nya. Materialisme moral menurutnya adalah salah satu penyebab dari materialisme doktrinal. Meterialisme moral mengisyaratkan suatu keadaan yang di dalamnya kehidupan seseorang hampa akan cita-cita moral dan spiritual.

Peradaban material sekarang ini telah mampu mengatasi berbagai masalah kehidupan manusia untuk mengendalikan alam. Tetapi pada saat bersamaan peradaban material itu juga telah memuja dan mengembangkan falsafah yang tak pernah puas dalam kehidupan manusia, sehingga telah membuat manusia menjadihewan yang rakus. Siang dan malam pikirannya selalu di hantui dengan keinginan untuk terus meningkatkan produksi dan konsumsinya, dan tidak pernah berpikir hal lainnya. Materialisme dan perhatian yang berlebihan atas masalah-masalah ekonomi telah mengubah manusia menjadi seperangkat mesin. Dia selalu sibuk mencari harta penghidupan dan berusaha untuk lebih dan lebih mewah lagi. Situasi seperti itu telah menyebar luas saat ini, sehingga kehidupan sebagian besar manusia di abad modern ini sudah tak tersentuh oleh hal-hal lainyang lebih bermakna (Bahesti dan Bahonar. 1991: 13).

Ada saatnya ketika manusia menilai lebih kebebasannya, bahkan dia berkorban demi untuk meraihnya. Saat ini manusia menjadi budak produksi dan konsumsi dan meletakkan rasa cinta kebebasannya di atas altar dewa baru tersebut. Dengan semakin majunya peradaban material, kebutuhan mengkonsumsi manusia semakin meningkat dan cara untuk mendapatkan segala kebutuhan untuk semakin komplek sampai pada tingkat dimana banyak orang yang mau mengorbankan keberadaan fisik dan moralnya untuk mencapai tujuan tersebut (1991, 13-14).

Dalam keadaan masyarakat materialisme seperti sekarang ini, seluruh nilai-nilai luhur kemanusiaan tersingkir. Bahwa nilai-nilai moral hanya dinilai dari sudut material belaka. Di sebagian besar dunia, infastruktur nyata pendidikan dan pengajaran hanya untuk mencapai tujuan ekonomis dan material belaka. Tujuan yang sebenarnya dari berbagai rancangan pendidikan dan program pengajaran hanyalah untuk menghasilkan manusia yang mampu melipatgandakan nilai tambah ekonomi untuk kantung orang lain atau mungkin untuk saku kantungnya sendiri. Moto setiap orang, dari gelandangan sampai elit, adalah “raihlah keuntungan ekonomi dan kesenangan materi selanjutnya”. Yang terjerumus ke dalam situasi ini tak terkecuali kaum teknorat, kaum intelektual, para politisi dan penulis. Bahkan sebagian diantara mereka yang mencurahkan diri dalam penggalian nilai-nilai luhur spiritual terpengaruh oleh daya pesona ekonomi dan materi. Pekerjaan penyebaran agama dilakukan hanya untuk mendapatkan bayaran materi dan kekayaan. Situasi seperti ini merupakan akibat yang wajar dan tak terelakan lagi dari beragam falsafah materialisme yang dianut dalam abad modern ini.

Siang dan malam, telinga manusia selau dibisikan bahwa ia tidak lebih dari sekedar hewan ekonomi dan bahwa kekayaan dan prospek ekonomi merupakan kriteria tunggal nasib baik dan tanda kemajuan suatu bangsa, kelompok atau kelas. Bisikan itu terus berdengung dalam benak setiap orang, dan bahwa uang merupakan kekuatan maha besar yang bisa menyelesaikan semua masalah. Dimana-mana selalu ada pembicaraan tentang timbunan uang-uang yang di peroleh secara kebetulan maupun hasil korupsi yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung dan dihabiskannya untuk memuaskan hasrat hewaninya yang paling rendah. Dalam situasi seperti itu, tidaklah mengejutkan bila ada manusia atau semi-manusiamodern yang telah menjelma menjadi hewan yang rakus, terus terbius untukmencari uang dari manapun sumbernya, dan menghabiskannya untuk hal paling memuaskannya. Mereka menjadi budak-budakproduksi dan konsumsi. Kehidupan mereka secara total telah terlepas dari nilai-nilai yang lebih luhur, dan cenderung mengarah pada vulgaritas dan degradasi.

Perilaku materialis ini, mengubah keyakinan dan perilaku yang akan menundukan iman seseorang, melupakan nilai spiritualitas yang akibatnya hidup hanya dalam kesia-siaan.

Pustaka

  • Bahesti dan Bahonar. 1991. Dasar Pemikiran Filsafat Islam dalam Al-Quran. Buku Pertama. Jakarta: Risalah Masa
  • Fromm, Erich. 2014. Konsep Manusia Menurut Marx. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Muthahhari, Murtadha. 2014. Filsafat Materialisme; Kritik Filsafat Islam Tentang Tuhan, Sejarah dan Konsep tentang Sosial Politik. Yogyakarta: RausyanFikr Institute
  • Une, Darwin, Bahsoan, Agil, & D. Katili, Lukman. 2010. Pendidikan Agama Islam. Gorontalo: Akasyah

Tidore, 27 Desember 2018

Iklan